Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 37 : Pertandingan PS yang ditunggu-tunggu


__ADS_3

Raka mendelik tajam ke arah Bara dan kawan-kawan yang sedang asik bermain PS. Dia menghela nafasnya berat dan menatap laptopnya nanar, sepertinya dia tidak bisa fokus untuk mengerjakan pekerjaannya yang sudah menumpuk di hadapannya.


Anet mengumpat penuh kekesalan. "Siall!!!" Di tambah teriakan Anet yang begitu menggelegar melebihi guntur saat hujan.


Memang bekerja di rumah Selin adalah keputusan bodoh yang dia ambil. Harusnya tadi setelah mengantar baju, Raka cepat-cepat pergi ke kafe untuk mengerjakan tugasnya. Tapi anehnya rasanya sangat berat untuk cepat-cepat pergi dari rumah ini. Entah kenapa rumah Selin selalu berhasil memberikan efek candu dan tanpa dia sadari, beban yang awalnya menumpuk di bahunya seperti perlahan terangkat. Pantas saja Bara begitu betah di rumah ini walaupun nyaris seperti babu dan kehilangan wibawanya.


Raka melangkah ke arah Selin lalu bersandar pada sopa yang begitu empuk, Bara memilih berada di dekat Selin karena Selin adalah satu-satunya orang yang waras di rumah ini. Sayang sekali si kecil Juna dan Jeno sudah terinfeksi virus dari manusia Anet. "Kaki kamu udah baikan?" Tanya Raka yang saat ini duduk di samping Selin.


Tubuh Selin langsung tegak dan menatap Raka penuh hormat. "Udah Pak," Ucap Selin sambil mengangguk.


"Jangan panggil saya Bapak Lin, kita hampir seumuran ko. Kalo di luar kantor santai aja," Ucap Raka yang berhasil membuat Selin menaikan satu alisnya merasa aneh. Pasalnya selama ini Raka tidak pernah bersikap santai kepadanya. Tapi beberapa hari belakangan ini dia berubah menjadi pribadi yang ramah. Tentunya itu adalah kabar baik, tapi rasanya Selin masih belum terbiasa melihat Raka yang ramah.


"Mmm iya, terus saya harus panggil apa?" Selin berpikir keras.


"Raka aja," Ucap Raka yang langsung dibalas anggukan oleh Selin.


Sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan yang ini Selin tanyakan pada Raka tapi dia ragu untuk menanyakannya. "Mmm, soal Pak Wira gimana?" Tanya Selin memberanikan diri.


Raka menghela nafasnya lemah terlihat garis kelelahan di wajahnya yang datar. "Ya sesuai dugaan. Nggak mudah membuktikan kalo dia bersalah, banyak bukti-bukti palsu yang dia buat dengan rapih. Tapi tenang aja, saya pasti bisa menuntutnya dengan adil."


Selin manggut-manggut paham. "Kalo istrinya baik-baik saja?"


Raka berpikir sejenak. "Dia terguncang, mungkin dugaan perselingkuhan di tambah kenyataan pahit yang harus dia hadapi."

__ADS_1


Selin menunduk dan mengingat wajah penuh amarah wanita yang menamparnya. "Jangan tuntut dia ya, aku nggak mempermasalahkan luka-luka di tubuhku. Toh nggak terlalu parah juga, aku paham kenapa dia bersikap impulsif seperti itu. Bagi seorang istri, perselingkuhan sama dengan kehancuran di hidupnya. Aku kagum dengan dia, yang bisa mencurahkan semua kemarahannya bukan malah so kuat dan memendamnya sendiri." Ucap Selin dengan pandangan yang menerawang lalu menoleh ke arah punggung Bara yang tegap.


Raka tersenyum samar ternyata di dunia ini masih ada orang baik yang berusaha memahami orang lain yang sudah melukainya. "Baiklah jika itu mau mu, aku tidak akan mengusiknya. Mungkin hanya mengajaknya mengobrol santai," Jawab Raka yang berhasil membuat Selin tersentak.


"Mengobrol santai gimana? Ngobrol versi kamu pasti memberikan tatapan dingin yang menakutkan bukan?" Selin tahu ngobrol santai Raka berbeda definisi dengannya, pasti santai menurutnya adalah keadaan mencekam dan dingin yang selama ini Raka lakukan. Memikirkannya saja berhasil membuat Selin bergidik ngeri.


Raka terkekeh melihat raut terkejut Selin yang begitu ketara. "Memang aku menakutkan ya?"


Selin menggaruk pelipisnya canggung. "Eh maaf Pak, maksud saya.." Selin memejamkan matanya penuh penyesalan karena sudah lepas kontrol, bagaimana jika Raka membalasnya ketika di kantor.


"Santai aja Lin, ya ngobrol santai seperti yang kita lakukan ini." Ucap Raka yang tentu saja tidak membuat Selin percaya.


"Arggggggh!!" Teriak Anet frustasi saat Bara kembali melewatinya. Sepertinya dia tidak punya harapan lagi untuk menang, tapi bukan Anet namanya kalo menyerah begitu saja. Sambil bermain dia memutar otak untuk mengalahkan Bara dengan segala cara. Baginya pertandingan ini sangat penting, karena kesepakatannya dengan Bara sangat menguntungkan dan dia butuhkan sekali.


Bara menoleh ke belakang dan menatap Selin dengan tatapan penuh kesombongan memamerkan keahliannya bermain PS. Melihat Bara yang narsis sontak Selin memutar bola matanya malas, walaupun hati kecil mengakui kehebatan Bara. Tapi dia terlalu gengsi kalo harus memujinya terang-terangan. Selin membulatkan kedua matanya memelototi Bara agar berhenti menatapnya, sedangkan Bara hanya terkekeh melihat Selin yang menurutnya lucu kemudian kembali fokus ke pertandingannya dengan Anet.


Raka yang sejak tadi mulai memperhatikan permainan Anet mulai angkat bicara. "Payah!"


"Berisik!" Ucap Anet dengan tatapan tajam. Tiba-tiba ide cemerlang muncul di otak seksinya. Dengan cepat Anet beradu tatap dengan si kembar penuh arti.


Juna dan Jeno tersenyum samar penuh arti, mereka paham dengan maksud Anet dan mulai bangun untuk mendekat pada Bara. Bara yang sejak tadi fokus dan mengabaikan riuh ricuh dihadapannya santai saja tanpa merasa ada dalam bahaya.


Tiba-tiba pinggangnya di sentuh oleh si kembar, mereka menggelitik Bara tanpa ampun."Ahahahaha, ahahahha, aduhhh!" Bara tidak bisa menahan gelak tawanya karena tidak sanggup menahan rasa geli akibat perbuatan si kembar. Bara tidak menyangka Anet akan melakukan segala cara untuk menang di pertandingan yang receh ini.

__ADS_1


Anet tersenyum penuh kemenangan, tanpa menunggu lagi Anet langsung tancap gas untuk memenangkan pertandingan ini. "Yeaaaaaay!!!!!" Teriaknya penuh kebahagiaan lalu lompat-lompat di atas karpet seperti kesetanan.


"Ketek! Ketek! Ketek!" Ucap Juna dan Jeno penuh kebahagiaan.


"Ahahaa.. Hahahaha.." Bara sudah tidak kuat lagi, dengan sigap dia menarik Juna dan Jeno ke pelukannya lalu membalas perbuatan mereka.


"Aduhhh.. Jenoo.. Hahahhaha."


"Yeeeeayyyy! Gue menang!!"


"Hore!!!! Yeee!!!"


"Yeyeyeye lalalala," Teriak Anet kegirangan.


"Paus Entertainment, sembur! Sembur! Sembur!"


"Ahahahah," Anet tertawa penuh kebahagiaan seperti orang yang menang lotre ratusan juta.


Selin dan Raka saling bertatapan kemudian memijat pelipis mereka yang terasa penih akibat kegaduhan yang tersaji di depan matanya. Tanpa Selin sadari senyuman hangat menghiasi wajahnya saat melihat interaksi anaknya dan Bara begitu terlihat bahagia dan hangat. "Andai saja," Gumam Selin di dalam hati.


*******


Yeay! hari ini Author update 2 chapter.

__ADS_1


Yuk ramaikan kolom komentar biar author tambah semangat.


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2