Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 41 : Maaf karena telah membuatmu mencintai ku


__ADS_3

Bara enggan untuk tidur, rasanya waktu bersama Juna dan Jeno lebih berharga dibanding tidurnya di malam hari. Dia masih setia memperhatikan setiap lekuk wajah Juna dan Jeno yang begitu damai tertidur. Senyuman sendu bercampur penyesalan terbit di wajahnya. Di dalam hati dia bertanya-tanya apakah Juna dan Jeno akan menerima nya sebagai ayah jika Selin menerima lamarannya lagi.


Bara terkekeh saat menyadari kenyataan, boro-boro menerima lamaran diajak kencan saja sepertinya wanita itu akan menolak mentah-mentah. Bruk! Bara merebahkan tubuhnya dengan pandangan menerawang ke arah langit-langit. Padahal tadi mereka baru bertemu dan bersama seharian, tapi kenapa saat ini Bara sudah sangat merindukan Selin. Sampai-sampai hatinya terasa sesak. "Haaah, aku merindukannya." Gumam Bara menghela nafasnya panjang.


Bruk!!


"Anet! Aneet!"


Bara tersentak dari lamunannya saat mendengar suara Selin, sepertinya Selin sedang membutuhkan bantuan. Bara bergegas keluar kamar kemudian membuka pintu kamar Selin penuh kekhawatiran. Ceklek! Pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Selin yang sedang menangis sambil memeluk kedua lututnya.


"Hiks.. hiks.. hikss.."


Bara mematung sejenak menatap nanar ke arah Selin yang terlihat rapuh, perlahan dia mendekati Selin kemudian tanpa meminta persetujuan langsung merengkuh tubuhnya untuk digendong ke tempat tidur.


Bara memperhatikan wajah Selin yang dipenuhi keringat basah tangannya terulur untuk menyentuh dahi Selin. "Panas," Ucap Bara penuh kekhawatiran kemudian bergegas keluar kamar untuk membawa kebutuhannya di lantai satu.


"Anet, Anet," Panggil Bara yang tidak mendapat respon apapun. Setelah tiba di lantai satu Bara memutar pandangannya untuk mencari keberadaan Anet dan Raka yang menghilang entah kemana. Helaan nafas keluar dari mulut Bara.


Sepertinya menunggu Anet bukanlah pilihan terbaik saat ini, akhirnya Bara memutuskan untuk mengurus Selin sendiri walaupun dia tahu sepertinya Selin akan menolaknya. Bara mencari handuk kecil dan mangkuk besar untuk air hangat, "Mmm, bawa apa lagi ya?" Tanya Bara pada dirinya sendiri. Maklum saja hampir 5 tahun dia hidup seorang diri dan sudah lupa bagaimana mengurus orang yang sakit.


Bara membuka kulkas untuk mengambil beberapa buah-buahan takut Selin lapar, kemudian mencari obat Selin yang untungnya ada di atas meja. Setelah semuanya terkumpul dia bergegas menaiki tangga dan berjalan ke arah Selin.


Tuk! Dengan perlahan Bara meletakkan barang bawaannya ke nakas dekat kasur. "Minum dulu," Ucap Bara kemudian meraih tengkuk Selin untuk membantunya minum. Dengan mata yang terpejam Selin membuka mulutnya agar kerongkongan keringnya bisa terbasahi oleh air. Setelah selesai, Bara memperhatikan beberapa obat yang ada di kantung plastik sambil mengingat-ingat obat mana yang harus diberikannya kepada Selin untuk pereda rasa sakit. Setelah yakin dengan pilihannya, Bara kembali membangunkan Selin kemudian memberikannya obat.


"Sakit, hiks.. Hiks.." Ucap Selin lirih dengan air mata yang membasahi wajahnya, dengan mata yang terpejam Selin menyentuh kakinya.


"Mana yang sakit hmm?" Tanya Bara kemudian mengambil handuk yang sudah di basahi air hangat lalu di letakan di atas Selin agar panasnya turun.

__ADS_1


"Geser dulu ya sedikit, biar gampang aku pijitinnya." Ucap Bara meminta ijin untuk memindahkan tubuh Selin lebih ke tengah kasur setelah menerima persetujuan Selin, Bara mengangkat tubuh ramping Selin ke tengah ranjang. Kemudian mulai memijat kakinya.


Helaan nafas keluar dari mulut Bara, dia tidak kuat melihat melihat Selin yang begitu rapuh seperti ini. Dia tidak bisa memaafkan begitu saja orang yang sudah membuat Selin menderita seperti ini, "Aku tidak membiarkan kamu terluka lagi." Ucap Bara penuh keyakinan.


Deru nafas teratur mulai terdengar, yang menandakan Selin sudah kembali tidur. Bara tersenyum lega kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Selin. Tangannya terulur untuk mengelus-elus kepalan Selin lembut penuh kasih sayang. Dia tidak sanggup membayangkan selama ini Selin sakit siapa yang berada di sampingnya, mungkinkah saat sakit seperti ini Selin berjuang sendirian. "Maafkan aku," Gumam Bara lirih dengan dengan air mata yang keluar begitu saja dari pelupuk matanya.


"Ngeuuh!" Selin kembali melenguh kesakitan. Bara mendekat ke arah Selin, tangannya setia mengelus-elus punggung Selin untuk menyalurkan ketenangan.


"Maafkan aku karena nggak bisa ngejaga kamu dengan baik," Gumam Bara nyaris seperti bisikan.


"Kenapa harus minta maaf, yang harusnya menjaga aku bukan kamu atau orang lain, tapi diriku sendiri." Jawab Selin parau dengan mata yang terpejam.


Bara mematung tidak percaya ternyata Selin membalas ucapannya. "Hmmm, mulai saat ini aku ingin kembali menjadi orang yang bertanggung jawab atas rasa sakit dan keselamatan mu Selin. Aku serius," Bara melipat tangannya sebagai bantalan sambil menatap Selin penuh keseriusan.


Selin dengan susah payah Selin merubah tubuhnya agar berhadapan dengan Bara, kemudian mengangkat pandangannya untuk memperhatikan wajah Bara. "Kamu menangis?" Tanya Selin tidak percaya melihat wajah dingin Bara seperti sudah menangis.


Selin menggeleng tidak percaya. "Tidak usah berbohong. Apa yang terjadi?"


"Tidak ada apa-apa, wajah ku baik-baik saja." Jawab Bara enggan mengakui jika dia menangis.


Selin tersenyum kecut. "Kamu masih sama, tidak pernah menceritakan apa pun padaku."


"Sel, bukan begitu maksud ku. Aku memang baik-baik saja. Setiap berada di dekat mu aku selalu baik-baik saja, sampai melupakan semua kepedihan yang aku rasakan. Jadi, bukannya tidak ingin cerita tapi aku lupa apa yang membuat ku sedih karena berada di dekat mu selalu menghadirkan sebuah kebahagiaan." Ucap Bara yang berhasil membuat Selin mematung tanpa mengatakan apa pun.


"Sel," Panggil Bara lirih.


"Mmmm," Gumam Selin sebagai jawaban.

__ADS_1


"Apa selama berpisah dengan ku, hidup mu baik-baik saja?"


"Tidak terlalu buruk, sepertinya aku baik-baik saja." Jawab Selin seadanya.


Bara mengangguk dengan hati yang hancur. "Syukurlah."


Selin kembali mengangkat pandangannya. "Kalo kamu?"


Bara membalas pandangan Selin kemudian menghela nafasnya panjang. "Hmm, terkadang aku menyesali pertemuan pertama kita. Andai saja waktu itu kita tidak pernah bertemu, mungkin aku tidak pernah mencintai mu sedalam ini. Selama berpisah dengan mu perasaan yang tersisa di hatiku hanya penyesalan, merindukan mu dan memikirkan mu. Andai saja aku tidak mencintai mu, mungkin aku akan baik-baik saja. Tanpa terus mengingat mu, memikirkan mu, mengingat semua kenangan kita yang terkadang menyesakkan." Selin tidak menjawab terhanyut dengan setiap kata yang Bara ucapkan.


Bara meraih tangan Selin kemudian menggenggamnya erat. "Sel, bolehkah aku mengatakan lima tahun ini aku tidak baik-baik aja. Hatiku hancur, jiwaku menderita, aku sangat merindukan mu dan ingin di dekat mu. Aku selalu berusaha mencari mu tapi kamu seperti menghilang begitu saja di telan bumi. Aku menderita Sel, lima tahun ini tidak semudah itu..." Ucap Bara dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


Selin mematung saat menyadari ternyata Bara juga menderita, tidak pernah Selin melihat Bara serapuh dan sesedih ini. Bara terisak penuh kepedihan raut penyesalan begitu terlihat dari sorot matanya. Selin tersenyum samar kemudian mendekat ke arah Bara. Perlahan tangannya terulur untuk memeluk Bara penuh kerinduan.


"Tenang saja, akibat kebodohan mu itu bukan hanya kau yang tersakiti. Lima tahun ini juga tidak mudah untuk ku, anggap saja kita impas." Selin memejamkan kedua matanya dengan tangan yang setia menepuk-nepuk punggung Bara.


"Hiks.. Hiks.." Tubuh Bara bergetar tangisnya semakin pecah. Akhirnya dia kembali mendapatkan tempatnya untuk menangis. Bara membalas pelukan Selin dengan erat.


"Walaupun kata maaf tidak pantas untuk ku ucapkan.... aku ingin minta maaf Selin.... Maaf kita pernah bertemu, dan membuatmu mencintai ku. Andaikan kita tidak bertemu, mungkin kamu tidak akan jatuh cinta pada manusia brengsek seperti ku." Selin tersenyum samar kemudian mengangguk. "Maaf juga karena sudah membuat mu jatuh cinta," Bisik Selin lirih.


..."Mengenalmu tak pernah membuatku menyesal. Hanya saja penyesalanku ada ketika terlalu memberikan kepercayaan yang besar dan akhirnya di sia-siakan."...


...*****...


...Akhirnya Bara punya tempat untuk nangis lagi gais... ...


Jangan baca aja, klik vote sama komennya juga ya.. Gratis ko..

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2