Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 56 : Akhir dari Masa lalu?


__ADS_3

Selin menggeliat bangun dari tidurnya saat udara pagi hari semakin membuatnya kedinginan. Perlahan kedua matanya terbuka dan di suguhi oleh pemandangan alam yang luar biasa. "Apa ini mimpi?" Gumamnya lirih karena tidak mungkin di pagi buta dia sudah ada di pinggir pantai sambil melihat Sun Rise yang begitu indah.


Selin mengedip-ngedipkan matanya merasa takjub dengan hamparan laut yang begitu indah berpadu dengan langit jingga karena sang mentari sedang malu-malu untuk keluar.


"Nggak mimpi, ini nyata." Ucap seseorang yang berhasil membuat Selin membeku. Selin memperhatikan sekelilingnya dan menengadah ke arah Bara yang sedang duduk dan menjadi bantalan tidurnya.


Kedua bola mata Selin membulat sempurna, pandangannya jatuh pada kemeja yang membungkus kakinya "Jangan bilang aku tidur di atas pasir dan paha kamu jadi bantalnya." Ucap Selin tidak percaya.


Bara terkekeh sambil mengangkat bahunya acuh. "Ya mau gimana lagi, itu kenyataannya." Ucapnya dengan tampang tengil seperti biasa.


Mulut Selin menganga syok. "Ya ampun Bar, kamu pasti kuat kan bopong aku ke penginapan atau yaudah bangunin aku aja. Eh tapi... Kenapa aku ada disini?" Selin menggaruk tengkuknya berusaha mengingat-ingat kejadian semalam yang hilang begitu saja dari otaknya.


Bara membuang pandangannya kemudian menghela nafas panjang. "Kamu lupa kejadian tadi malam?" Tanya Bara penuh selidik.


"Emang tadi malam ada apa?" Selin membalas tatapan Bara dengan tanda tanya besar.


"Entahlah," Bara menggeleng pelan dan tersenyum kecut.


"Liat ke sana.. Indah nggak?" Malas untuk membahas lebih lanjut, Bara memegang bahu Selin dan mengarahkannya ke arah matahari yang sebentar lagi muncul.


"Waaw!" Selin bangun dari tidurnya kemudian duduk di samping Bara.


Bara terkekeh kemudian menggeliat menormalkan otot-ototnya yang terasa kaku, karena sepanjang malam dia duduk tanpa bergerak sedikit pun. "Ada apa?" Tanya Bara saat merasakan tatapan iba Selin.


"Pasti kamu pegel ya, sepanjang malam duduk di sini. Mana cuaca dingin lagi, Sini aku pijitin." Ucap Selin sambil duduk dengan kaki bersilang, kemudian menepuk-nepuk pantai agar Bara telungkup di depannya.


Bara tidak banyak protes, toh lumayan juga dia mendapatkan pijat gratis di pagi hari. "Kamu kan mau pergi, harunya jangan kelelahan. Kan udara malam nggak baik, lain kali harus jaga kesehatan. Katanya mau umur panjang," Celetuk Selin yang berhasil menerbitkan senyuman hangat di wajah Bara.


Bara menutup matanya dan menikmati pijitan Selin yang sedikit meringankan tubuhnya yang pegal. "Iya-iya Nona. Anggap saja sebuah perpisahan, sebelum aku pergi."


Plak! Selin menampar punggung Bara kesal. "Perpisahan! Perpisahan! Jangan ngomong gitu ah, kaya yang nggak bakal ketemu lagi aja." Ucap Selin kesal.


Bara terkekeh kemudian bangkit dan duduk bersila dj hadapan Selin. "Sel.." Panggilnya lirih.

__ADS_1


"Hmmm," Selin mengangkat pandangannya kemudian bergumam sebagai jawaban.


"Kamu sadar nggak sih.."


Kedua alis Selin bertaut. "Sadar apa?" Tanya nya tidak mengerti.


"Setiap kali kita bertengkar hebat, dan meyakinkan satu sama lain untuk saling membenci atau nggak saling kenal. Kita malah selalu dipersatukan, seolah-olah kita emang nggak mampu saling membenci satu sama lain." Ucap Bara dengan tatapan sendu nya.


Selin terkekeh kemudian menghela nafasnya panjang. "Hmmm... Aku bukannya berharap kita saling membenci, tapi setidaknya pura-pura nggak kenal atau ya selayaknya orang lain pada umumnya, sebutuhnya saja."


"Oh seperti itu," Bara mengangguk-angguk sambil tersenyum kecut.


"Hmmm," Selin bergumam pasrah.


"Andai masa lalu kita nggak pernah terjadi, kamu bakal tetep nolak kehadiran ku atau nggak?" Tanya Bara serius yang berhasil membuat Selin mematung.


Selin hanya menghela nafasnya panjang dan tidak berniat untuk menjawab. Karena dia pun tidak tahu jawaban apa yang harus diucapkannya.


Bara menatap Selin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Selamat tinggal, dari Bara Kenzo Julian yang dulu sangat pengecut dan tidak bisa melindungi mu, dari dia yang sudah menghancurkan mu berkeping-keping." Ucapnya kemudian beranjak meninggalkan Selin begitu saja.


******


Setelah kejadian di pantai tadi, tidak lama dari itu mereka langsung diantar Bara untuk pulang. Selin masih ingat, kedua anaknya menangis saat Bara berpamitan untuk pergi. Sebuah pemandangan yang berhasil membuat hati Selin terasa begitu sesak. Saat ini Selin sudah berada di bandara untuk mengantar kepergian Bara dengan rekan kerjanya yang lain. Tapi dia masih sibuk melamun dan enggan keluar dari mobil.


Tuk! Tuk! Tuk!


Selin tersentak dari lamunannya kemudian menoleh ke arah jendela mobil yang menampilkan wajah Syakila.


"Sel?" Panggil Syakila meminta jawaban.


"Eh," Gumam Selin lirih kemudian menurunkan kaca mobilnya.


"Ayo cepetan keluar, yang lain udah pada ngumpul. Sebentar lagi Pak Bara pergi." Ajak Syakila yang langsung diangguki oleh Selin.

__ADS_1


"Oke, wait!" Selin mengambil tasnya kemudian keluar untuk menyusul Syakila.


Dari kejauhan Selin sudah melihat segerombolan rekan kerjanya yang sudah siap mengantar kepergian Bara. Sebenarnya terbesit kata lebay dari hati Selin saat mengetahui Bara begitu ingin diantar oleh karyawannya, padahal dia bisa pergi begitu saja tanpa harus merepotkan karyawan yang lain.


"Dari mana aja kamu Sel, jangan-jangan nangis sesenggukan di pojokan."


"Ish, nggak lah kak." Jawab Selin sambil terkekeh geli.


"Pak Bara sudah mau datang,"


Benar saja tidak lama dari itu Selin bisa melihat sesosok pria tampar dengan kaca mata bertengger di wajahnya sedang berjalan ke arah mereka, tentunya dengan abdi dalem yang begitu setia siapa lagi jika bukan Raka.


"Selamat Sore Pak, Semoga perjalanan nya lancar." Ucap salah seorang karyawan.


Bara hanya tersenyum kemudian menjabat karyawannya satu persatu. "Terimakasih sudah datang, tolong jaga perusahaan ya." Ucap Bara secara berulang-ulang saat berjabatan dengan para karyawannya.


Dan sekarang giliran Selin, entah kenapa pandangan Selin berubah berkaca-kaca dengan susah payah Selin menahan air matanya agar tidak keluar kemudian mengulurkan tangannya pada Bara.


Bara menjabat tangan Selin, "Terimakasih sudah datang, tolong jaga perusahaan ya." Ucapnya yang begitu terasa asing di dengar oleh Selin.


Saat semua sudah berpamitan Bara dan Raka berjalan pamitan untuk segera berangkat, mereka mengangguk kemudian beranjak untuk bubar dan pergi. Saat yang lain sudah bubar Selin masih mematung di tempatnya dan memperhatikan punggung Bara yang semakin jauh darinya.


"Huuuh," Selin menghela nafasnya panjang kemudian berbalik untuk pergi.


Drrtt.. Drrttt.. Drrtt.. Langkah Selin terhenti kemudian membuka tasnya untuk mengambil ponsel. Selin sedikit membeku saat melihat nama yang tertampil di layarnya adalah Bara. Dengan perasaan sendu Selin mengangkat panggilan Bara kemudian mendekatkan ponselnya ke telinga.


Hening! Belum ada yang memulai percakapan. Selin hanya bisa mendengar helaan nafas panjang dari sebrang sana.


"Saat bertemu kembali," Ucap Bara tertahan yang berhasil air mata yang sejak tadi Selin tahan keluar begitu saja. Selin berbalik dengan tatapan ke arah Bara yang ternyata sekarang sedang menatapnya dari kejauhan.


"Apa kita bisa bilang "Apa kabar?" Satu sama lain?.... Atau mungkin "Bagaimana kabar mu saat ini?".... "Apa selama ini kamu menderita?"... Atau "Apakah kamu sangat merindukan ku?" Apakah kita bisa seperti itu Selin?"


Selin hanya membeku di tempat dengan air mata yang semakin membasahi wajahnya. Tidak lama dari itu sambungan telpon terputus dan Bara kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Alasan kita berpisah.. Bukan karena kita sudah tidak saling mencintai.. Tapi karena kita salah paham tentang arti kebahagiaan satu sama lain.. Kita terlalu percaya diri sudah mengenal satu sama lain padahal kenyataannya tidak... Kemudian mengambil jalan yang salah dan akhirnya membuat semua orang menderita..." Gumam Selin kemudian berbalik untuk melanjutkan langkahnya.


*****


__ADS_2