Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 42 : Yang sabar ya Raka


__ADS_3

Raka menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan telinga yang sudah kebal mendengarkan arahan Anet yang begitu melengking nyaris merusak gendang telinga nya. Setelah mereka sudah sampai di lokasi yang ditunjukan Anet, Raka memarkirkan mobilnya di depan klub malam dengan tatapan tidak percaya. "Net serius kita mau kesini?" Tanya Raka tidak percaya.


Anet mengangguk dan bersiap-siap membuka sabuk pengamannya. "Berisik, ayo cepetan. Udah tau kita berhenti disni masih aja nanya!" Jawab Anet kesal, ditengah situasi genting seperti ini Raka malah bertanya sesuatu yang tidak penting.


Raka mencekal tangan Anet dengan pandangan meneliti penampilan Anet yang hanya menggunakan baju tidur pendek dengan celana di atas lutut. "Kamu yakin mau keluar dengan penampilan seperti ini?" Tanya Raka tidak percaya jika wanita di hadapannya tidak memikirkan keselamatannya dari pria hidung belang yang menumpuk di tempat laknat itu.


"Memangnya apa yang salah dengan penampilan ku?" Anet menaikan satu alisnya heran kemudian meneliti penampilannya yang menurutnya baik-baik saja.


Raka menghela nafasnya panjang ternyata lelah juga berbicara dengan bocah ingusan seperti Anet. "Ckkk," Raka berdecak kesal lalu melepaskan jaket jens nya untuk membalut tubuh Anet yang hanga memakai piyama saja, tidak sampai di situ tangannya terulur untuk melepaskan ikat rambut Anet agar leher jenjangnya tertutupi dan tidak menjadi pusat perhatian pria hidung belang.


Anet memutar bola matanya malas dengan sikap Raka yang terkadang berlebihan terhadapnya. Padahal mereka tidak terlalu dekat untuk bisa dibilang saling peduli, tapi tidak jarang Raka bersikap over protektif kepadanya. Mungkin Raka memang orang yang baik, yang akan selalu berbuat manis pada siapapun wanita di sekelilingnya. "Lo nggak usah baper! Dia emang sikapnya kaya gitu!" Gumam Anet di dalam hati agar tidak terhanyut dalam sikap manis Raka.


Anet keluar dari mobil dan mulai masuk ke dalam ruangan dengan Raka yang setia mengekornya dari belakang. "Kita mau nyari siapa?" Tanya Reka penasaran mungkin jika Anet memberi tahu, pencarian mereka akan lebih mudah.


"Helen," Jawab Anet singkat lalu kembali fokus mencari keberadaan bawahannya itu.


Raka mendengus sebal saat menyadari banyak pria yang mencuri pandang ke arah Anet. Padahal Raka sudah berusaha mendandani Anet agar tidak menjadi pusat perhatian. Tapi ternyata pesona wanita itu tetap terpancar.


Grep! Raka tidak senang dengan tatapan lapar pria hidung belang yang menatap Anet secara terang-terangan. "Eh," Pekik Anet kaget saat tangan Raka tiba-tiba bertengger di bahunya, memeluknya dengan satu tangan untuk membuktikan kepemilikan.


"Kenapa diam aja, ayo!" Tanya Raka keheranan karena tiba-tiba Anet berhenti melangkah dan malah asik melamun.


Anet tersentak kemudian bergegas kembali mencari keberadaan Helen. Akhirnya Anet bisa menemukan Helen yang sedang tertidur di meja bartender dengan keadaan tidak sadar.

__ADS_1


"Hellll, bener-bener what the Hell ya lo!!" Ucap Anet kesal saat sudah di samping Helen yang sudah tidak sadarkan diri dan berkata tidak jelas.


"Dia orang nya?" Bisik Raka.


"Hmm," Gumam Anet sebagai jawaban kemudian menatap bartender di hadapanya. "Bram makasih ya udah lindungin temen gue yang laknat ini," Ucap Anet penuh terimakasih pada Bram kenalannya yang selalu melaporkan jika ada bawahannya yang mabuk di tempatnya.


"Oke, santai aja Net. Btw dia siapa? Cemceman baru lo?" Tanya Bram dengan sedikit menggoda.


Raka berdehem kemudian bersiap memperkenalkan diri, tapi langsung di pangkas oleh Anet. "Dia temen gue, jangan macem-macem lo!" Ucap Anet penuh peringatan agar tidak mengganggu Raka sang pria baik-baik. Bram hanya tersenyum penuh arti dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Anet memperhatikan Raka yang sedang susah payah berusaha membangunkan Helen tanpa menunggu perintahnya. "Mau ngapain?" Tanya Anet yang langsung mendapat tatapan tajam dari Raka.


"Ya mau gendong dia biar cepat keluar lah. Ingat nggak boleh jauh-jauh dari aku!" Jawab Raka tegas kemudian menggendong Helen di punggung, kemudian tangannya yang lain mencekal tangan Anet agar tidak jauh-jauh darinya.


********


Saat ini mereka sudah berada di luar, Helen ditidurkan di kursi pinggir jalan dengan Anet yang masih sibuk mencari alamat Helen atau mungkin kunci hotel dan lain sebagainya.


"Ketemu nggak?" Tanya Raka yang sudah tidak sabar sejak tadi menunggu.


Anet menghela nafasnya frustasi. "Nggak, kayaknya dia nggak bawa dompetnya deh.. Aduh dasar anak ini." Ucapnya penuh kekesalan.


Raka memijat pelipisnya kemudian ikut duduk di samping Anet. "Terus sekarang gimana?"

__ADS_1


Anet merenung sejenak membiarkan otak seksinya bekerja. "Gue naik taksi aja, pulang ke kosan." Jawab Anet yang langsung mendapat gelengan tidak setuju dari Raka.


"Berdua? Dengan keadaan teman mu yang mabuk berat?" Raka melipat kedua tangannya di depan dada penuh selidik.


Anet membuang pandangannya ke arah lain, dia sudah bosan ditatap seperti itu oleh Raka. "Ya mau gimana lagi, gue nggak mungkin bawa dia ke rumah Selin. Mau jelasin apa sama si kembar soal keadaan temen gue."


Raka tidak mungkin tega membiarkan seorang wanita berkeliaran di tengah malam seperti ini. "Nggak boleh, kita ke apartemen ku aja. Nggak terlalu jauh juga dari sini." Ucap Raka memberikan solusi.


Anet memejamkan matanya kemudian mengangguk patuh sepertinya tawaran Raka menang paling tepat. Rasanya terlalu berat juga harus membopong Helen yang tubuhnya lebih besar darinya. "Hmmm, okedeh."


Anet bangkit dari duduknya kemudian bersiap untuk membangunkan Selin, sontak Anet membulatkan matanya saat Helen tiba-tiba mencekal bajunya kuat dan bersiap seperti akan muntah. "Sel! Sel! Sel! Lo mau ngapain!" Pekik Anet panik masalahnya dia tidak membawa baju ganti lagi.


Srek! Dengan sigap Raka menarik tangan Anet dan menggantikan posisinya yang menahan tubuh Helen yang sudah bersiap untuk muntah. "Oeeeee... Oeee... Oeeee..." Helen mengeluarkan semua isi perutnya tepat ke tubuh depan Raka, kemeja Raka yang awalnya bersih sudah berubah menjadi buruk rupa dan menjijikan.


Raka membuang pandangannya dan menghela nafasnya pasrah, dia bertanya-tanya kenapa setiap kali di dekat


Anet rasanya hidupnya selalu mengenaskan dan sial.


Anet hanya melongo tidak percaya atas ketabahan Raka yang bersedia menggantikan posisinya. "Raka!! Lo ngapain sih, baju lo jadii... Iyuuuuhhhh!!" Ucap Anet penuh penghinaan.


******


Ya ampun Raka, mau-mau nya kamu berkorban untuk Anet si wanita bar-bar. Yang sabar ya sayang, kalo udah nggak kuat lambaikan tangan ke kamera aja. Mendingan sama author aja yang baik hati.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2