Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 62 : Akhirnya hari ini tiba


__ADS_3

Bara ikut menangis dengan Juna dan Jeno di dalam pelukannya. Dia tidak bisa membayangkan jika tidak akan bertemu dengan kedua anak tampan ini, hatinya dipenuhi rasa syukur yang begitu melimpah karena tuhan masih berbaik hati padanya untuk bisa bertemu dengan orang-orang yang begitu ia cintai.


Dari kejauhan Selin tak kuasa menahan air matanya saat melihat kedua anaknya di peluk dengan penuh kasih sayang selain dirinya sendiri. Tanpa bisa di cegah langkahnya semakin mendekati ketiga pria itu kemudian ikut berpelukan.


******


"Mau kemana?" Tanya Raka saat Anet melengos begitu saja ke arah pintu belakang.


Anet menoleh dengan tatapan tajamnya, dia kesal karena Raka bukannya pulang malah mengekor kepadanya seperti anak kecil. "Apaan sih," Bentak Anet dengan tangan terlipat di dada.


Raka menggeleng heran dengan sikap ketus Anet kepadanya, padahal di dalam hati Raka sangat yakin Anet sangat khawatir dan peduli kepadanya. "Yakin nggak kangen?" Tanya Raka dengan satu alis dinaikan penuh godaan.


Anet mendengus sebal dengan sikap raka yang merecokinya dengan pertanyaan yang tidak masuk akal. "Apaan sih! Pergi lo!" Bentak Anet dengan telunjuk ke arah rumah kemudian melanjutkan langkahnya kembali.


"Udah jangan gengsian, aku tahu ko kamu pasti cemas sama aku kan?" Bisik Raka tepat di telinga Anet.


Seketika langkah Anet terhenti saat tiba-tiba Raka memeluk bahunya dari belakang. Hembusan nafas Raka yang hangat terasa menerbangkan kewarasan Anet. Kedua bola matanya membulat sempurna dengan pikiran yang sedikit membeku. Setelah beberapa menit berlalu kewarasan Anet mulai kembali, dengan sekuat tenaga dia melepaskan rengkuhan Raka yang selalu seenaknya. "Jangan geer deh jadi orang! Jijik gue dengernya!. And FYI ya, jangan nempel-nempel sama gue!. Gue udah punya pacar!"


"Ya terus?!. Walupun kamu udah punya pacar tapi kamu sukanya sama aku, emang pacar mu bisa apa?" Ucap Raka yang berhasil membuat Anet menganga tidak percaya. "Terus kamu yakin gitu kalo pacar kamu nggak selingkuh?" Lanjutnya.


Anet tersenyum kecut. "Lo kenapa sih?, kayaknya kewarasan lo tertinggal di pesawat deh!" Ucap Anet kesal dengan telunjuk mengarah ke arah Raka.


"Hahahaha," Entah kenapa melihat raut kesal Anet selalu berhasil membuat Raka tertawa, mungkin sekarang tingkat kerecehan diri Raka sudah meningkat dibanding semula.


"Diihhh," Anet memutar bola matanya malas kemudian duduk di kursi yang menghadap halaman belakang.


"Bisa nggak sih wajah lo sedikit santai kalo ketemu gue, keliatannya marah-marah terus." Tanya Raka heran kemudian ikut duduk di samping Anet.


"Sory! Kagak bisa! Inimah emang udah settingan dari sono nya, kalo ketemu lo pasti wajah gue kayak gini!" Jawabnya dengan suara tinggi melebihi sound sistem hajatan.


Mendengar jawaban Anet senyum tipis terukir di wajah tampan Raka, "Yaudah gue cabut ya. Bye!" Lanjutnya kemudian beranjak begitu saja meninggalkan Anet.


Raut kesal penuh kebencian di wajah Anet perlahan luntur saat melihat punggung Raka yang semakin jauh, pandangannya turun pada telapak tangan sambil termenung. Tanpa bisa di pungkiri saat ini hatinya merasa kehilangan saat Raka tidak ada disampingnya. "Huuuuuuh!" Anet menghela nafas panjang kemudian merebahkan badannya di sandaran kursi dengan mata yang terpejam.


******


"Hooooam!" Selin menguap dan terbangun dari tidur lelapnya, saat pandangannya perlahan terbuka ada perasaan sendu dan lega merasuki hatinya. Ternyata saat ini Selin tidak sendirian melainkan bersama Juna Jeno dan Bara di sampingnya. Beberapa jam yang lalu mereka menangis bersama-sama dan tanpa di sadari mereka tertidur bersama padahal niat awalnya hanya menenangkan kedua anaknya di dalam kamar, karena takut mengusik tetangga. Tapi mungkin karena faktor kelelahan dan terlalu lama menangis mereka malah masuk ke alam mimpi dengan begitu nyenyak nya.

__ADS_1


Selin duduk bersila di atas ranjang dengan tatapan yang tidak beralih dari ketiga pria tampan di hadapannya. Selin hanya diam dengan tatapan yang tidak beralih dari ketiga pria yang sangat penting di hidupnya itu. Walaupun belum puas melihat wajah tenang mereka, Selin bangkit dan memilih untuk turun ke dapur.


"Net?" Panggil Selin yang tak kunjung menerima jawaban.


"Mungkin wanita itu pulang," Gumam Selin di dalam hati kemudian berjalan ke arah pintu rumah yang belum di kunci.


Cekrek! Cekrek!


Selin mengunci rumah agar dia biasa melanjutkan tidurnya di sopa karena kamarnya sudah di isi oleh Bara dan kedua anaknya, "Nah kalo kaya ginikan, aku bisa tidur nyenyak tanpa takut kemalingan." Ucapnya bersiap membalikan badan.


Greb!


Namun, sebelum tubuhnya berbalik seseorang sudah memeluknya terlebih dahulu. Selin membeku saat tubuhnya di peluk dengan hangat dari belakang. "Aku sangat merindukan mu," Gumam Bara lirih dengan kepala di benamkan di celuk leher Selin. Selin menoleh ke arah Bara kemudian berbalik untuk membalas pelukan orang yang sangat dicintainya.


"Aku takut," Jawab Selin lirih dengan rasa gengsi yang sudah terbang entah kemana. Setelah kejadian pesawat itu, Selin menjadi sadar jika waktu sangatlah berarti dan terlalu sia-sia jika harus terus-terusan memikirkan rasa sakit di masa lalu sampai-sampai kebahagiaan di depan mata dilupakan begitu saja.


Bara terkekeh dengan kedua mata yang masih setia terpejam. Selin mengepalkan kedua tangannya. "Sepertinya aku masih sangat mencintai mu," Ucapnya dengan perasaan berdebar antara malu dan takut kecewa.


Bara membeku sejenak sampai kehabisan kata-kata, dia langsung menatap Selin dengan tatapan tidak percaya. "Apa? Aku tidak mendengarnya." Ucapnya tidak percaya jika Selin akan mengakui perasaannya.


Puk! Sontak Selin memukul lengan Bara dengan keras. "Yasudah!" Ucapnya kemudian berniat pergi.


Selin tidak menjawab dan hanya memutar bola matanya kesal. Bara sedikit terkekeh melihat raut kesal Selim.


"Kamu percaya kan?" Tanya Bara penuh keseriusan dan akhirnya Selin mengangguk sebagai jawaban.


"Anak pintar," Senyum sumringan menghiasi wajah Bara dan tangannya sibuk mengacak-acak rambut Selin yang begitu lembut.


"Berantakan tau!!" Protes Selin tidak terima.


Bara terkekeh kemudian menarik kembali Selin dalam dekapannya. "Sel.." Panggil Bara lirih.


"Hmmm," Lagi-lagi Selin hanya bergumam sebagai jawaban.


"Apa hubungan kita bisa berubah seperti dulu?" Tanya Bara yang berhasil membuat Selin termenung.


Selin berpikir mencerna setiap pertanyaan yang Bara berikan. "Mmm, dengan perlahan-lahan.."

__ADS_1


Bara menghela nafas lega penuh kebahagiaan. "Makasih banyak Sel.. Kamu masih memberiku kesempatan yang sangat luar biasa. Aku akan selalu berusaha tidak mengecewakan mu lagi."


Selin mengangguk penuh keyakinan. "Aku tagih janji mu itu."


"Siap sayang ku!" Ucap Bara dengan tampang tengilnya yang menyebalkan.


"Apaan sih sayang, sayang!" Jawab Selin dengan kedua mata yang membulat sempurna.


"Loh, Itu kamu juga manggil sayang."


"Tadikan cuma semisalnya bukan manggil kamu sayang."


"Tuh itu udah manggil Sayang lagi!"


"Apaan sih, rese!" Teriak Selin tidak mau kalah.


Melihat raut kesal Selin berhasil membuat Bara tertawa terbahak-bahak. "Ahahahaha, udah dong jangan marah."


"Berisik!" Selin melipat tangannya di depa dengan perasaan yang sangat kesal.


Melihat Selin yang akan pergi dengan sigap Bara menarik Selin ke arah sopa agar duduk. "Aku nggak nyangka hari yang selama ini hanya aku bayangkan akhirnya tiba," Ucap Bara serius dengan kedua tangannya menggenggam erat tangan Selin.


Selin menautkan alisnya tidak paham. "Hari yang mana?"


"Hari dimana aku bisa mendengar kamu ngucapin sayang sama aku tanpa ragu, hari dimana nggak ada lagi tatapan penuh kebencian di matamu."


"Setiap detik di kehidupan ku, aku selalu membayangkan hari ini akan tiba. Dan akhirnya berkat kesabaran ku hari ini tiba juga Sel, aku bahagia banget. Makasih udah ngasih aku kesempatan yang kedua."


Selin membeku dengan tatapan berkaca-kaca. "Aku juga makasih, karena kamu udah membuktikan kalo kamu nggak seburuk yang aku kira." Ucap Selin yang langsung dihadiahi kecupan hangat dari Bara.


*******


Happy Reading!


Maaf bulan Januari Author jarang update gais.. Karena masih penyesuaian dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.. Insyallah bulan ini rajin update sampai tamat..


See youuuuuuu!

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote dan Komen guysss..


__ADS_2