
Dug!
Raka tersentak keluar dari alam mimpi saat sebuah kaki melayang pada rahangnya dengan kuat. Kedua matanya langsung membulat sempurna dan melihat pelaku yang sebenarnya adalah Jeno. Bukannya kesal senyuman malah terbit di wajah Raka, walaupun masih mengantuk Raka bangkit untuk membenarkan posisi Jeno yang entah sejak kapan sudah terbalik.
Saat Raka sedang membenarkan posisi Jeno tiba-tiba Anet terlempar keluar ranjang. Bugh!! Dengan mata tertutup Juna menendang Anet dengan kuat. "Aduh," Pekik Anet saat tubuhnya berbenturan dengan lantai.
Raka hanya mematung dan sesekali melihat ke arah Anet yang sama-sama terbangun, mereka hanya mematung masih belum memahami keadaan. Saat kesadaran mereka sudah kembali mereka terkekeh samar dengan apa yang terjadi, kemudian bertatapan penuh arti, tanpa berpikir lagi mereka langsung membungkus Juna dan Jeno dengan selimut seperti bayi baru lahir.
Anet memberikan isyarat kepada Raka untuk memindahkan si kembar ke kamar Selin yang untungnya sudah Anet buka saat pulang ke rumah. Raka mengangguk paham kemudian memindahkan kedua bocah itu ke kamar Selin sedangkan Anet kembali merebahkan tubuhnya dan tertidur pulas. Setelah selesai dengan urusannya Raka pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Anet dengan posisi saling membelakangi.
******
Sinar matahari mengintip dari sela-sela jendela rumah sakit, perlahan kedua bola mata Selin mengerjap-ngerjap dengan kesadaran yang perlahan kembali. Kedua bola mata Selin terbuka pandangannya langsung jatuh ke tempat Bara berbaring saat didalam mimpinya yang ternyata sudah kosong. Selin tersenyum lega saat menyadari jika kejadian semalam hanyalah sebuah mimpi, jadi dia tidak perlu canggung saat bertemu dengan Bara.
Selin tersentak saat menyadari dia tidur di rumah sakit lalu kemana kedua anak-anaknya. Selin bangun kemudian memutar pandangannya pada ruangan yang kosong, kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat jam yang sudah menunjuk pukul setengah delapan pagi.
Selin cepat-cepat meraih ponsel yang ternyata sudah ada beberapa pesan dari Anet.
Anet
[Si kembar gue bawa pulang. Baju ganti lo udah gue kirim lewat kurir, kalo mau kerja tinggal berangkat aja.]
Selin menghela nafasnya penuh syukur kemudian tanpa berpikir lagi langsung mengambil paper bag yang berisi baju gantinya, lalu bergegas ke dalam kamar mandi.
******
Drrrt, drrrr, drrrt.
Getaran ponsel di atas nakas mengganggu tidur pulas Anet, dengan perlahan kedua matanya terbuka. Terasa sebuah lengan kekar memeluknya dengan erat, Anet mematung sesaat memikirkan siapa yang memeluknya. Setelah kesadarannya perlahan kembali dengan sekuat tenaga dia langsung melemparkan lengan yang memeluk dirinya dengan posesif.
Anet menoleh ke arah Raka dengan kobaran api yang memenuhi pandangannya. Kemudian saat dia hendak bangkit dari kasur, dia tersentak saat melihat Juna dan Jeno sudah berdiri di pinggir kasur dengan penampilan yang sudah rapih sedang menatap Anet dengan tatapan menggoda. "Ini nggak seperti yang kalian pikirkan!" Ucap Anet panik seperti sedang kepergok saat sedang maling.
"Emang kita mikir apa?" Tanya Juna dengan sedikit menggoda.
__ADS_1
Jeno menyilang kan kedua tangannya, "Pantesan tidurnya nyenyak, ada yang meluk sih."
"Hahaha, ini nggak seperti yang kalian bayangkan. Inimah dia nya aja yang brengsek nyari kesempatan dalam kesempitan." Ucap Anet sambil menunjuk ke arah Raka.
"Pantesan kita dipindahin ke kamar Nda, tau nya mau peluk-pelukan. Bang kasur kita udah nggak suci lagi," Ucap Jeno yang berhasil membuat kedua bola mata Selin membulat sempurna.
Anet refleks membuka mulutnya lebar-lebar. "No, no, no! Bocil Jangan berpikir yang macem-macem!" Teriak Anet tidak terima di tuduh mesum oleh dua bocil di hadapannya.
Drrt, drtt, drrt.
Anet menghela nafasnya lega, berkat getaran ponsel Raka, fokus mereka menjadi teralihkan. Dengan malas Anet meraih ponsel milik Raka yang sejak tadi tidak berhenti bergetar.
Plak! Dengan sengaja Anet memukul lengan Raka "Woy! Bangun! Udah siang!" Teriak Anet tepat di samping telinga Raka.
Raka heran kenapa ada suara petir di pagi hari, dengan mata yang masih tertutup Raka mengucek matanya. "Hmmpp," Gumam Raka sambil merentangkan tangannya.
Saat kedua bola matanya terbuka wajah kesal Anet langsung terlihat di hadapannya. "Nih ada yang nelpon dari tadi!"
"Baik-baik saya berangkat sekarang juga,"Jawab Raka kemudian mematikan panggilan.
Raka bersiap-siap pergi, tapi pandangannya tidak sengaja jatuh kepada Juna dan Jeno yang sedang menatapnya penuh arti. "Eh kalian udah rapih?" Raka memperhatikan penampilan si kembar.
Juna mengangguk sebagai jawaban. "Om, tadi udah ada yang nganterin mobil sama baju ganti Om."
Raka mangut-manggut paham. "Syukurlah, kalian mau berangkat sekolah kan? Biar saya yang antar."
Mereka pergi begitu saja dan mengabaikan kehadiran Anet. "Eh kalian belum sarapan kan?" Teriak Anet mengingatkan.
Raka menoleh sejenak. "Nanti saya beli di jalan, sekalian buat mereka." Kemudian beralih kepada Si kembar. "Udah siang. Pasti dari tadi kalian nungguin Bos Anet yang kebo itu kan?" Tanya Raka yang langsung di balas anggukan oleh si kembar.
Anet mendengus tidak percaya. "Eh! Apa lo bilang, dasar!" Dia sudah bersiap melempar bantal tapi sayangnya Raka lebih dulu menutup pintu.
Bugh!!! Sura bantal membentur pintu
__ADS_1
"Ishhh, dasar pria hidung belang. Udah meluk-meluk nggak minta maaf nggak apa, malah ngata-ngatain gue. Woy!! Gue kebo gara-gara lo meluk gue!!!" Teriak Anet misuh-misuh di atas kasur.
******
Saat sedang menyetir Selin meraih ponselnya untuk menghubungi si kembar. Dia khawatir sekaligus merasa bersalah karena semalam tidak bisa pulang ke rumah seperti biasa. Ditambah akhir-akhir ini dia agak menjauhi si kembar, agar mereka tidak tahu jika Selin berada dalam sebuah masalah.
"Kalian udah berangkat? Aduh maafin Bunda ya malah ketiduran di rumah sakit." Ucap Selin saat sambungan telpon sudah terhubung.
Selin menghela nafasnya lega, karena Juna dan Jeno sudah berangkat. "Kalian berangkat sama Pak Raka? Emang tante Anet kemana?" Selin menaikan satu alisnya keheranan, kenapa kedua anaknya bisa diantar oleh Raka.
"Oh Pak Raka nginep? Kalian nggak ngerepotin Pak Raka kan?. Oke bagus, kalian pokoknya jangan macem-macem, bisa-bisa nanti Bunda di kerjain sama dia di kantor." Ucap Selin sedikit ngeri, membayangkan Raka dan tatapan tajamnya.
"Oke Bunda tutup dulu ya, dah sayang. Jangan nakal, muacchh!" Pungkas Selin kemudian meletakkan ponselnya ke dashboard.
Selin memarkirkan mobilnya kemudian bergegas ke dalam kantor, saat ini dia belum sarapan jadi pilihan terbaiknya adalah langsung pergi ke kantin. Sepanjang jalan Selin mendapatkan tatapan tidak mengenakan dari semua karyawan yang berpapasan dengannya, mereka secara terang-terangan membicarakan Selin dengan suara yang sengaja di besarkan agar terdengar oleh Selin.
Selin mengedikan bahunya acuh, toh dia tidak bersalah. Saat ini yang Selin butuhkan adalah makanan, jadi dia harus mempercepat langkahnya.
Setelah selesai memesan sarapan, Selin duduk santai di sebuah kursi menunggu pesanannya datang. Puk! Selin menoleh saat seseorang menepuk bahunya. "Eh Syakila, belum sarapan juga?" Tanya Selin saat Syakila duduk di hadapannya.
Nafas Syakila tersengal-sengal dengan wajah panik seperti sudah bertemu hantu di siang bolong. "Kamu udah buka group kantor belum?"
Selin mengangkat satu alisnya penuh keheranan. "Belum, emangnya kenapa."
"Sel, di group itu tersebar kalo kamu mantannya istri Pak Bara!" Ujar Syakila heboh.
Deg! Selin membeku sejenak. "Aa, apa?" Pekik Selin lirih.
Selin cepat-cepat membuka ponselnya untuk memastikan berita itu. Saat sudah membuka group kantor, rasanya tubuhnya membeku dan kehabisan kata-kata. Dia memejamkan kedua matanya sambil menghirup nafas sebanyak-banyaknya untuk meminimalisir hatinya yang terasa sesak. "Cobaan apa lagi ini ya tuhan," Gumam Selin penuh keputusasaan.
******
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)
__ADS_1