
Setelah di telpon oleh Selin, Anet memijat pelipisnya yang terasa pening. Walaupun berulang kali dia mengatakan kepada Selin untuk tenang tapi tetap saja sebenarnya Anet ikut emosi sekaligus bingung, hal apa yang harus ia lakukan agar bisa menolong Selin. Karena dia sudah yakin, pasti saat ini Selin sedang disudutkan oleh semua pihak.
"Gue nggak boleh diem aja," Gumam Anet dan langsung meraih ponselnya untuk menghubungi si kembar.
Anet membuka group WA nya bersama si kembar.
[Paus Entertainment]
"Pengumuman, untuk member agensiku yang terhormat. Kakak ada urusan, setelah pulang kalian mampir saja ke kedai kopi atau kue, nanti Kaka jemput. Bye Bye!"
"Kirim!" Teriak Anet sambil mengusap tombol kirim.
Anet beranjak dari duduknya lalu menyambar jaket dan kunci mobil dengan tergesa-gesa. Dia mengendari mobil dengan kecepatan tinggi, nyaris seperti pembalap mobil yang takut di dahului oleh lawannya.
Saat ini Anet berniat untuk menghampiri Raka di rumah sakit, untung semalam Anet sempat menanyakan dimana Bara di rawat kepada Selin. Jadi dia tidak usah susah payah menebak-nebak keberadaan Bara saat ini.
Blam! Anet menutup pintu dengan tergesa kemudian bergegas ke dalam rumah sakit. Setelah mengetahui dimana Bara di rawat, tanpa menunggu persetujuan siapapun dia langsung datang ke ruangan Bara.
Brak! Anet membuka pintu dengan keras, masa bodoh dengan norma kesopanan. Saat ini dia ingin cepat-cepat membantu Selin keluar dari situasi yang menyudutkannya.
Mendengar pintu terbuka perlahan Bara membuka matanya dengan kepala yang terasa pening, ternyata yang masuk adalah Anet. "Anet?" Ucap Bara saat Anet berjalan masuk ke dalam ruangan.
Tuk! Tuk! Tuk! Anet mengabaikan panggilan Bara dan berjalan menghampiri Raka yang sedang sibuk dengan laptop di hadapannya. Brak! Dia menggebrak meja dengan amarah yang sudah menggebu-gebu.
Merasa ada yang mengganggu Raka membuka earphone kemudian mendongak untuk melihat siapa yang sudah berani mengganggunya. "Apa yang anda lakukan?" Tanya Raka dingin.
Grep! Anet menarik kerah baju Raka. "Dimana otak waras lo sebagai pria! Beraninya lo interogasi Selin saat lo tau kalo dia orang yang udah menyelamatkan majikan bodoh lo itu!" Raka dan Bara langsung saling bertatapan penuh keheranan. Mereka samasekali tidak tahu siapa yang sudah melaporkan kejadian itu pada polisi, bahkan mereka sengaja tidak memberitahu orang lain agar tidak terjadi keributan.
Raka menatap malas kerah yang di tarik oleh wanita bar-bar di hadapannya, sebenarnya jika mau dia bisa dengan mudah melepaskan genggaman di kerah bajunya. Tapi dia lebih memilih diam kemudian memperhatikan wanita dihadapannya yang sangat tidak sopan, entah itu dari penampilan maupun kewarasannya sebagai wanita. Apalagi penampilannya berhasil membuat Raka menggelengkan kepala, rambut di cepol acak-acakan, celana jeans selutut, baju kemeja yang dijadikan kardigan, serta sepatu warrior yang sedikit lusuh yang ia gunakan. Persis seperti anak ABG labil yang sedang nakal-nakal nya.
"Kenapa diem aja?!" Tanya Anet karena Raka hanya diam memperhatikannya.
Raka menarik tangan Anet dari kerah bajunya kemudian merapihkan penampilannya. "Maaf Nona sepertinya anda salah paham, saya maupun Pak Bara tidak pernah menghubungi siapapun tentang kejadian ini, bahkan keluarganya tidak ada yang tahu. Anda juga bisa lihat bukan sekarang saya sedang memeriksa kamera CCTV?!!"
"Alah berisik! Tapi yang terjadi di kantor lo beda sama yang lo ucapkan. Mendingan sekarang lo ikut gue!"
Raka menoleh ke arah Bara meminta persetujuan. "Pergi Ka, liat kondisi kantor siapa yang udah berani mengacak-acak perusahaan kita." Ucap Bara memberi persetujuan.
Raka mengangguk paham kemudian bergegas memasukan barang-barangnya ke dalam ransel miliknya. Grep! Raka terhenyak saat tiba-tiba Anet menarik tangannya kencang untuk berlari. Untung saja semua barang-barangnya sudah masuk semua, kalo tidak bisa-bisa ia repot sendiri.
__ADS_1
Saat sedang berlarian Raka melirik tangannya yang digenggam erat oleh Anet, dia tidak menyangka tubuh sekecil itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bats! Raka menghentakkan tangannya dari genggaman wanita itu. Anet mematung lalu menoleh sinis ke arah Raka, dia sudah bersiap untuk mengeluarkan umpatannya. Tapi baru saja dia akan membuka mulut, Anet langsung tertegun saat Raka gantian menggenggam tangannya. Grep! "Ayo!" Ucap Raka dingin kemudian bergegas kembali.
******
Selin memejamkan matanya penuh kebingungan jawaban apa yang haru dia lontarkan agar tidak memunculkan keributan di kemudian hari. Selin hanya termenung dengan pikiran kosongnya.
"Saudara Selin?" Panggil Polisi itu karena selin tidak kunjung menjawab.
Selin menghela nafas berat "Sa saya.."
Polisi itu semakin tidak sabar menunggu jawaban Selin. "Iyaa??"
"Sa.. Saya.." Keringat dingin mulai bermunculan membasahi dahi Selin yang terasa kegerahan.
Selin meremas rok nya mengumpulkan keberanian. "Sa saya.. Mantan.."
Braak! Pintu terbuka menampilkan Raka yang menatap dingin ke arah Selin dan beberapa Polisi yang sedang mewawancarai Selin.
"Pak Raka?" Ucap Selin berkaca-kaca.
Raka menoleh ke arah Selin kemudian duduk di sampingnya, "Silahkan interogasi saya juga," Ucap Raka dingin dan berhasil mengintimidasi semua orang di sampingnya.
*****
Selin menghela nafas lega akhirnya interogasinya sudah selesai juga, ternyata kehadiran Raka sangat membantu dan bisa berjalan dengan lebih cepat dan lancar. Walaupun dia terlihat dingin dan sangat cuek tapi Raka merupakan atasan yang baik bagi Selin.
"Pak Makasih banyak, kalo nggak ada Bapak saya nggak tau harus jawab apa. Pasti saya yang jadi tersangka." Ucap Selin sendu penuh terimakasih.
"Makasih sama dia aja," Raka mengangguk kemudian menunjuk seorang wanita barbar yang masih setia duduk di kursi.
Selin mematung tidak percaya saat melihat Anet dihadapannya, Selin langsung bergegas menghampiri Anet yang sedang sibuk memainkan ponselnya. "Anet?"
Anet menoleh. "Gimana udah beres?" Tanyanya acuh tak acuh.
"Makasih ya Net," Ucap Selin sambil memeluk Anet penuh terimakasih.
"Apaan sih, gue cuma bantu menjemput pria dingin itu." Ucap Anet yang langsung di balas tatapan tajam oleh Raka.
"Adu duhh, sakit Lin!" Pekik Anet saat Selin mencubit perutnya.
__ADS_1
Selin menatap kesal Anet bersiap mengomel. "Yang sopan sama Pak Raka, dia itu atasan gue!"
"Dia kan atasan lo bukan atasan gue," Ucap Anet sambil mengelus-elus perutnya.
Selin menghela nafas panjang pasrah, sepertinya dia memang tidak bisa memperingatkan Anet.
Anet melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. "Gue mau pulang mau jemput si kembar dulu," Ucapnya langsung di balas anggukan oleh Selin.
Selin menatap nanar punggung Anet rasanya dia ingin ikut pulang dan melihat Juna dan Jeno. Tapi sayangnya sekarang belum waktunya pulang, dan ada beberapa tugasnya yang terabaikan. "Haaah," Selin meraup udara sebanyak banyaknya dan mulai berjalan ke arah kantornya bersiap menerima tatapan penasaran semua karyawan.
*****
Anet memasang belt di badannya kemudian bersiap menghidupkan mobil. Tiba-tiba ada tamu yang tidak diundang duduk di kursi penumpang. "Lo ngapain di sini!" Ucap Anet sambil menatap kursi belakang.
"Antar saya ke rumah sakit," Ucap Raka santai samil menscroll layar ponselnya.
Anet tersenyum jengah. "Idih siapa lo berani nyuruh-nyuruh gue!"
"Kamu amnesia ya? Tadi siapa yang ngelarang saya buat bawa mobil saya sendiri? Setidaknya kamu harus bertanggung jawab dong ngantar lagi saya ke rumah sakit."
"Naik taksi gue males nyeterin lo!"
Raka mengangkat bahunya acuh. "Nggak mau, dompet ketinggalan. Eh tapi nggak papa kalo nggak mau, dari tampang mu kamu emang nggak bertanggung jawab sih." Ucapnya berharap Anet akan tersindir.
Bremmm! Anet langsung menghidupkan mesin mobilnya dengan penuh kekesalan. "Yaudah kalo mau numpang, jangan belagu. Udah numpang belagu pula." Umpatnya lancar jaya.
Raka menatap Anet penuh keheranan. "Mulut kamu nggak pernah di sekolahin ya?"
"Nggak, yang di sekolah cuma otak gue aja." Jawab Anet sedikit tersindir kemudian menoleh ke arah Raka. "Pak kita jemput Juna sama Jeno dulu ya, kasihan mereka pasti udah nunggu."
Raka tersenyum sinis tidak percaya. "Pak? Kamu manggil saya Pak?"
Anet mengabaikan pertanyaan Raka dan mulai melajukan mobilnya. "Maaf tadi gue nggak sopan banget, kebawa emosi."
"Hmmm," Gumam Raka sebagai jawaban.
*****
Jangan hujat Anet ya gais, dia aslinya baik ko.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)