Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 92 : Pesta Ulang Tahun


__ADS_3

Bruk!


Selin merebahkan tubuhnya di kasur dengan perasaan sedikit kesal.


Anet yang sejak semalam menginap di rumah Selin menghampiri dengan segelas jus di atas nampan.


"Kenapa sih Sel murung gitu?"


Selin menekuk bibirnya dan bangkit dari kasur dengan wajah yang berantakan. "Gue heran aja kenapa Bara nggak ngelamar gue terus, padahal hubungan kita udah baik. Keluarga akur, si kembar akur modalnya cukup, nunggu apa lagi coba."


Beberapa hari kebelakang pikiran Selin terus-terusan dihinggapi rasa over thinking tentang hubungannya dengan Bara. Pasalnya sampai detik ini Bara tak kunjung memberinya kepastian dan tidak ada tanda-tanda mereka akan menikah.


"Apa dia nggak sayang lagi sama gue gitu?, cuma mau ngurus anak aja. Mana sekarang si kembar udah akrab banget sama bapaknya, sekarang aja mereka lagi nginep di rumah neneknya. Net bayangin gue bakalan hidup sebatang kara." Ucap Selin yang mengundang jitakan Anet tepat di kepalanya.


"Hilihh, ngawur tuh otak. Udah ah nggak baik. Mendingan sekarang lo ganti baju, susul si kembar yang lagi bikin bolu buat ulang tahun Bara."


Selin mendengus sebal karena tidak ada yang memihak nya. "Gak seru! Curhat sama lo nggak seru!" Ucap Selin kemudian berjalan ke kamar mandi.


Anet hanya menggelengkan kepalanya, dan setelah Selin masuk ke kamar mandi barulah ia cengengesan penuh arti.


*****


Selin masuk ke rumah Meta dan terlihat pemandangan dapur yang begitu berantakan tapi menghangatkan hati. Selin tersenyum kemudian berjalan untuk menghampiri kedua anaknya yang sedang sibuk membuat kue ulang tahun untuk Bara.


Hari ini Bara ulang tahun dan mereka sudah sepakat untuk memberikan kejutan kepada Bara di rumah Meta yang begitu luas. Tentunya sampai saat ini Bara tidak mengetahui hal itu, dan dengan sengaja Selin meminta Raka untuk menahan Bara di kantor selama mungkin sampai malam nanti.


"Oma selainya udah cukup belum?" Tanya Juna sambil terus membulak-balik selai Strawbery di teflon.


"Udah sayang, sini Oma bersihin biar nggak belepotan." Ucap Meta kemudian membantu Juna.


"Hai, maaf Bunda telat." Ucap Selin yang langsung menarik perhatian si kembar. Juna dan Jeno berlarian ke arah Selin penuh kerinduan.


"Kamu udah pulang sayang, ayo sini bantu Mama." Ucap Meta menyambut Selin dengan suka cita.


Selin mengangguk kemudian menggunakan appron yang sudah tersedia. Mereka asik memasak kue dengan penuh hati-hati dan tentunya Meta sebagai kapten.


"Maa, ini simpan dimana?" Tanya Selin sambil membawa Bolu panas yang baru keluar dari oven.


"Udah taro situ aja," Tunjuk Meta ke arah tempat hias Bolu.


Meta mulai menghias bolu ditemani oleh dua kurcaci yang sejak tadi duduk di kursi dengan tangan yang belepotan dipenuhi selai strawbery.

__ADS_1


"Huuuh, Daddy belum datang juga." Ucap Jeno sudah tidak sabar ingin memakan bolu buatan Meta yang sangat menggiurkan.


"Kan sengaja sayang, biar surprise kita berhasil. Kamu itu gimana sih," Selin menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian membuka ponsel.


Meta yang sedang asik mendekor jadi teringat sesuatu. "Sel katering udah siap kan sama dekor?"


Selin mengacungkan jempolnya. "Udah Ma, katering lagi di jalan kalo dekor itu hampir selesai."


Saat Selin menoleh, kedua bola matanya langsung membulat sempurna saat melihat keadaan Juna. "Abang, udah dong selainya jangan dimakan terus kan buat bolu."


Juna terkekeh sambil menjilat jarinya. "Hehe maaf Bunda, abisnya enak banget."


"Jelas dong, selai buatan Oma memang yang terbaik." Ucap Meta penuh kebanggan.


"Hehehe," Juna dan Jeno terkekeh bersama-sama, memang mereka sangat suka dengan segala bentuk strawbery.


"Sini sayang bantu Mama dekor bolunya."


Selin mengangguk kemudian menghampiri Meta dan mengikuti setiap instruksi yang diperintahkan kepadanya.


*****


Akhirnya yang ditunggu datang juga, sebuah mobil memasuki pekarangan dan terlihat Bara keluar dari mobil dan berlari kecil ke arah Selin.


"Selamat malam Nona, wah kenapa cantik sekali malam ini." Puji Bara yang membuat Selin mendengus sebal.


"Oh kemarin-kemarin aku nggak cantik gitu?"


Bara terkekeh kemudian menggenggam tangan Selin hangat. "Kamu selalu cantik." Ucap Bara yang berhasil membuat kedua pipi Selin memerah.


"Udah berisik. Jongkok!" Perintah Selin yang membuat Bara kebingungan.


"Jongkok gimana?" Walaupun tidak paham Bara tetap menuruti keinginan Selin.


"Tutup matanya!"


"Tutup mata apa?" Bara masih kebingungan.


"Ish cepetan tutup," Ucap Selin jengkel karena Bara banyak bertanya.


Bara menghela nafas panjang kemudian menutup matanya, Selin terkekeh melihat Bara yang begitu penurut kemudian menutup mata Bara dengan kain yang sudah ia siapkan.

__ADS_1


"Ihh kalo ditutup aku nggak bisa liat kecantikan kamu dong." Celetuk Bara yang tidak digubris Selin.


"Apaansih gombal!!"


"Ahahaha, iya deh."


Selin menuntun Bara ke halaman belakang.


"Sel kamu mau ajak aku ke hotel? Sel kita belum nikah lagi dosa tau."


"Awww!!" Pekik Bara saat tiba-tiba Selin mencubit pinggangnya.


"Berisik! Otak kamu ngawur terus, sekali ngomong lagi awas aja kamu."


"Hehe iya deh aku mau diem aja."


"Ayo sini," Selin kembali menuntun Bara dengan hati-hati, dan pria itu sudah memasrahkan hidupnya untuk Selin bimbing, tidak peduli dia akan jungkir ataupun jatuh saat dia berjalan.


"Hati-hati," Ucap Selin saat Bara sedikit terhuyung.


"Sel mau kemana? Aku takut jatuh."


"Suhhhtt," Selin memerintahkan Bara agar tidak banyak bicara, dan lagi-lagi pria itu kembali menurut.


Selin tersenyum bangga saat dia dan Bara sudah sampai ke tempat tujuan.


"Buka," Ucap Selin pelan tapi masih terdengar oleh Bara.


Bara sedikit celingukan tapi tetap mengikuti perintah wanita yang sangat ia cintai itu. Tangan Bara terulur untuk membuka kain yang membungkus wajahnya. Dan saat kain itu terbuka pemandangan yang bisa ia lihat adalah gelap gulita.


"Surpriseee!!!!"


Bara sedikit tersentak karena tiba-tiba keadaan sekitar menjadi begitu indah dan di taman belakang sudah dipenuhi orang banyak. Bara menoleh ke arah Selin dengan pandangan berkaca-kaca, tanpa meminta persetujuan Bara langsung menarik Selin ke dalam pelukannya. Selin terkekeh dan membalas pelukan Bara tak kalah erat.


"Daddy Happy Birthday!!" Ucap Juna dan Jeno serempak dengan bolu yang sudah mereka bawa.


Bara melerai pelukannya dan langsung melihat ke bawah ternyata kedua anaknya sudah berdiri rapuh dengan penampilan begitu tampan. Entah sudah berapa kali kalimat syukur ia panjatkan, Bara menekuk kakinya kemudian menciumi pucuk kepala Juna dan Jeno penuh haru.


"Thank you sayang."


******

__ADS_1


__ADS_2