Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 61 : Terimakasih sudah baik-baik saja


__ADS_3

Selin membeku saat tubuhnya tiba-tiba direngkuh oleh seseorang. Tapi anehnya dia tidak merasa asing dengan pelukan yang dirasakan, apalagi bau parfum khas seseorang yang sangat familiar di indra penciumannya. Perlahan pelukan itu terurai, dengan penuh harap Selin menengadah untuk melihat siapa yang memeluknya, perasaan was-was memenuhi benaknya dia takut dikecewakan oleh ekpektasinya sendiri.


Selin termenung merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat. "Hiks.. Hiks.. Apa ini mimpi," Perlahan tangannya terulur untuk menyentuh wajah pria di hadapannya dengan air mata yang tak berhenti sejak tadi. Bara menyambut tangan Selin dan menggenggamnya hangat. Air mata yang sejak tadi Bara tahan akhirnya keluar juga, mereka saling pandang dan terkunci satu sama lain. "Ini bukan mimpi... Ini aku." Ucap Bara pelan dengan tubuh yang ikut bergetar karena tangis.


Selin menutup mulut mulutnya tidak percaya, dia hanya bisa mengeluarkan air mata dengan perasaan yang semakin sesak. Bara mengelus kepala Selin dengan penuh kasih sayang, tak lama dari itu Bara membawa Selin ke dalam pelukannya yang hangat.


"Arggggghhh... Heuuuuu.... Heuuuu... Heuuu..." Selin menangis sejadi-jadinya di pelukan Bara.


Bara memejamkan matanya kemudian mengecup kening Selin penuh kasih sayang "Maaf," Gumam Bara penuh rasa bersalah karena sudah membuat Selin menangis begitu hebat. Selin hanya mengangguk pelan kemudian mengeratkan pelukannya pada Bara. "Bar, Makasih udah baik-baik aja.. hiks.." ucap Selin di sela-sela tangisnya.


******


Selin bersandar di dada bidang Bara dengan perasaan yang sudah lebih tenang. Sekarang mereka sedang sama-sama menenangkan diri di kursi penumpang mobil Selin. Bara menunduk untuk memperhatikan Selin yang sudah lebih tenang jika di banding tadi. "Udah baikan?" Ucapnya sambil mengelus-elus lengan Selin memberikan ketenangan.


Selin hanya mengangguk sebagai jawaban, sekarang dia tidak mempunyai kekuatan untuk sekedar berbicara. Karena baru saja dia membuka mulut untuk bicara air mata akan selalu mendahuluinya.


"Kenapa nangis? Sayang banget ya sama aku?" Tanya Bara sudah bersikap narsis seperti biasa.


Selin tidak menjawab, lalu mencubit lengan Bara kesal. Bara sedikit meringis kemudian terkekeh penuh kemenangan. "Kamu itu sayang bangat sama aku tahu, cuma nggak sadar aja. Mulai saat ini aku akan berusaha agar kamu bisa menerimaku lagi, aku tahu itu bukanlah hal yang mudah. Tapi aku akan berusaha." Ucap Bara penuh keyakinan.


Selin tidak menjawab dan memilih memejamkan matanya dengan penuh ketenangan. Bara terkekeh,


Seorang diri, "Sebentar lagi Raka kesini buat ngantar kita, kamu nggak usah repot-repot nyetir." Selin hanya mengangguk sebagai jawaban.


Tak lama dari itu orang yang dibicarakan datang juga. "Mana kuncinya?" Tanya Raka saat sudah duduk di kursi kemudi. Selin merogoh celananya kemudian memberikan kunci itu pada Raka.


"Tante Meta udah dihubungi, dia meminta Bapak cepat pulang." Ucap Raka yang berhasil menarik perhatian Selin.


Perlahan Selin menjauhkan tubuhnya dari Bara kemudian menatap Bara dengan penuh tanda tanya. "Hmmm, besok aku mampir sebentar. Sekarang mau istirahat dulu," Bara memalingkan pandanganya ke luar dengan tatapan menerawang.


Saat mobil sudah melaju Selin mulai memberanikan diri untuk bertanya. "Kamu jarang pulang ke rumah?"

__ADS_1


"Hmmm," Bara bergumam sebagai jawaban.


Selin melihat raut kepedihan yang begitu jelas terpancar di wajah Bara. "Kenapa? Terus kamu pulang kemana? Kamu punya rumah baru?"


Bara menghela nafas panjang seperti enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan Selin. "Aku punya rumah baru, tapi jarang ku kunjungi."


Selin paham gelagat Bara menunjukan jika dia tidak suka membahas tentang hubungannya bersama Meta, tapi Selin memilih untuk terus bertanya karena penasaran. "Terus tidur dimana?"


"Di apartemen!" Celetuk Raka yang tidak diajak berbicara.


Selin manggut-manggut kemudian beralih menatap Bara. "Kenapa jarang pulang ke rumah?, pasti Tante kesepian. Hubungan kamu sama Tante baik-baik aja kan?"


"Nggak terlalu." Bara memejamkan matanya sejenak lalu menegakkan punggungnya dan membalas tatapan Selin.


Raka yang merasa gemas sendiri dengan sikap Bara yang sok Cool akhirnya memilih angkat bicara. "Dia nggak bisa pulang ke rumah karena selalu keinget kamu Sel, kalo lagi rindu dia kadang suka setengah stres!"


Selin melongo merasa aneh karena tidak biasa mendengar ocehan Raka pada Bara. Biasanya pria itu selalu menghormati dan mengidolakan Bara di depan siapapun. Tapi yang membuatnya semakin tercengang adalah Fakta jika hubungan Bara dan Meta tidak baik-baik saja.


Bara memberikan tatapan penuh permusuhan ke arah Raka. "Jangan dengar ucapan Raka, pikirannya masih belum sempurna. Beberapa kewarasannya tertinggal di pesawat."


Bara tersentak mendengarkan fakta yang baru Selin sampaikan. "Kamu sudah memaafkan Mama?" Ucap Bara dengan tatapan sendu ke arah Selin.


Selin tersenyum hangat, "Sejak dulu aku selalu berusaha memaafkannya, karena menaruh kebencian pada orang lain hanya akan membuat hidup kita menderita. Hanya saja aku tidak pernah lupa."


Bara termenung dengan perasaan takjub pada wanita dihadapannya. "Terimakasih Sel, setidaknya mulai hari ini aku tidak akan malu saat melihat wajah Ibuku. Entah kenapa melihatnya membuat rasa bersalah dan rinduku kepadamu semakin menjadi-jadi." Ucapnya lirih.


"Yang menyakiti ku bukan hanya Tante, tapi kamu juga Bar. Jika aku berhak untuk dimaafkan kenapa Tante tidak?" Selin mengelus pundak Bara memberikan kekuatan. Selin tahu selama ini Bara menderita, Selin yakin jauh di dalam hatinya Bara masih sangat menyayangi dan menghormati Ibunya, hanya saja hatinya sudah terlalu terluka dan sulit untuk memaafkan.


"Mmmm," Bara mengangguk dengan perasaan sesak yang memenuhi benaknya.


"Pulanglah, perbaiki hubunganmu dengan Tante." Ucap Selin kemudian menggenggam tangan Bara berusaha memberikan kekuatan.

__ADS_1


"Terimakasih," Ucap Bara kemudian terisak di pelukan Selin.


******


Selin bergegas turun dari mobil untuk bertemu dengan kedua anaknya yang pastinya sedang menderita. Saat tiba di ruang tamu sebuah teriakan sudah menyambutnya.


"Ndaaa!!!" Teriak Juna dan Jeno yang sedang berlarian ke arahnya.


Selin ikut berlari agar segera mendekap kedua anaknya itu. "Jeno Junaa!!!"


Greb!! Mereka saling berpelukan untuk menguatkan satu sama lain. Juna dan Jeno menangis penuh kepedihan di pelukan Selin. "Huaaaaaa!!! Hiks... Hiks.. Hiks.." Selin yang awalnya sudah berhenti menangis kembali mengeluarkan air mata.


"Bunda nggak sendirian loh," Selin melerai pelukannya. Sambil terisak Juna dan Jeno saling bertatapan tidak paham.


"Haiii..." Ucap Bara yang sejak tadi sudah berdiri di pintu masuk.


"Om Balaaa!!" Teriak mereka histeris kemudian berlarian ke arah Bara.


Bara tersenyum hangat kemudian berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka dengan tangan dibentangkan. Greeb! Tubuh Bara sedikit terhuyung kebelakang saat si kembar berhamburan ke dalam pelukannya.


"Heuuu!!! Heuuuu!! Heuu!! Heuu!" Lagi-lagi mereka kembali menangis histeris, hanya saja sekarang perasaan mereka berubah tenang dan penuh syukur.


Selin memalingkan pandangannya dengan air mata yang kembali mengalir. Puk! Puk! Puk! Selin menoleh saat bahunya di tepuk-tepuk oleh seseorang. "Neeet!" Pekik Selin histeris kemudian memeluk wanita yang sudah dianggapnya adik itu.


Anet menghela nafasnya lega dengan tangan yang setia mengelus-elus punggung Selin untuk menyalurkan ketenangan. "Semuanya baik-baik aja Lin. Lo nggak usah nangis," Ucap Anet dengan perasaan yang sesak. Padahal jauh di dalam hati, Anet merasa ada sesuatu yang membuatnya sesak. Melihat Bara yang baik-baik saja, tidak lantas membuat hatinya tenang, dia masih mengharapkan kehadiran seseorang yang sampai saat ini belum diketahui keadaannya.


Ceklek! Raka keluar dari mobil kemudian berjalan santai ke dalam rumah. Saat mendengar suara langkah seseorang perlahan pandangan Anet terangkat, tubuhnya seketika membeku dengan pandangan yang berkaca-kaca saat mengetahui yang berdiri di hadapannya adalah Raka.


Raka menautkan alisnya saat menyadari tatapan Anet tertuju kepadanya, Raka tersenyum samar pada Anet dengan satu alis yang di naik turunkan.


*****

__ADS_1


Happy Reading!


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2