Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 25 : Paus Entertainment


__ADS_3

Anet memarkirkan mobilnya ke sebuah kafe tempat Juna dan Jeno menunggu. Tanpa menunggu Raka, dia keluar begitu saja kemudian bergegas masuk ke dalam kafe.


Anet mengedarkan pandangannya untuk mencari si kembar Juna dan Jeno. Terlihat dua orang anak balita duduk saling bersebalahan, ternyata mereka sedang sibuk membaca buku yang Anet tidak ketahui. "Hai? Maaf ya lama?" Ucap Anet sedikit ngos-ngosan.


Jeno tersenyum hangat dan mengangguk tidak keberatan. "Makan dulu bos, kami yang pesan ini." Ucap Jeno menunjuk beberapa Cake yang tersaji di meja.


Anet terkekeh bangga lalu mendudukkan pantatnya di kursi berhadapan dengan Juna yang sibuk membaca buku. "Makasih kalian pengertian banget, dari pagi emang Bos belum makan."


Juna meletakkan bukunya dan menatap Anet penasaran. "Udah darimana?" Tanya Juna seperti orang dewasa pada Anet.


"Dari kantor Bunda kalian." Jawab Anet dengan tangan sibuk memasukan cake ke dalam mulutnya.


Juna dan Jeno langsung saring melirik penuh arti. "Menjemput Nda? Terus Ndanya mana sekarang?" Tanya Jeno penasaran.


"Bukan kan Bunda kalian bawa mobil. Tadi ada urusan sebentar nanti Kakak ceritain di mobil," Jawab Anet tidak mau menceritakan kejadian hari ini yang pastinya akan membuat mereka cemas.


Klang! Anet menoleh ke arah pintu masuk, ternyata Raka menyusulnya dan berjalan ke arahnya dengan wajah datar tidak berdosa. Raka tersenyum ke arah si kembar lalu duduk di samping Anet.


"Dia siapa?" Tanya Juna dengan tatapan menilai.


"Teman kantor Bunda kalian Pak Raka, ayo sapa dulu." Perintah Anet pada si kembar.


Raka tersenyum samar tidak menyangka Anet akan memperlakukannya dengan baik di depan Juna dan Jeno. Padahal jika sedang berduaan sikap Anet tidak ada sopan-sopannya sama sekali.


Juna mengangguk paham. "Halo Pak saya Juna abangnya Jeno," Ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.


Kemudian Jeno dengan penuh semangat dan ceria ikut memperkenalkan diri. "Saya Jeno adiknya Juna, walaupun cuma beda 10 menit."


Senyuman terbit di wajah Raka yang biasanya dingin, dengan senang hati Raka membalas uluran tangan mereka dan ikut memperkenalkan diri. "Saya Raka rekan kerja Bunda kalian."


"Ternyata manusia ini bisa senyum juga," Gumam Anet di dalam hati. "Oh iya kita belum kenalan dengan benar ya Pak."


Raka langsung menoleh ke arah Anet dengan tatapan ketusnya.


Tuk! Sret! Anet menempelkan kartu namanya ke atas meja kemudian mendorongnya ke arah Raka dengan penuh kesombongan.


"Perkenalkan saya Manager sekaligus CEO dari Paus Entertainment, Anet! Salam kenal." Ucapnya penuh percaya diri.


Raka menaikkan satu alisnya sambil menatap kartu nama di hadapannya. "Paus Entertainment? Saya Raka." Jawab Raka membalas uluran tangan Anet.


Dengan penuh semangat Anet melirik ke arah Juna dan Jeno. "Mereka dua member saya yang sangat luar biasa Juna dan Jeno, kalo dilihat-lihat Bapak lumayan pas sih jadi member baru kami. Wajah Bapak Pas!"

__ADS_1


"Pas-pasan! Hahahaha," Timpal Jeno yang tidak kalah heboh.


Raka memutar bola matanya malas mendengar celotehan Anet yang tidak berbobot. "Maaf saya tidak tertarik."


Anet terkekeh lalu menatap Raka dengan pandangan menilai. "Sayang sekali, padahal sikap dan wajah Bapak sangat pas untuk iklan Kulkas dua pintu."


Raka hanya diam membisu malas untuk merespon candaan yang sangat tidak lucu.


"Paus Entertainment!" Teriak Anet sambil menaikkan tangannya.


"Sembur! Sembur! Sembur!" Jawab Si kembar kompak.


Raka sedikit tertegun saat melihat si kembar yang begitu kompak, Raka sangar menyayangkan Selin tega menitipkan kedua anaknya kepada wanita aneh seperri Anet. "Kenapa namanya paus?" Tanya Raka sambil menatap Juna yang sejak tadi sibuk membaca, jika dilihat-lihat wajah Juna sangat mirip dengan Bara saat sedang serius, begitu pikir Raka.


Namun sayangnya, yang di tanya siapa yang menjawab siapa. "Kembar! Tolong kalian jelaskan." Ucap Anet dengan gaya sok asiknya.


Jeno mengangguk antusias. "Bapak tau hewan terbesar di dunia? Bukan Gajah, bukan Orangutan, bukan Badak apalagi buaya seperti Bapak, tapi!!!"


"Paus Biru!" Ucap Anet, Juna dan Jeno secara serempak.


Anet tidak memberikan ruang untuk Raka berkomentar. "Dari filosopi itu kami berharap Paus Entertainment akan menjadi agensi terbesar di indonesia dan dunia, Bapak mau tanda tangan. Karena di masa depan tanda tangan saya akan sangat mahal dan berharga!" Ucap Anet dengan pandangan yang berbinar-binar.


Raka menggaruk dahinya sedikit kebingungan dengan tingkah mereka yang diluar dugaannya. "Kamu punya kantor atau semacamnya."


Juna meletakkan bukunya di meja kemudian menatap Raka penuh keseriusan. "Di Rumah Bunda lantai dua berhadapan dengan WC dan bersebelahan dengan kamar kami." Jawabnya singkat padat dan jelas.


"Untuk info lebih lanjut nanti kita jelaskan di mobil Pak, sekarang silahkan Makan cake ini anda pasti sudah lapar sejak pagi," Anet menyodorkan sepiring cake arah Raka.


Helaan nafas keluar dari mulut Raka. "Terimakasih," Ucap Raka kemudian langsung menyantap cake di hadapannya.


Anet menyilangkan kakinya kemudiian menatap Juna dan Jeno meminta persetujuan. "Pak Raka mau nebeng, dia mau ke Rumah Sakit boleh kan?"


"Ya boleh lah, siapa yang sakit Pak Laka atau keluarganya." Jawab Jeno langsung setuju.


Raka tersenyum hanya kemudian menjawab. "Pak Bara yang dirawat, kemarin dia keracunan Jeruk untung anda Bunda kalian yang menyelamatkannya."


"Pak Bara?" Sontak Juna dan Jeno langsung saling bertatapan.


Anet mendengus sebal kemudian mencubit pinggang Raka dengan kuat, tapi hal itu tidak membuat Raka meringis sedikit pun. "Ish, ngapain sih lo cerita ke mereka juga!" Bisik Anet jengkel.


"Bos," Panggil Jeno.

__ADS_1


"Hmmm," Anet tersenyum penuh arti.


"Boleh nggak kita melongok Pak Bala kan Jeno ngefans banget sama Pak Bala?" Bujuk Jeno sambil melirik-lirik ke arah Juna.


"Boleh, asal kalian ijin dulu sama Bunda kalian. Atau ajak dia sekalian." Anet sudah pasrah toh dia nggak berhak menghalang-halangi mereka bertemu dengan Ayah mereka sendiri.


"Yeeaaay!" Pekik Jeno penuh kegirangan.


"Kalian bawa baju ganti kan?" Tanya Anet sambil melirik kedua Ransel si kembar.


"Bawa."


Anet melirik ke lengannya untuk melihat waktu. "Oke, jadwal pemotretan udah diundur. Kalian sekarang ganti baju dulu gih biar nanti nyaman pas di Rumah Sakit,"


Juna dan Jeno mengangguk paham kemudian bergegas mengambil Ranselnya dan berjalan santai ke toilet.


Raka yang sejak tadi sibuk menjadi penonton akhirnya angkat bicara. "Kamu ngebiarin mereka ganti baju sendiri?" Tanyanya tidak setuju dengan perilaku Anet yang terlalu acuh dengan si kembar.


Anet memutar bola matanya malas. "Biar mandiri anak laki-laki nggak boleh lembek."


"Ya tetap aja, diluar sana banyak penjahat yang berkeliaran."


"Tenang aja, palingan penjahatnya yang mereka ringkus." Anet malas berdebat dengan Raka, dia meraih sendok kemudian melanjutkan acara makannya.


Tak lama dari itu Juna dan Jeno sudah datang dengan berganti pakaian. Anet tersenyum kemenangan kemudian beranjak untuk siap-siap pergi. "Udah selesai?"


Mereka mengangguk serempak. "Mari kita kemon biar nggak ke sorean." Ajak Anet lalu berjalan lebih dulu.


"Lets go!"


Bara berjalan mengekor paling belakang, "Biar saya yang nyetir, mana kuncinya." Ucapnya sambil menengadahkan tangan.


"Nggak usah," Tolak Anet tidak sudi.


Bara meraih kunci di tangan Anet tanpa meminta persetujuannya. "Udah nggak usah nolak, wajah kamu udah keliatan lemes kaya gitu. Wanita boleh ko lembek, yang harusnya kuat laki-laki bukan?" Kemudian berjalan mendahuluinya.


Anet mematung di tempat dengan kekesalan yang sudah memuncak. "Ayo Bos, kenapa diam aja." Teriak Jeno saat Anet hanya diam saja.


"Hmmm," Gumam Anet pelan kemudian melanjutkan langkahnya dengan kaki yang di hentak hentakkan.


******

__ADS_1


Gimana kalian tertarik nggak jadi Member Paus Entertainment, lumayan loh punya duit buat jajan. Wkwkwk.


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2