
Setelah selesai mengantarkan si kembar ke sekolahnya, Bara membuka pintu kamar Selin untuk mengecek apakah wanita itu sudah bangun atau belum. Persis seperti perkiraannya, Selin memang belum bangun. Dia masih terpejam dengan tenang di atas tempat tidur
Bara terkekeh kemudian duduk berselonjoran di bawah kasur, sambil bertumpang dagu dengan tatapan asik memperhatikan wajah damai Selin. Kantuk mulai mendatangi Bara, dengan perlahan matanya terpejam dengan posisi duduk dan kepala yang diletakan di atas kasur.
"Hoooaaam!" Selin menguap saat kesadarannya sudah kepala.
"Aduh," Dia mendesis saat merasakan kepalanya yang terasa sakit, dengan pelan Selin memijat pelipisnya yang terasa pening.
Saat hendak bangun dia terlonjak saat menyadari ternyata ada bAra yang sedang tertidur di sampingnya. Dia sedikit mematung bertanya-tanya kenapa ada Bara di rumahnya dan kenapa dia menggunakan baju seperti. Saat semuanya sudah teringat Selin hanya menghela nafas panjang.
"Tapi kenapa aku lupa semalam bagaimana aku pulang?" Gumamnya sambil mengingat-ingat.
Belum lama Bara tertidur, perlahan matanya mulai terbuka kembali karena mendengar suara Selin. "Udah bangun?" Tanya Bara parau.
Selin mengangguk kemudian membaringkan tubuhnya kembali sambil menghadap ke arah Bara. Melihat hal itu, Bara terkekeh dengan tangan yang terulur untuk mengelus rambut Selin.
"Ayo turun, aku udah siapin sup buat kamu." Ajak Bara.
"Oke.. Aku mau ke kamar mandi dulu."
"Oke aku tunggu di bawah," Bara bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar Selin.
Setelah selang beberapa menit terdengar langkah Selin menuruni tangga. "Juna dan Jeno kemana? Kenapa kamu ada disini? Kemana si Mbak?" Tanya Selin kemudian duduk di meja makan.
Tanpa menoleh dan sibuk memanaskan sop Bara menjawab. "Dia aku suruh libur dulu. Kalo Juna sama Jeno aku udah antar ke sekolah."
"Eh sembarangan liburin orang seenaknya.. Kalo si Mbak libur siapa yang siapin mereka bekal ke sekolah. Aku mau masak dulu .. Aduhh.." Pekik Selin saat berniat bangun tapi kepalanya terasa pusing.
Bara menghela nafas kemudian menghampiri Selin dengan gelas di tangannya. "Ini minum dulu tuan putri biar kepalanya nggak sakit. Udah kamu tenang aja, tadi aku udah masak buat mereka di jamin enak."
Selin mengangguk dengan perasaan kurang yakin. "Huuuh syukurlah."
"Jangan kemana-mana. Aku mau lanjutin dulu masak sup buat kamu." Ucap Bara tegas kemudian berjalan menghampiri kompor.
Selin memanglah Selin, dia samasekali tidak menggubris perintah Bara dan malah bangun dari tempa duduknya.
Greb!
Bara sedikit terlonjak saat tiba-tiba tubuhnya di peluk dari belakang. "Eh!"
Selin memeluk Bara penuh rasa terimakasih kemudian bersandar di punggung Bara dengan penuh kenyamanan. "Makasih banyak ya.. Maafin udah ngerepotin kamu." Ucap Selin dengan senyuman hangat menghiasi wajahnya.
Bara terkekeh kemudian mematikan kompornya dan langsung berbalik untuk membalas pelukan Selin. Tangannya terulur untuk mengelus kepala Selin penuh kasih sayang.
"Nggak usah bilang makasih kaya ke siapa aja." Ucap Bara.
"Hehehe.." Selin terkekeh sendiri.
Bara menunduk memperhatikan pucuk kepala Selin. "Kamu inget apa yang terjadi semalam?"
"Hmmm.. Maafin aku.. Aku maluu.."
__ADS_1
"Mana wajah malunya coba liat.."
"Isshh.. Diem nggak mau.."
"Yah jangan di tutup dong.."
"Ihh Bar jangan di tarik.."
"Nah sekarangkan udah keliatan muka cantiknya.."
"Ihh apaaan siih.."
"Sini.."
"Karena kamu nyusahin aku.. Aku sentil ya dahi kamu.."
"Hmmm.."
"Jangan kenceng-kenceng.."
Bara terkekeh kemudian mendaratkan kecupan di dahi Selin penuh kasih sayang. "Good Morning Baby," Bisik Bara yang berhasil membuat mata Selin terbuka lebar.
*****
Saat Bara sedang asik-asiknya dengan Selin, di tempat lain Raka sedang menghela nafas karena bosa di acara pernikahan salah satu temannya. Tanpa di sengaja pandangannya jatuh pada seorang wanita cantik yang sedang menggunakan kebaya seperti dikenalnya.
Raka menautkan alisnya berusaha mengenali orang yang sedang berjalan ke ruangan pengantin. "Anet?!" Pekik Raka tidak percaya jika Anet bisa berdandan seperti iti, dan apa tadi?. Raka menganggap Anet cantik, oh yang benar saja.
Raka langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan dengan tergesa untuk memperingatkan wanita Bar-bar itu.
Greb!
Dengan sigap Raka mencekal tangan Anet yang sedang berjalan. Anet menoleh dan langsung menatap Raka dengan tatapan tajam dan tidak bersahabat.
"Lo?! Ngapain pegang-pegang." Tanya Anet dengan suara yang meninggi sarat akan permusuhan.
"Hosh! Hosh!. Kamu mau ngapain ke kamar pengantin yang lagi di rias,"
"Sejak kapan lo se kepo itu?! Lepas jangan ganggu gue, gue nggak ada waktu."
"Net! Net! Lo jangan gila deh, ngerusak pernikahan orang lain."
"Ahahahaha, kocak ya lo. Sekenal apa sih lo sama gue sampe-sampe bisa so tau kayak bocah! Minggir lo!" Ucap Anet sambil menghentakkan tangannya dari genggaman Raka.
Raka menghela nafas panjang dengan tatapan ke arah Anet yang sedang berjalan menjauhinya. Walaupun sudah di larang Raka tetap penasaran dan takut jika
Anet melakukan hal-hal aneh. Akhirnya dia memutuskan untuk tetap mengekor di belakang wanita bar-bar itu.
Anet berjalan sesantai mungkin, dia berdiam sejenak saat hendak membuka pintu ruangan khias pengantin wanita. "Haaah.." Dia menghela nafas panjang kemudian membuka pintu.
Cklek!
__ADS_1
"Anet?!!" Maya yang sedang di menutup mulutnya tidak percaya dengan perasaan was-was.
"Kenapa kaget gitu kaya liat hantu?" Anet terkekeh melihat wajah perebut calon suamiya itu yang terlihat pucat pasi.
"Net!!"
Anet berjalan santai mengitari Maya yang sedang ketakutan. "Jangan kaget kaya gitu dong, gue udah dandan cantik-cantik ke sini masa lo anggap serem. Gue ke singgung tau."
"Tolong keluar sebentar," Ucap Maya pada perias.
"Cantik banget sih," Tangan Anet terulur menyentuh wajah Maya lembut.
Anet terkekeh saat merasakan tubuh Maya yang menegang. "Santai aja jangan tegang gitu, gue cuma mau ngasih kado ke mantan sahabat gue yang udah ngerebut calon suami orang."
"Gue penasaran aja segimana cantiknya lo sampai-sampai dia berkhianat sama gue."
"Lo tenang aja, gue udah punya pacar. Dan pengen liat mantan sahabat sama mantan pacar gue nikah. Aneh banget kan kalo gue nggak hadir?"
Brak!!
Pintu terbuka dan menampilkan Mario yang terlihat ngos-ngosan.
"Anet! Apa yang kamu lakukan disini?" Ucapnya dan langsung menarik Maya agar berdiri di sampingnya.
Dengan anggun Anet melipat kedua tangannya. "Pakek nanya, ya mau ngucapin selamat menempuh hidup Baru untuk kalian. Walaupun kalian nggak ada akhlak, kalian tetep pernah hadir di hidup gue dan nggak etis rasanya kalo gue nggak hadir."
"Santai aja.. Gue udah punya pacar ko. Jagain bini lo baik-baik sama anak yang ada di kandungan dia."
Terlihat raut frustasi dari wajahMario yang begitu keteta. "Net aku mohon jangan rusak acara ini, aku tau kamu belum move on tapi-"
"Lo-" Sanggah Anet.
"Sayang.. Kenapa lama?"
Anet langsung mematung saat merasakan ada sebuah tangan yang merangkul pinggangnya.
"Raka?" Ucap Mario lirih dengan perasaan tidak rela.
Raka mengedipkan matanya ke Anet yang masih mematung. "Eh HWD bro! Kenalin pacar gue Anet, kalian udah saling kenal kan ya?" Raka dengan santai menepuk-nepuk bahu Mario dengan tangan yang masih bertengger di pinggang Anet mesra.
Dengan terpaksa Anet menyunggingkan senyum penuh kemenangan. "Maafin pacar gue yang kadang suka bar-bar ya, doain semoga kita cepet nyusul."
"Ehh.. Iaa.." Cicit Mario yang masih kaget.
"Ayo sayang, kamu belum makan kan? Yu makan dulu," Anet langsung mengangguk kemudian berjinjit untuk mencium bibir Raka sekilas.
"Kita permisi dulu ya.." Ucap Anet penuh kemenangan dan meninggalkan Mario yang sedang mengepalkan tangannya.
"Gila! Kenapa jadi gue yang di prank! Dasar wanita bar-bar!" Gumam Raka dengan pandangan kosong.
******
__ADS_1
Aduh Raka makanya jangan maen-maen kalo sama Anet.