
Jeno membeku sejenak mengerjab-ngerjab matanya memperhatikan Juna yang sudah membuka matanya. Air matanya mulai bergelimang, dan untuk pertama kalinya setelah Juna kecelakaan Jeno bisa terisak dengan lega. Namun perlahan isakan itu berubah menjadi teriakan yang bisa membangunkan semua orang dari tidur lelapnya.
"Huaaaaa..... Huaaa... Arghh... Arghh.... Arghh..." Jeno menangis kencang dengan tubuh yang bergetar.
Juna menghela nafas panjang kemudian susah payah meraih tangan adiknya. "Eno berisik ih.." Ucap Juna lirih.
Jeno menunduk kemudian mengangguk tapi dia tidak bisa menahan kesedihannya yang sudah beberapa hari ini ia tahan. Jeno selalu berusaha tegar agar Bundanya tidak ikut-ikutan sedih. Padahal hatinya sangat sedih, takut dan marah. "Huaaa... Hua.."
Bara yang sejak tadi bersandar di kursi memperhatikan interaksi keduanya sejak tadi, melihat Juna siuman beban dihatinya sedikit terangkat. Rasanya dia ingin sekali berjalan ke arah mereka kemudian memeluknya, tapi entah kenapa langkahnya terlalu berat dan dirinya terlalu malu. Akhirnya Bara memutuskan untuk bergegas ke luar untuk mencari dokter.
Tangisan Jeno yang begitu kencang mengusik Selin yang sedang tertidur lelap. Dia langsung tersentak saat melihat Jeno yang sedang menangis hebat yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, walaupun Jeno terkenal cengeng tapi sebenarnya dia tidak pernah menangis sehebat ini.
Deg!
Hati Selin mencelos, dia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Juna, dan Jeno lah yang pertama kali mengetahuinya. Dengan langkah yang lemah Selin berjalan perlahan ke arah Jeno.
"Jeno.. Ada apa?.." Ucap Selin serak sambil menahan tangisnya.
Jeno mengusap ingusnya dan menatap ke arah Selin. "Abang!!! Huaaa.. Udah bangun.."
Selin langsung termenung dan menoleh ke arah Juna.
"Haii Bunda.." Ucap Juna dengan suara yang serak.
Selin mundur beberapa langkah, Tubuhnya berubah lemas dan hampir melorot ke lantai, tapi untung saja Bara sigap menahannya.
"Ya ampun naaaak.. Hiks.. Hiks.." Selin menangis sesenggukan penuh haru.
Bara menengadahkan kepalanya untuk menahan tangisnya sambil berpelukan dengan Selin untuk memberikan ketenangan.
__ADS_1
******
"Keadaan Juna sudah membaik, tapi dia perlu banyak istirahat.." Ucap Dokter yang sudah memeriksa keadaan Juna.
"Baik terimakasih dok.." Ucap Bara sambil mengantar dokter itu keluar ruangan.
Senyuman terbit di wajah Bara saat melihat Selin sedang menyuapi Juna sambil bercerita hangat dengan Jeno. Seolah-olah keadaan sudah normal seperti semula, dan tidak ada yang terjadi.
Tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan Anet yang ngos-ngosan, disusul oleh Niera yang sejak kemarin menunggu di rumah dan menyiapkan segala keperluan Selin. Niera berdiam dihadapan Bara dan membuatnya canggung.
Greb.
Bara mematung saat wanita paruh baya itu tiba-tiba memeluknya hangat. "Terimakasih sudah menemani mereka," Bisik Niera kemudian berlalu ke arah Juna.
Bara tersenyum simpul kemudian berniat keluar untuk menghirup udara segar, tapi langkahnya terhenti saat melihat Farel yang sudah berdiri di pintu. Mereka saling tatap tapi tidak mengatakan apapun, dengan perasaan malas ribut akhirnya mereka sama-sama saling melewati dan mengabaikan.
******
Tapi PR nya belum selesai, sekarang dia harus memikirkan agar tidak bersikap canggung dan salah tingkah di depan si kembar. Karena kalo dipikir-pikir dia seperti orang bodoh yang tidak menyadari kebenaran yang sesungguhnya. Apalagi saat Anet memberitahu kalo si kembar sudah mengetahui Bara adalah Ayah mereka, menambah sesak dan rasa malu dirinya.
"Haaah..." Bara menghela nafas kemudian meminum secangkir kopi dengan hati yang masih gelisah.
Sreet
Tiba-tiba kursi di depannya ada yang menarik, Bara mengangkat satu alisnya keheranan.
"Gue nggak ada waktu buat berdebat, apalagi berkelahi sama lo." Ucap malas pada pria di hadapannya.
Farel terkekeh dengan wajah yang sedikit bersahabat. "Tenang aja, gue kesini bukan mau ribut."
__ADS_1
"Hmmm.." Bara memejamkan matanya sejenak kemudian menegakkan duduknya dan menatap Farel serius, sepertinya pria itu ingin mengatakan sesuatu.
"Gue mau nitip Selin, Juna, Jeno sama lo, ada hal yang harus gue kejar dan sekarang gue sadar kalo mereka aman sama lo, dan butuh kehadiran lo bukan gua. Mereka juga sangat menyayangi pria brengsek kayak lo."
Bara tersenyum simpul kemudian mengangguk, sepertinya persaingan diantara mereka akan segera berakhir.
Farel menautkan kedua tangannya dengan perasaan sendu. Sebenarnya dia belum ingin menyerah untuk mendapatkan Selin, tapi mengingat besarnya cinta diantara mereka yang bahkan orang baru kenal saja bisa merasakannya, membuat Farel sadar jika sampai kapanpun dia tidak akan menang dari Bara. "Nitip mereka ya Bar, jangan lo sakiti lagi mereka. Mereka udah terlalu menderita, dan sekarang waktunya mereka bahagia. Dan yang wajib membuat mereka bahagia itu lo. Bukan gue atau yang lain."
Bara menoleh ke arah jendela dengan tatapan menerawang. "Tanpa lo minta pun, gue bakal ngelindungin mereka, orang-orang yang gue sayangi bahkan lebih berharga dari hidup gue. Sebenarnya gue muak denger lo seolah-olah tau semua tentang mereka. Tapi gimana lagi, emang gitu kenyataan nya." Ucap Bara dengan tersenyum ketir.
Bara menatap Farel serius. "Makasih bro selama ini lo udah ngejaga mereka, merhatiin mereka, dan memperlakukan mereka dengan baik layaknya keluarga lo sendiri. Gue bersyukur banget Selin bisa kenal sama orang baik kayak lo."
Farel tersenyum penuh keheranan, dia salah tingkah sambil membenarkan dasinya merasa aneh di puji oleh orang yang menjadi saingannya.
"Lo itu baik banget.. Aseli..." Ucap Bara sambil terkekeh saat melihat Farel salah tingkah. "Jangan-jangan dia naksir gue lagi.." Gumam Bara ngawur di dalam hatinya karena Farel tersenyum yang membuatnya geli.
"Jangan lebay lo!" Bentak Farel kesal karena dia bisa menebak saat ini Bara sedang meledeknya secara tidak langsung.
"Serius.. Lo itu baik banget walaupun Selin udah nolak lo ratusan kalo, dan tetap milik pesona ketampanan gua yang tiada tanding. Sorry ya bro.. Kalo soal kegantengan itu di luar kuasa gua, semoga suatu saat ada wanita yang bisa menerima lo dengan segala keburuk rupaan lo.." ucap Bara penuh kemenangan karena bisa meledek Farel secara halus.
"Bangs*t!" ucap Farel kesal.
Dan tidak lama setelah itu mereka malah tertawa bersama-sama, menertawakan tingkah mereka sendiri. "Hahahahaha.."
******
Maaf ya ges ya, otor udah lama banget nggak up karena kesibukan di dunia nyata... Love You...
Dukung karya ini dengan memberikan Like, Vite, Komen dan Share ke temen-temen kalian. Agar karya ini bisa dinikmati oleh orang banyak yupp.. :)
__ADS_1