Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 50 : Semoga berjauhan dengan ku menyakitkan


__ADS_3

Setelah kejadian di kantor tadi pagi Selin semakin benci dan malas untuk bertemu dengan Bara. Alhasil saat ini dia hanya berdiam diri di dalam mobil, saat kedua anaknya sedang latihan di dalam GOR.


"Wanita picik?! Hahaha yang benar saja." Gumam Selin sambil membentur-benturkan kepalanya pada kemudi. Sejak tadi perkataan Kania yang mengatainya Wanita Picik selalu terngiang-ngiang di pendengarannya.


Selin rasanya marah saat menyadari jika akhir-akhir ini sikapnya pada Bara sudah semakin membaik, sebenarnya dimana letak harga dirinya yang begitu mudah di dekati oleh seseorang yang sudah sangat menyakitinya. "Dasar Wanita bodoh! Dasar wanita bodoh! Dasar Wanita murahan! Dasar Bodoh!" Gumam Selin terus menghina dirinya sendiri tanpa henti.


Setelah merasa puas menghina dirinya sendiri, Selin menoleh ke arah jam di tangannya yang ternyata sudah semakin sore. Tapi kedua anaknya masih belum keluar juga, akhirnya Selin memutuskan untuk mengajak Juna dan Jeno untuk pulang dan latihannya bisa dilanjutkan lain hari.


Selin berjalan lemas memasuki ruangan, suara Juna dan Jeno terdengar olehnya dan entah kenapa berhasil membuat mood nya lebih membaik. Selin merebahkan pantatnya di tempat duduk lalu memperhatikan kedua anaknya yang sedang dilatih oleh Bara.


"Kenapa sejauh apa pun aku berusaha, aku selalu terlibat dengan pria bodoh itu. Kenapa aku mudah sekali luluh dengan tatapan dan kebaikan palsu dari pria brengsek itu, kenapa hati bodoh ku malah menghangat melihatnya bersama kedua anak ku. Dasar wanita bodoh, dasar wanita bodoh. Kamu sangat bodoh nyaris Tolol Selin! Kenapa kamu sangat gampangan!" Hardik Selin pada dirinya sendiri dengan kepala yang dibenamkan di tumpukan tangan pangkuannya.


"Tenang Selin hanya satu minggu, setelah ini selesai kamu bisa menjauhkan dirimu dan kedua anakmu dari jeratan Bara yang begitu tidak tahu diri. Ucap Selin masih sibuk berargumen dengan batinnya sendiri.


"Ndaaa," Panggilan Jeno mengalihkan Selin dari lamunannya.


Dengan perlahan Selin mengangkat pandangannya dan menatap kedua anaknya dengan penuh ketenangannya. Selin tersenyum hangat kemudian menarik tangan kedua anaknya untuk dipeluknya. Di dalam hati Selin bertekad jika tidak akan ada lagi manusia yang membicarakan kedua anaknya dengan ucapan yang tidak pantas seperti yang Kania tadi katakan.


"Bunda akan berusaha memberikan yang terbaik dan selalu melindungi kalian." Gumam Selin dengan pandangan yang sedikit berkaca-kaca.


Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Selin tidak bisa mengontrol tenaganya. "Bunda... Kita sesak nafas!" Ucap Juna saat Selin semakin mengeratkan pelukannya pada Juna dan Jeno.


Selin tersentak dari lamunannya kemudian melerai pekukannya "Hehehe, aduh maaf ya. Ayo kalian ganti baju dulu lalu kita pulang, oke?"

__ADS_1


Juna dan Jeno mengangguk paham. "Oke." Tanpa menunggu lama lagi mereka langsung berlarian ke ruangan ganti dengan penuh semangat.


Dari kejauhan Bara menatap nanar ke arah wanita yang tadi pergi begitu saja tanpa sepatah kata apapun. Tadi pagi sejak Kania pergi, Selin pergi begitu saja dengan sikap dinginnya. Bara berjalan perlahan ke arah Selin dengan sedikit ragu. "Sel," Panggil Bara lirih.


Selin tidak terusik dengan kehadiran Bara dan bangkit untuk keluar gedung.


"Sel kamu marah, maafkan aku. Aku nggak tahu kalo Kania akan datang dan berbicara seperti itu." Ucap Bara sambil berjalan mundur tepat di hadapan Selin yang hanya diam seribu bahasa.


Selin mengabaikan Bara dan masih melanjutkan langkahnya tanpa terusik sedikitpun. "Sel, aku mohon jangan diamkan aku seperti ini. Aku nggak sanggup," Bara masih berusaha mengajak ngobrol Selin.


Selin hanya tersenyum kecut dan tidak ada niatan untuk membalas ucapan Bara. Niatnya sudah bulat untuk menjauhi Bara dana membencinya seperti dulu, berada di dekat Bara dan jatuh oleh rayuan busuk Bara hanya akan menghancurkan hatinya lagi, saat ini hati Selin sudah kembali utuh dan dia tidak ingin Bara akan merusaknya kembali.


"Sel aku mohon, jangan diam seperti ini. Aku tidak akan membiarkanmu pulang sampai kamu mengobrol dengan ku," Bara membentangkan kedua tangannya agar Selin tidak bisa melangkah lebih jauh lagi.


"Pulanglah kalo kamu bisa," Ucap Bara penuh tantangan.


Selin menatap tajam ke arah Bara, tangannya terulur untuk menarik tangan Bara kemudian tubuhnya memutar dan dengan kekuatan tinggi dia membalikan tubuh Bara hingga terpenting dan membentur matras dengan dengan posisi terlentang. Bruuk! Suara tubuh Bara bertabrakan dengan matras.


"Aku tidak ada waktu untuk membalas guyonan mu yang tidak berkualitas itu, ingat aku tidak ada urusan apapun dengan mu. Jangan merusak hidup ku yang sudah bahagia ini, aku mohon!" Bisik Selin lirih tepat di telinga Bara kemudian bersiap beranjak.


Grep! Bara dengan sigap bangun dan meraih tangan Selin agar tidak pergi. "Benarkah aku tidak diberi kesempatan?" Tanya Bara dengan tatapan lurus ke arah Selin.


Selin menghela nafasnya panjang kemudian membalas tatapan Bara, karena tidak ingin suaranya di dengar oleh Juna dan Jeno akhirnya dia memilih duduk di hadapan Bara. "Aku tidak akan pernah memberikan kesempatan kedua pada orang yang telah menyakiti ku dengan hebat. Jadi berhentilah mendekati ku."

__ADS_1


Bara melihat raut putus asa dari kedua bola mata Selin. "Apa berada di dekat ku sangat menyakitkan itu sampai-sampai tidak bisa melupakan masa lalu?"


"Ya.. Aku tidak pernah bahagia berdekatan dengan mu. Aku sudah lelah meminta mu menjauhi ku. Jika kamu benar-benar menyayangiku dan tidak ingin melihatku hancur tolong tinggalkan aku lagi seperti dulu." Jawab Selin yang berhasil membuat nafas Bara tercekat.


"Sel.. Kenapa kamu selalu berbohong. Jelas-jelas kamu masih menyukai ku, tolong dengarkan kata hati mu Sel. Aku mohon," Bara tahu saat ini Selin sedang membohongi hatinya.


Selin tersenyum kecut. "Kamu ingin tahu apa isi hatiku? Dia terus-terusan menghina ku karena dengan mudahnya menerima orang yang sudah menghancurkan hidup ku berkeping-keping. Jadi mohon, aku tidak ingin terus-terusan berdebat dengan hati ku sendiri. Aku ingin tenang, jadi tolong lepaskan aku."


Bara memejamkan kedua matanya sejenak kemudian kembali menatap Selin. "Kamu serius?"


Selin mengangguk dengan lidahnya yang berubah kelu. "Yaa!" Jawab Selin singkat dengan tangis yang sedang berusaha ia tahan.


"Baiklah, jika berada jauh dari ku membuat mu bahagia. Aku akan berusaha," Bara mengangguk kemudian melepaskan genggamannya di tangan Selin.


"Selamat tinggal, Si kembar akan pulang dengan ku. Tenangkan saja dirimu lebih dulu." Bisik Bara kemudian menepuk-nepuk bahu Selin.


Bara bangkit dari duduknya lalu merapihkan bajunya. "Semoga berjauhan dari ku lebih menyakitkan dibanding masa lalu kita, sampai-sampai kamu memaafkan ku dan kembali lagi ke pelukan ku Selin. Asalkan kamu tahu, aku masih sangat mencintai mu." Gumam Bara kemudian berjalan pergi meninggalkan Selin yang masih termenung.


"Hiks, hiks, hiks..." Selepas kepergian Bara, Selin terisak seorang diri meratapi kisah hidupnya yang terlalu rumit dan menyesakkan. "Ini keputusan yang tepat Selin," Gumam Selin meyakinkan dirinya sendiri.


******


Happy Reading!

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2