Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 93 : Akhir yang Bahagia


__ADS_3

Bara menatap Selin dengan tatapan penuh terimakasih, dia tidak menyangka Selin akan membuat surprise ulang tahun dan mengundang orang banyak tanpa sepengetahuannya. Pantas saja selama ini Selin lebih sering mengabaikannya mungkin pesta ini adalah alasannya.


Bara berjongkok kemudian mencium Juna dan Jeno secara bergantian, si kembar yang diperlakukan seperti itu langsung memeluk Bara penuh kasih sayang. Bara memejamkan matanya penuh syukur, ia tak kuasa untuk menahan air matanya yang ingin mengalir. Hari ini bagaikan mimpi indah yang terwujud, hari yang kadang ia bayangkan tidak pernah terjadi. Tapi akhirnya hari ini datang, dia bisa berkumpul dengan lengkap dengan Selin dan kedua anaknya dipenuhi dengan kebahagiaan.


"Thank you sayang," Bisik Bara pada si kembar.


Pelukan mereka terurai, ternyata disini yang menangis bukan hanya Bara saja. Saat ini Selin pun tak kuasa menahan air matanya yang mengalir, tapi untunglah ini adalah air mata kebahagiaan bukan air mata kepedihan.


"Makasih banyak Sel," Ucap Bara lalu menarik Selin ke dalam pelukannya.


Para tamu undangan yang hadir di buat terharu dan langsung tepuk tangan secara meriah. Mereka turut merasakan kebahagiaan dari Bara dan Selin.


Bara mendaratkan ciuman di kening Selin.


"Panjang Umur sehat selalu," Ucap Selin dengan senyuman di wajahnya.


"Makasih, semoga kita selalu bersama."


"Aamiin." Ucap mereka secara spontan.


Anet yang sejak tadi menunggu, mendengus sebal saat sepasang kekasih itu tak kunjung usai dan mengabaikan orang lain, seakan-akan dunia ini milik berdua dan yang lain ngontrak.


"Ekheem.. Ini bolu mau kapan di potongnya. Mesra-mesranya bisa nanti lagi kan?" Celetuk Anet yang berhasil mengundang gelak tawa banyak orang.


"Ahahahaha."


Akhirnya dengan sedikit malu Bara dan Selin berjalan berdampingan menuju meja yang sudah disediakan. Acara pada malam hari itu memang terbilang sederhana, tapi kebahagiaan bisa dengan mudahnya disalurkan kepada orang yang hadir dan menyaksikan.


******


Selin mencari tempat duduk lalu memijat kakinya pelan, sebenarnya dia kurang nyaman menggunakan high heels tapi mau bagaimana lagi masa di pesta seperti ini menggunakan sandal jepit. Saat sepatu itu dilepas benar saja kakinya sudah lecet.


Tuk! Tuk! Tuk!


Selin mendongak saat mendengar langkah seseorang yang menghampirinya. Ternyata pria itu adalah Bara, padahal tadi dia susah payah sembunyi-sembunyi keluar dari pesta agar Bara tidak menyadari keberadaannya yang tiba-tiba menghilang.


Tanpa berbicara Bara berjongkok di depan Selin lalu melepaskan high heels yang satunya lagi, lalu dia mengeluarkan sepasang sepatu dari paper bag yang tadi ia bawa. Dengan penuh kehati-hatian Bara memasangkan sepatu itu pada Selin.


Selin menutup mulutnya saat melihat sepatu indah yang terasa nyaman yang di pakaikan Bara di kakinya, hari ini adalah Hari Ulang Tahun Bara tapi dia yang malah mendapatkan hadiah.


"Gimana? Kamu suka?" Tanya Bara yang langsung dibalas anggukan oleh Selin.


Bara terkekeh kemudian mengulurkan tangannya.


"Ayo masuk lagi, kita dansa sama yang lain." Ajaknya penuh kelembutan yang tidak mungkin di tolak oleh Selin.


"Okay." Selin menerima uluran tangan Bara lalu ikut masuk kedalam pesta.


Selin dan Bara mulai berdansa bersama tamu undangan yang hadir, bahkan Juna dan Jeno pun berdansa dengan gembira.


Bara menatap Selin penuh haru.


"Makasih ya, udah susah-susah bikin pesta ini."


Selin menggeleng lemah.


"Aku nggak sendirian ko, Juna sama Jeno bantu, sama Mama juga jangan lupa yang bantu aku pesan semuanya."


"Iya iya, makasih untuk semuanya."


Selin terkekeh kemudian bertanya. "Happy?"


"Happy dong. Sangaaaat. Sangaaat."


"Ahahaha, lebay."


"maaf ya beberapa hari ini aku sibuk." Ucap Bara dengan perasaan sedikit bersalah.


"Nggak papa, yang penting kamu sehat."

__ADS_1


Tik!


Tiba-tiba lampu mati, Selin sedikit kaget kemudian bersiap untuk pergi dan mengecek permasalahannya. Tapi sebelum niatannya terwujud Bara lebih dulu menghentikan tangan Selin lalu membalikan badannya.


"Lihat itu."


Selin termenung melihat lampu sorot yang menampilkan Raka yang sedang bersimpuh seperti akan melamar Anet. Selin menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena merasa terharu, akhirnya sahabatnya ada yang melamar juga.


"Ya ampuun Raka!!" Pekik Selin dengan pandangan berkaca-kaca.


Raka bersimpuh di depan Anet, kemudian mengeluarkan kotak beludru dari sakunya.


Selin menoleh ke arah Bara.


"Bar.. Raka mau ngelamar Anet."


Bara hanya tersenyum sambil mengelus-elus bahu Selin.


"Shuutt.. Berisik mereka jadi keganggu sama kamu." Bisik Bara kemudian.


"Hmmm," Selin bergumam sebagai jawaban.


Bukan hanya Selin dan Bara yang di buat termangu penuh haru melihat Raka dengan gentle melamar Anet, semua tamu undangan pun ikut terhanyut dengan suasana romantis ini. Apalagi diiringi suara piano yang dimainkan oleh Juna dan Jeno.


Raka menghela nafas panjang kemudian menatap Anet penuh ketulusan.


"Anet.. Boleh minta waktunya seumur hidup, mau nggak aku ajak serius. Kita bercanda seumur hidup?" Ucapnya yang berhasil membuat semua orang kegirangan dan ikut ketar-ketir.


"Ya ampuun," Gumam Selin dengan air mata yang menggenang di sudut matanya haru.


Bara terkekeh kemudian berbisik.


"Kalo aku ngelamar kamu sekarang kamu mau gimana?"


"Ya biasa aja." Jawab Selin seadanya.


"Kamu mau nolak aku nggak?"


"Eitts, jangan gitu dong masa tega banget sih sama aku."


Selin menekuk bibirnya sebal karena Bara malah mengganggu fokusnya. Padahal saat ini Selin sedang sibuk merekam momen di hadapannya.


"Berisik ah, aku lagi fokus."


Bara lagi-lagi tersenyum lalu mencubit pipi Selin gemas.


Di tempat lain, Anet mengangkat pandangannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Anet Will You Marry Me?" Ucap Raka dengan penuh keberanian.


Hening!


Keadaan tiba-tiba hening seolah-olah tersihir dan sama-sama merasakan penantian yang Raka rasakan.


Anet menghela nafas dalam-dalam kemudian menggeleng pelan.


"Kaa.. Maaf aku nggak bisa. Aku belum siap, maafin aku." Ucapnya lirih kemudian pergi begitu saja.


Deg!


"Aneet.. Aneett.." Raka langsung berdiri dan berniat menahan Anet, tapi wanita itu lebih dulu meninggalkannya.


Selin terisak dengan perasaan tidak terima, kenapa bocah itu menolah orang yang begitu tulus seperti Raka.


"Aneeet.." Panggil Selin lirih.


Bara membalikan Selin agar berhadapan dengannya kemudian memegang tangan wanita itu erat.


"Sel.. Kalo aku ngelamar kamu sekarang kamu bakal nolak aku nggak." Ucapnya serius.

__ADS_1


Selin mengangkat pandangannya sambil terisak.


"Apaan sih nggak lucu, Ko bisa Anet nolak Raka padahal jelas-jelas bocah itu saling suka."


Bara tersenyum hangat.


"Kalo aku lamar kamu, kamu harus nerima ya. Aku nggak akan ngebiarin kamu pergi."


Selin sedikit mematung di tempat, saat ini raut Bara terlihat serius tidak seperti biasanya.


Dari kejauhan Selin melihat Raka yang menghampiri Bara kemudian memberikan buket bunga.


"Bar.."


Selin mematung lalu mengedarkan pandangan, dia sedikit tertegun saat menyadari jika posisi dirinya dan Bara ternyata berada di tengah dan saat ini sedang dikelilingi orang banyak.


Tiba-tiba Bara menekuk salah satu lututnya dan mengeluarkan kotak beludru yang berisi cincin yang sangat indah. Selin mematung dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya.


"Selin... Aku tahu kamu terlalu istimewa buat aku yang biasa-biasa aja. Aku tahu, aku adalah orang paling bodoh karena pernah menyianyiakan kamu dan ninggalin kamu."


Selin menutup mulutnya penuh haru dia tidak menyangka jika malam ini Bara akan melamarnya.


"Barr..." Panggil Selin lirih.


Bara menatap Selin dengan serius diiringi degup jantungnya yang berdetak secara tidak normal. Hati Bara dipenuhi ketakutan Selin akan menolaknya, karena hal tersebut mungkin saja terjadi.


Bara meraih salah satu tangan Selin kemudian menggenggamnya hangat.


"Sel aku nggak bisa ngebayangin hidup tanpa kamu di sisku. Di hari ulang tahun ku ini, aku ingin kado terindah dari mu untuk ku. Sebuah kado berupa kesanggupan dan kesediaan untuk kembali menikah dengan ku."


"Sel.. Will You Marry Me?"


Selin mematung kemudian menoleh ke arah Juna dan Jeno, saat dua bocah itu mengangkat jempol tanda setuju Selin langsung mengangguk mantap.


"Hiks.. Hiks.. Emm.. Yes I Will."


Bara menghela nafas lega kemudian memasangkan cincin indah itu di tangan lentik Selin.


"Terimakasih Sel..." Ucap Bara lalu memeluk Selin penuh haru.


Prok! Prok! Prok!


Juna dan Jeno berlarian dan ikut berpelukan. Tangis haru bukan hanya dirasakan oleh Selin saja, tapi semua tamu undangan ikut terisak.


Selin merelai pelukannya karena ada hal yang ingin ia tanyakan.


"Tunggu tunggu, jadi lamaran Raka tadi bohongan?" Ucapnya sambil terisak. Bara hanya menggaruk kepalanya dengan perasaan sedikit merasa bersalah.


Anet yang tadi keluar kembali menghampiri Selin.


"Net lo pura-pura nolak dia." Ucap Selin cukup kesal, karena dia sejak tadi bodohi oleh semua orang.


"Ya iyalah," Jawab Anet penuh kemenangan.


Selin menganga tidak percaya, dia cepat-cepat berjalan untuk mengejar Anet.


"Ish nyebelin, sini kamu."


"Ahahaha."


Bara tertawa bersama kedua anaknya melihat kelakuan Selin dan Anet yang seperti anak kecil.


Begitulah hidup, tidak semua bisa kita atur tidak semua bisa kita rencanakan. Hidup tidak selamanya menyenangkan, tapi tidak selamanya menyedihkan. Bumi itu bulat dan berputar begitupun hidup, manis asin kehidupan akan mendatangi kita dengan silih bergantian. Tinggal bagaimana kita menyikapi itu semua.


"Aku mencintaimu dengan sederhana Bar, sesederhana kamu tersenyum aku akan jatuh hati. Tapi sayangnya dulu kita pernah sok tahu dengan arti kebahagiaan masing-masing, sampai kita melupakan arti kebahagiaan kita yang sesungguhnya. Bahagia ku adalah bersama mu, walaupun dari mu aku belajar jika Cinta dan Luka bisa berjalan secara bersamaan. Love You!"


~Selin


******

__ADS_1


Tamat ?


__ADS_2