Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 52 : Uluran tangan yang terlambat?


__ADS_3

Bara bergegas keluar dari mobil menuju ruangan IGD dengan perasaan khawatir. Bagi Bara, Kania sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri, mereka sudah kenal sejak masih kecil karena kedua orang tuanya bersahabat. Jadi, walaupun Bara kesal dengan Kania, hati kecilnya masih mengkhawatirkan wanita itu. Tapi tidak lebih dari kasih sayang kakak pada adiknya.


Setelah bertanya pada suster yang bertugas, akhirnya Bara bisa mengetahui dimana posisi brankar Kania. Sret! Bara membuka tirai penghalang Kasur Kania, terlihat Kania sedang ditemani oleh asistennya. Bara mematung melihat keadaan Kania yang terlihat baik-baik saja tanpa sedikitpun luka di tubuhnya. Saat ini wanita itu sedang bersandar ke sandaran kasur sambil memainkan ponselnya.


Bara kehilangan kata-kata dengan perasaan kesal menyeruak di benaknya. "Are you okay!" Ucap Bara kesal dengan rahang yang menegas.


Kania langsung tersentak dan mengalihkan pandangannya ke sumber suara. "Kak," Panggilnya gelagapan.


Bara duduk di brankar pasien kemudian mencekal kedua bahu Kania penuh kekesalan. "Oh ****!, are you playing me?" Ucap Bara dengan tatapan tajam.


Kania menghela nafasnya panjang kemudian membalas tatapan Bara tidak kalah menusuk. "Ya! Memangnya kenapa?! Bukannya aku sudah bilang aku akan menghalalkan semua cara untuk mendapatkan mu." Ucap Kania dengan hati ketar-ketir karena di tatap Bara begitu dingin dan menusuk.


Bara menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya sendiri, dia harus sadar jika ini di rumah sakit. "Kamu tahu hari ini ada acara dengan anaknya Selin?" Ucap Bara lirih.


Kania mematung selama ini dia tidak pernah melihat raut kecewa yang begitu mendalam Bara pada dirinya. Dengan perasaan hancur Kania mengangguk sebagai jawaban.


Bara mengacak rambutnya kasar. "Kamu mempermainkan perasaan orang lain hanya untuk kebahagian mu sendiri, dimana letak perasaan dan otak mu?" Ucap Bara kemudian bersiap beranjak.


Greb! Sebelum Bara pergi dengan sigap Kania memeluk Bara dengan sangat erat. "Please jangan pergi!" Ucap Kania dengan air mata yang membasahi wajahnya.


Cekrek!


Bara menatap nyalang ke arah asisten Kania, kemudian beranjak untuk meraih ponselnya. Bara tertawa samar saat mengetahui jika asistennya Kania mengirim foto itu pada Selin. "Berani-beraninya!" Bisik Bara menyeramkan.


Bara menoleh ke arah Kani kemudian membanting ponsel itu ke kasur. "Jangan pernah muncul dihadapan ku lagi, surat pemecatan mu sebentar lagi menyusul!" Bisik Bara sebelum pergi pada Kania.


*****


Setelah menenangkan perasaannya, Selin berjalan lemas ke arah si kembar yang sedang berada di ruangan tunggu dengan teman-temannya. Rasanya hatinya begitu sakit saat melihat Juna dan Jeno asik mengobrol dengan teman-temannya yang ditemani oleh Ayah mereka masing-masing sedangkan mereka hanya berdua.


"Juna.. Jeno.. Sini!" Panggil Selin pada kedua anaknya.


Juna dan Jeno tersenyum hangat kemudian berlarian ke arah Selin. "Om Bara udah datang Nda?" Ucap Jeno dengan mata yang berbinar penuh harap.


Selin tersenyum kecut kemudian berjongkok di depan kedua anaknya. "Sepertinya Om Bara nggak akan datang," Ucap Selin penuh ketegaran. Terlihat perubahan raut wajah Jeno yang begitu ketara. Wajah yang awalnya berbinar berubah menjadi dingin dan sulit diartikan.

__ADS_1


"Serius Bun, bukan sejak tadi dia udah pergi." Ucap Juna yang angkat bicara, dia menggenggam tangan Jeno untuk menyalurkan kekuatan dan ketenangan.


"Dia ada urusan mendadak sayang," Selin tersenyum hangat dengan tangan membelai kepala Jeno lembut. Tidak ada pun perasaan Selin ingin mencela Bara di hadapan kedua anaknya, cukup dia saja yang mendapat kekecewaan dari Bara. Kedua anaknya harus mendapat sosok Ayah yang sempurna dan bisa mereka hormati sepenuh hati.


Berbeda dengan Jeno yang terpuruk, Juna terlihat tegar. Di saat keadaan tidak baik-baik saja seperti sekarang, Juna sebagai sosok Abang selalu mengambil peran dan banyak bicara tidak seperti biasanya. "Sekarang kita harus gimana?" Tanya Juna meminta solusi.


"Kita nonton aja ya, nggak papa nggak usah tampil." Ucap Selin sambil berusaha tersenyum pada kedua anaknya.


Jeno mengangkat pandangannya ke arah Selin dengan tatapan berkaca-kaca. Selin membalasnya dengan pelukan kemudian menggendong Jeno untuk ke luar dari ruangan.


Di saat Selin sudah beranjak Juna masih mematung di tempatnya. "Gimana kalo kita urutannya di mundurin kebelakang aja, siapa tahu urusan Om Bara keburu selesai."


Selin menatap nanar Juna yang masih begitu percaya pada Ayah brengseknya, Selin menengadahkan kepalanya untuk menahan air matanya agar tidak keluar. Dia tidak bisa membayangkan andaikan kedua anaknya tahu, saat ini Bara sedang berpelukan dengan wanita lain di atas penderitaan mereka semua. Selin memejamkan matanya untuk mengumpulkan kekuatan, saat ini bukan waktunya untuk meratapi keadaan. Dia harus kuat dan menyalurkan kekuatan pada kedua anaknya. Akhirnya dia mengangguk penuh persetujuan.


"Boleh, ayo kita masuk. Biar Bunda yang bilang ke ibu gurunya. Kalian tunggu di kursi ya, katanya nanti Tante Anet mau kesini."


Senyuman di wajah Jeno mulai terbit lagi. "Oke Nda," Pekik Jeno penuh antusias dan berusaha turun dari gendongan Selin.


*****


"Permisi Bu," Ucap Selin sopan.


"Eh Bunda nya Juna dan Jeno, ya ampun cantik sekali." Jawab Bu Rahma ramah.


Selin menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Terimakasih Bu, Ibu bisa saja." Ucapnya sopan.


Bu Rahma terkekeh. "Ada yang bisa saya bantu?"


Selin terdiam sejenak. "Untuk urutan tampil kedua anak saya bisa diundur Bu, soalnya Om mereka belum hadir." Ucap Selin yang mengundang perhatian Ibu-Ibu lain yang tidak terlalu jauh darinya.


Terlihat raut terkejut di wajah Bu Rahma. "Aduh gimana ya Bu?. Sepertinya tidak bisa susunan acaranya sudah di atur, paling mereka tampilnya paling terakhir nggak papa?"


Selin mengangguk lemah. "Mmm, tidak apa-apa Bu."


"Oh jadi pria tampan yang mengantar Juna dan Jeno itu bukan Ayahnya ya?" Timpal seorang Ibu-Ibu yang mendekati Selin, sedangkan Selin hanya tersenyum kecut dan bingung harus merespon seperti apa.

__ADS_1


"Terus kemana Ayah mereka Bu? Pasti sibuk banget kerja ya. Aduh kasian sekali mereka." Ucap Ibu itu dengan wajah yang lebih ke arah mengejek bukan peduli.


Selin tersenyum kecut dan ingin cepat-cepat pergi karena merasa tidak nyaman. Tanpa ia sadari tangannya mengeras meremas tas Selempang nya. "Ya begitulah Bu, saya permisi." Ucap Selin yang bersiap beranjak, namun sebelum kakinya melangkah terasa bahunya di rangkul oleh seseorang yang tidak asing.


Grep! Selin mematung kemudian menoleh ke arah bahunya yang sudah di rangkul mesra oleh seseorang. Bara mengdongkak kan kepalanya ke arah Selin dengan senyuman lebar penuh kebahagiaan yang begitu memancar. "Loh, kenapa di undur sayang? Kan Mas udah datang?" Tanya Bara dengan aura ketampanannya yang sudah memancar ke mana-mana. Sedangkan Selin tidak menjawab karena terlalu kaget dengan kehadiran Bara yang tiba-tiba.


Bara menoleh ke arah Bu Rahma lalu tersenyum, sedangkan Bu Rahma hanya gelagapan dan salah tingkah. "Maaf Bu, saya terlambat ada urusan sebentar di luar. Urutan tampilnya nggak usah di ubah," Ucapnya penuh ketegasan.


Setelah selesai dengan Bu Rahma, Bara menoleh ke arah Ibu-Ibu yang tadi membuat Selin tidak nyaman. "Eh, Ibunya Reyhan ya. Sepertinya kita belum berkenalan. Perkenalkan nama saya Bara, Ayah dari Juna dan Jeno. Tapi kadang istri saya suka nggak menganggap saya suaminya kalo lagi marah, jadi harap maklum ya Bu."


"Apaan sih!" Bisik Selin geram kemudian mencubit lengan Bara. Bara menoleh dan hanya terkekeh.


Ibu itu hanya tersenyum samar dan malu sendiri karena sekarang orang tua lain menatapnya dengan tatapan tidak suka. "Eh, saya Bunda Lia." Ucapnya membalas uluran tangan Bara.


"Benar Pak, memang para istri suka seperti itu. Mereka sering merajuk tidak jelas. " Timpal seorang Bapak-Bapak yang menghampiri mereka.


Bara tertawa santai, "Ahahaha, benar sekali. Saya dan istri saya pamit dulu ya Bu, permisi." Ucapnya kemudian menarik Selin agar segara keluar. Selin menatap tangannya yang di genggam hangat oleh Bara.


"Dasar pintar akting. Harusnya dia bukan menjadi aktor, bukan pengusaha." Gumam Selin di dalam hati cukup geram.


Bats!! Selin menarik tangannya saat mereka sudah sampai di tempat sepi.


"Mudah banget ya kamu akting di depan orang banyak! Istri-istri apa maksud kamu?!" Bentak Selin meluapkan kekesalannya yang sudah menumpuk.


Bara mengacak rambut frustasi. "Terus aku harus apa!. Liat kamu dipermalukan di depan mataku sendiri aku harus diam saja?!. Baiklah kalo kamu nggak mau, seenggaknya untuk Juna dan Jeno, kamu rela mereka diperlakukan tidak baik oleh orang lain?"


Selin mematung, dia tidak pernah melihat Bara seemosi ini, kemudian memejamkan matanya dengan air mata yang awalnya bisa ia tahan sudah tidak sanggup lain dibendung. Bara tersentak, saat melihat Selin menangis dengan kepedihan yang bisa ia rasakan. Rasanya ingin sekali Bara menarik Selin ke dalam pelukannya, tapi dia tidak bisa. Akhirnya, hanya tangannya yang terulur untuk mengusap air mata Selin. "Jangan nangis, kamu kan kuat. Maaf aku terlambat. Sekarang aku sudah datang, semuanya pasti akan baik-baik saja. Ayo kita ke si kembar yang sejak tadi menunggu." Bara mengulurkan tangannya pada Selin.


Selin mematung sejenak lalu menatap uluran tangan Bara di hadapannya. Karena Selin hanya diam saja, dengan penuh keberanian dan kelembutan Bara menggenggam tangan Selin dengan senyuman di wajahnya. "Ayo," Ucap Bara kemudian meraih bahu Selin agar berjalan di sampingnya. Selin mengangguk lirih kemudian mengeratkan genggamannya pada Bara.


******


Yuu, Vote Yuuu!!


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2