Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 38 : Koala bernama Aileen


__ADS_3

Juna dan Jeno berjalan penuh semangat ke arah Selin penuh kebahagiaan. Selin hanya geleng-geleng kepala melihat antusiasme kedua anaknya. "Ndaa, kita menang!" Teriak Jeno sambil memeluk Selin erat. Selin menjauhkan Jeno lalu menatapnya lekat-lekat, dia tidak mengerti apa yang membuat Juna dan Jeno begitu bahagia hanya karena menang bermain PS.


Selin menarik tangan Juna yang agak jauh lalu membelai kedua anaknya dengan lembut. "Selamat ya, tapi lain kali jangan kaya gitu. Kalian harus suportif jangan ke hasut sama Tante Anet."


Mendengar namanya di sebut Anet langsung menatap Selin tidak terima. "Loh emang aku lakuin apa? Kita nggak curang ko. Kita cuma bekerjasama untuk mencapai sebuah tujuan yang lebih besar. Bener nggak?" Tanyanya pada si kembar, tapi keduanya tidak memberikan respon apapun. Karena virus Anet tidak bereaksi pada mereka saat berdekatan dengan Selin.


"Hmm, yasudah. Kalian minta maaf dulu sama Om Bara," Ucap Selin sambil mendorong mereka ke arah Bara yang masih tertidur di atas karpet.


"Om maafin kita ya.."


"Kalian nggak usah minta maaf, Om happy


Ko!"


"Om, Ternyata permainan PS Om Bara hebat banget!!!" Ucap Jeno bercampur antara maaf dan pujian.


Bara mendongak kemudian tersenyum hangat. "Nggak usah minta maaf, emang Om nya aja yang nggak menang. Jadi gimana? Om boleh nginep?" Tanya Bara meminta kejelasan tentang perundingannya dengan si kembar.


Jeno mengangguk antusias. "Tidur nya sama Eno ya Om, Eno mau minta trik-trik main PS!" Ucapnya penuh semangat.


Bara terkekeh menatap Jeno kemudian beralih ke arah Juna yang sejak tadi diam saja tapi menatapnya dengan pandangan kagum. Bara tersenyum penuh kebanggan karena dia bisa sedikit memamerkan keahliannya. "Oke, setuju. Tos dulu dong!" Ucap Bara mengangkat kedua tangannya.


Plak! Juna dan Jeno langsung menyambut tangan Bara.


Selin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya kemudian melirik jam di dinding yang menunjukan hari sudah semakin malam. "Ayo cepetan tidur, udah malem." Ucapnya pada si kembar.


Mereka mengangguk paham. "Oke Bunda." Mereka berlarian ke arah Selin.


"Bunda cepat sembuh ya," Ucap Juna sambil memeluk Selin penuh kasih sayang. Sedangkan Juna hanya memperhatikan Selin dengan tatapan sendu tapi syarat akan kasih sayang.

__ADS_1


Selin tersenyum hangat. "Iya sayang." Ucap Selin membalas pelukan kedua anaknya.


Juna melerai pelukannya dan menatap Bara penuh permohonan. "Om bantuin Bunda naik." Ucap Juna.


Selin melongo dengan mulut terbuka tidak menyangka Juna akan meminta bantuan kepada Bara. "Nggak usah Bunda bisa sendiri ko," Tolak Selin tegas pasalnya dia sudah muak jadi bahan bullyan Bara.


Walaupun mendapat penolakan dari Selin, Bara tetap berjongkok di depannya dengan suka rela. "Ayo," Ajak Bara sudah siap.


Selin hanya diam dan menyuruh kedua anaknya ke toilet untuk menyikat gigi. "Ayo," Ulang Bara saat Selin malah sok sibuk dan mengabaikan dirinya.


Bara menghela nafasnya pasrah kemudian menoleh pada Selin. "Atau mau Raka yang gendong?" Ancam Bara yang berhasil membuat kedua bola mata Selin membulat sempurna.


"Nggak!" Jawan Selin tegas lalu naik ke punggung Bara dengan perlahan.


Bara tersenyum kemenangan ternyata Raka bisa dijadikan ancaman untuk menakut-nakuti Selin, Bara mulai berjalan perlahan menaiki tangga dengan Selin di belakangnya.


"Punya, ini lagi aku gendong!" Jawab Bara singkat.


Selin memutar bola matanya malas. "Sudah kuduga," Gumam Selin lirih. "Besok-besok jangan menginap disini lagi aku nggak suka," Ucap Selin ketus karena Bara sudah menganggapnya koala.


Bara hanya mengangkat bahunya acuh. "Kalo kamu risih, anggap aja aku teman si kembar."


"Jangan bercanda," Ucap Selin menahan amarahnya. Kalau saja dia tidak takut jatuh sepertinya dia sudah menggigit telinga Bara dengan sangat kuat.


Bara memberikan isyarat agar Selin membantu membuka pintu kamar. "Aku tahu kamu nggak nyaman, dan mungkin aku terlalu berani. Tapi tolong, aku nggak bakal bisa tidur nyenyak di luar sana dengan keadaan kamu yang seperti ini." Ucap Bara saat berjalan masuk ke dalam kamar kemudian menurunkan Selin di pinggiran kasur.


Selin hanya diam membisu dan malas untuk berkomentar lagi.


Melihat Selin yang hanya melamun Bara berjongkok tepat di depan Selin dengan tatapan yang lurus penuh keseriusan. "Aku nggak bisa ninggalin kamu dalam keadaan kaya gini, tadi aja nyaris jatuh dari tangga."

__ADS_1


Selin hanya mengangguk samar tanpa ada niatan membantah.


Bara tahu, Selin pasti tidak nyaman dengan kehadirannya. Tapi dia tidak bisa membiarkan Selin sendirian dengan keadaan yang seperti ini, walaupun terkesan egois tapi Bara akan tetap menginap di rumah ini sampai Selin sembuh. "Sabar ya Selin Sasmaya Aileen, kalo kamu udah sembuh aku nggak bakal gangguin terus kamu."


Selin mengangkat pandangannya ke arah Bara, rasanya sudah lama sekali tidak ada yang memanggilnya dengan nama panjang. "Hmmm," Selin mengangguk patuh.


Bara tersenyum hangat "Tapi berganti gangguin si kembar," Ucap Bara sambil menahan tawanya.


"Bar!" Bentak Selin kesal.


Bara bisa melihat raut kekesalan Selin. "Aku tadi kalah, dan sesuai kesepakatan aku harus menjemput mereka selama satu minggu."


Selin membuka mulutnya dan bersiap mengomel. Tapi saat wajah si kembar terlintas di benaknya perlahan emosi Selin meredup. Mungkin mereka ingin merasakan di jemput oleh Ayahnya sendiri, ya walupun sampai saat ini Ayah mereka masih tidak peka. Akhirnya, Selin mengangguk singkat sebagai persetujuan.


Senyum merekah penuh kebahagiaan tertampil di wajah tampan Bara. "Lin makasih sudah mengijinkan, tolong beri aku kesempatan ya." Ucap Bara sambil menggenggam tangan Selin penuh kehangatan.


Selin mengangkat pandangannya saling beradu tatap dengan Bara, perlahan dia menarik tangannya dan tersenyum terpaksa.


Bara tidak menyerah begitu saja walaupun melihat Selin sudah malas berbicara dengannya. "Sel, Aku masih sangat mencintai mu. Ijinkan aku untuk dekat dengan mu dan kedua anak mu, walaupun kalian menganggap ku hanya teman. Itu sudah cukup untuk ku," Ucap Bara dengan tatapan sendu.


Selin menghela nafasnya panjang siap menjawab, tapi niatannya terhenti saat Bara bangkit dan mencium keningnya singkat. "Selamat tidur," Gumam Bara lirih kemudian berjalan ke arah pintu tanpa menoleh sedikit pun ke arah Selin.


Selin menatap punggung Bara yang berubah menjadi pintu yang terturup. Bruk! Selin merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit dengan sendu. "Huuuftt," Gumam Selin kemudian memejamkan matanya.


******


Yeay! Awalnya mau dua chapter jadi 3 chapter deh.. Yuk ramaikan kolom komentar biar author tambah semangat.


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2