Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 32 : Kejahilan Bara


__ADS_3

"Sel, terimakasih banyak!" Ucap Bara kemudian membungkukkan badannya kepada Selin penuh rasa terimakasih.


Selin mematung di tempat dengan pandangan yang berkaca-kaca. Dia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Bara tersenyum lega dari kejauhan. "Silahkan pulang, untuk hari ini kita libur." Ucap Bara yang berhasil membuat para karyawan semakin kegirangan.


Saat para karyawan lain sudah membubarkan diri, Bara memberanikan diri untuk berjalan ke arah Selin. Bara membuka Jas yang dipakainya kemudian memakaikannya kepada Selin. Bara menghela nafasnya sesak saat melihat penampilan Selin yang jauh dari kata baik-baik saja.


Wajah Selin begitu pucat dan lebam di sebelah pipinya, jika orang yang melakukan hal itu adalah seorang pria sepertinya Bara sudah menghajar orang itu habis-habisan. Tangan Bara terulur untuk merapihkan helaian rambut Selin yang berantakan, Bara tidak habis pikir kenapa perempuan selalu saling jambak ketika ribut, padahal masih banyak cara untuk meluapkan emosi mereka. Seperti saling tampar, saling cubit, atau salang memelototi mungkin pokoknya apapun itu yang lebih terlihat elegan dan aman.


Selin hanya diam membisu dengan helaan nafas panjang yang tidak pernah berhenti. Bara bertanya-tanya di dalam hati kenapa Selin sulit sekali menangis di hadapan orang lain saat keadaan begitu membuatnya menderita. Dia terlalu pintar menutupi kesedihannya.


Bara beralih memperhatikan kaki Selin yang terlihat bengkak, sepertinya terkilir saat berkelahi tadi. Dia kemudian membungkuk untuk memastikan keadaan kaki Selin. "Shtt," Selin mendesis saat Bara menyentuh kakinya yang terkilir.


"Haaah," Bara menghela nafasnya panjang kemudian melipat tangannya di depan dada.


Selin mengangkat pandangannya ke arah Bara penuh tanda tanya. "Kenapa menatapku seperti itu?"


"Kenapa kakimu bisa terluka?" Tanya Bara serius.


"Wanita tadi mendorongku dengan kuat," Jawab Selin acuh dan beralih menatap pergelangan kakinya yang terlihat membengkak.


Bara menggeleng-gelengkan kepalanya penuh kesombongan. "Harusnya kamu bisa melindungi dirimu sendiri dengan sangat baik, bukannya malah terlihat menyedihkan seperti ini. Masa sama ibu-ibu kalah," Ucap Bara memancing kekesalan Selin.


Sedangkan Selin sama sekali tidak terpancing, dia hanya tersenyum samar menertawakan dirinya sendiri.


"Sepertinya kakimu patah," Ucap Bara yang berhasil membuat Selin seketika membeku.


Selin langsung memperhatikan pergelangan kakinya yang mulai terasa sakit, dia tidak percaya jika kakinya akan begitu rapuh. Pandangannya mulai berkaca-kaca. "Jangan bercanda," Ucap Selin dengan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya.

__ADS_1


Selin tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, dia pasti akan merepotkan banyak orang. Lalu bagaimana dengan Juna dan Jeno yang harus ia nafkahi, dia sama sekali tidak mau membebani mereka berdua. Harusnya di umur mereka yang sekarang, mereka hanya sibuk bermain tanpa harus memikirkan apa pun.


"Hiks, hiks, hiks.. Bagaimana ini," Ucap Selin dengan tubuh yang bergetar karena tangis. Selin tidak tau lagi harus apa, rasanya hidupnya hancur seketika. Kenapa hidupnya tidak pernah berjalan mulus seperti orang lain, kenapa setiap selesai sebuah permasalahan maka permasalahan baru selalu menunggunya.


Selin mengangkat pandangannya ke arah Bara. "Hiks, hiks, hiks.. Bara.. Aku harus bagaimana?.." Ucap Selin serak dengan tubuh yang sudah bergetar.


Bara tersenyum sendu kemudian mengelus kepala Selin lembut. Tanpa meminta persetujuan Selin dan masa bodoh dengan keadaan sekitar Bara memeluk Selin dengan penuh kasih sayang. Tangannya menepuk-nepuk punggung Selin memberikan kekuatan. "Semuanya akan baik-baik saja," Ucap Bara sebagai penghiburan.


"Hiks, hiks, hiks." Selin membalas pelukan Bara dan menumpahkan semua kekesalan dan kepedihan yang selama ini ia rasakan. Semua air mata yang selama ini ia tahan, semua kepedihan yang selama ini ia rasakan. Semuanya meluap begitu saja tanpa bisa Selin cegah. Benteng pertahan yang selama ini Selin bangun roboh seketika, dia sudah tidak bisa berpura-pura baik-baik saja, dia sudah tidak bisa berpura-pura kuat, dan tidak bisa lagi bersikap tenang.


Baju kemeja Bara perlahan terasa basah karena air mata yang Selin keluarkan. "Menangislah," Gumam Bara berharap Selin akan menangis lebih hebat lebih dari ini.


Bara tidak suka melihat Selin yang terlihat tenang padahal dia sedang bertarung hebat dengan dirinya sendiri. Dia ingin melihat Selin marah ketika di fitnah, melihat Selin menangis ketika sedih, dan tertawa ketika bahagia. Bukannya terlihat tenang apa pun kejadian yang menimpanya, dan tersenyum penuh kepahitan yang bisa menyayat hati setiap yang melihatnya.


Bara mengelus-elus kepala Selin penuh kasih sayang. "Kenapa kamu selalu berpura-pura kuat di hadapan semua orang, harusnya saat semua orang menuduh mu kamu marah dan memaki-maki mereka, saat ada orang memfitnah mu sebagai perebut suami orang harusnya kamu menjambak rambut wanita itu lebih kuat atau membalas tamparannya, atau memarahinya habis-habisan, bukannya malah memendamnya sendiri seperti orang yang paling kuat."


Selin hanya sibuk menangis dan enggan menjawab semua perkataan Bara yang berhasil menamparnya. "Hiks.. Hiks.. Hiks.."


Bara sedikit melerai pelukannya dan menatap Selin hangat. "Kamu paham kan apa yang barusan aku bilang?"


Selin menghapus air mata di wajahnya kemudian mengangguk paham. "Anak pintar," Ucap Bara kemudian mengacak rambut Selin gemas.


"Kaki mu baik-baik saja, hanya terkilir biasa. Aku berkata seperti itu agar kamu menangis dan meluapkan semua kepedihan yang kamu rasakan." Ucap Bara dengan satu tangan masih diletakkan di atas kepala Selin.


Selin mengerjap-ngerjap matanya kemudian mengerahkan kakinya yang ternyata masih bisa digerakkan. "Kurang ajar!.. Hiks..hiks.. Dasar jahat! Jahat! Jahat! Hiks, hiks, hiks." Selin memukul mukul bahu Bara, dia tidak habis pikir kenapa sangat mudah dibodohi oleh Bara.


Bara terkekeh saat melihat raut kesal Selin yang begitu menggemaskan. "Hmm, pukul aku sesuka hati mu."

__ADS_1


"Hiks, hiks, hiks.. Aku takut... Aku takut kalo nggak bisa jalan.. Nanti Juna dan Jeno gimana.. Hiks.. Hiks.." Ucap Selin yang langsung di balas pelukan hangat oleh Bara.


"Kamu jahat.. Lelucon mu nggak lucu.."


"Iya aku jahat.. Tapi kamu juga jahat sama diri kamu sendiri. Harusnya saat dunia mu nggak baik-baik saja, kamu bisa memaki keadaan, atau ikut menyalahkan orang lain, atau mungkin menjelaskan kepada orang lain jika berita itu tidak benar."


Selin semakin terisak di pelukan Bara antara kesal dan lega, karena kakinya baik-baik saja.


"Harusnya ketika ada orang lain memukul mu atau menyakiti mu, kamu pukul lebih keras atau kalo bisa sampai pingsan!"


"Awww!!" Pekik Bara saat tiba-tiba Selin mencubit pinggangnya dengan kuat.


"Hiks.. Hiks.. Kata kamu kalo ada yang jahat langsung bales.. Hiks..hiks.. Tadi Kamu udah jail sama aku jadi aku langsung balas sama cubitan... Tapi sialnya kamu nggak langsung pingsan."


"Hahahaha," Bara tidak bisa menahan tawanya yang pecah begitu saja.


"Hiks, hiks, hiks.. Berisik.. Gara gara kamu aku nggak bisa berhenti nangis!!" Ucap Selin sambil terisak.


"Hiks.. Hiks.." Tangan Bara terulur untuk menghapus air mata Selin yang tidak berhenti keluar.


Selin menatap Bara tajam. "Kamu jahat! Nyebelin! Pergi sana.. Arghh.. Hiks.. Hiks.. Hiks.." Ucap Selin dengan tangan yang memegang kemeja Bara erat.


Bara terkekeh karena perkataan dan perbuatan Selin sangat bertolak belakang. "Ternyata kamu masih menggemaskan ya, aku jadi jatuh cinta."


"Berisik!" Ucap Selin yang lagi-lagi dibalas pelukan oleh Bara. Selin membalas pelukan Bara yang begitu nyaman dan menenangkan hatinya.


******

__ADS_1


Bara jail banget seeeeh!


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2