Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 88 : Jangan tinggalin Eno


__ADS_3

Sejak tadi Bara tidak fokus mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk di kantor, pikirannya terus melayang ke rumah sakit dengan perasaan was-was menunggu kabar tentang Juna yang entah sudah bagaimana. Pria itu bergerak gerak penuh kegelisahan.


"Kaa.. Ini udah beres belum sih.. Ko dari tadi nambah terus!!" Protesnya saat Raka yang tiba-tiba datang dan malah menambah satu pekerjaan lagi.


Raka memutar bola matanya malas karena sudah bosan mendengar ocehan Bara sejak pagi. "Udah ini yang terakhir.."


Bara merebahkan tubuhnya di sandaran kursi dengan wajah penuh frustasi dan tekanan. "Haaah.. Gue mau libur kenapa lo malah nyuruh gue kerja sih.."


Kali ini Raka yang menghela nafas panjang, dia bukannya tidak mau membiarkan Bara di rumah sakit. Tapi wajah melas Bara saat di rumah sakit sangat mengganggu semua orang yang ada. Bahkan orang yang sedang bahagia pun mood nya bisa hancur seketika jika melihat wajah Bara. Dan tentunya Raka tidak ingin jika kehadiran Bara malah membuat Selin semakin sedih.


"Inget lo itu seorang ayah, anak lo butuh biaya yang banyak.. Jadi jangan leha-leha.." Celetuk Raka berharap Bara akan berhenti menggerutu.


"Duit gue masih banyak kali ka.. Udah ah gue mau pergi.."


"Eits.. Satu lagi.. Nggak bisa pergi.. Atau jadwal cutinya gue batalin.."


"Dih disini siapa yang jadi bos sih, ko lo sok banget kampret." Jawab Bara dengan kekesalan yang sudah di ubun-ubun.


Raka mengangkat bahunya acuh. "Ya lo lah.. Makanya cerminkan seorang bos yang baik.."


Bara menegakkan tubuhnya dan mulai mengerjakan kembali tugasnya. Saat sudah selesai Bara menatap sendu ke arah jendela, terlintas beberapa persoalan yang Bara pikirkan. "Hmmm... Ka.."


"Apa lagi katanya mau pergi, cepetin beresin.." Jawab Raka sewot.


"Noh.. Udah beres.." Bara melempar pekerjaannya ke meja dengan penuh kemenangan.


Raka hanya melirik acuh dan kembali menatap layar laptopnya. "Yaudah.."


"Yang di kantor polisi siapa aja?"


"Ada Anet."


"Lo nggak nemenin dia?"


"Nggak sibuk.."


"Dia bentar lagi mau pergi loh ka.." Goda Bara sambil memperhatikan perubahan raut Raka yang pura-pura tidak peduli.


"Ya pergi aja.. Bukan urusan gue..."


Bara terkekeh saat menangkap sorot kebohongan yang Raka ucapkan, pria itu berjalan ke arah sahabatnya kemudian menepuk-nepuk bahu sahabatnya yang sedang pura-pura sibuk.


Puk! Puk! Puk!

__ADS_1


"Semoga lo nggak pernah merasakan penyesalan kaya gue ya.." Ucap Bara penuh arti kemudian berjalan ke luar ruangan.


Sepeninggalan Bara, Raka sedikit mematung dengan pikiran yang melayang. Raka merebahkan tubuhnya ke sopa dengan tangan yang memijat pelipisnya yang terasa pening. "Haaaah..."


*****


Bara dengan setia menunggu Jeno keluar dari sekolahnya, Anak itu sudah sekolah seperti biasa karena paksaan dari Selin. Dan sekarang Bara sedang menunggu anaknya dengan pikiran yang melayang.


"Omm.." Panggil Jeno yang berhasil membuat Bara sedikit tersentak.


Bara tersenyum hangat kemudian berjongkok. "Gimana sekolahnya seru.."


Jeno menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Nggak..." Ucapnya lirih.


Bara memeluk Jeno penuh kehangatan, dia menghormati kejujuran Jeno yang memilih tidak berbohong. "Jangan sedih.. Bentar lagi abang pasti bakal nemenin Eno.."


Jeno mengangguk penuh harap. "Mmmm... Semoga.."


Bara memegang kedua bahu Jeno untuk menyalurkan ketabahan. "Yang kuat ya.. Nak.."


Jeno yang awalnya menunduk perlahan tertegun, dia merasa aneh karena ada orang yang menguatkannya selain Bundanya tersayang. Dengan senyuman diwajahnya, Jeno mengangguk.


Bara terkekeh kemudian menggendong Jeno untuk masuk ke dalam mobil. "Ayoo.."


*****


Jeno berlarian ke arah Selin yang sedang menatap ke luar jendela. "Ndaa..."


Selin sedikit tersentak kemudian menoleh ke sumber suara. "Hai.. Gimana sekolahnya sayang.. Seru?"


Jeno mengangguk dengan senyuman di wajahnya. "Mmm..."


"Ayo ganti baju sama nenek.."


Juna mengangguk kemudian berjalan ke arah Niera yang sedang merapihkan baju di sopa.


Bara berjalan ke arah Juna kemudian mengecup kening Juna penuh kelembutan. Setelah selesai dia berjalan ke arah Selin dengan kantong plastik di tangannya.


"Ini makan dulu.."


Selin menatap kantong plastik yang sepertinya berisi Mie Ayam favorit nya. "Nggak usah repot-repot.. Tadi udah makan ko sama Ibu.."


"Ini Mie ayam kesukaan kamu, ayo makan mumpung masih anget.."

__ADS_1


Awalnya Selin ingin menolak, tapi aroma Mie Ayam itu lebih dulu merasuk ke dalam indra penciumannya yang laknat itu. Akhirnya Selin dengan sedikit gengsi mulai membuka bingkisan itu.


Bara sedikit terkekeh kemudian duduk di samping Selin. "Mmm.. Gimana keadaan Juna.."


Selin yang sedang asik memakan Mie Ayam perlahan menghentikan aktivitasnya. "Kata dokter Juna udah baik-baik aja.. Tapi.. Aku juga nggak tau kenapa dia belum sadar.. Aku takut Bar..."


Bara bisa melihat raut kekhawatiran Selin yang begitu dalam, walaupun wanita itu berusaha tetap tegar dan masih bisa tersenyum. Tapi sorot matanya memperlihatkan ada ketakutan yang begitu besar di dalamnya. "Jangan khawatir.. Semua pasti baik-baik aja..." Ucap Bara sambil meraih salah satu tangan Selin.


Selin tersenyum simpul kemudian mengangguk. "Mmmm.. Makasih.."


******


Jeno bangun dari tidurnya dan perlahan berjalan ke arah Juna. Dengan susah payang Jeno naik ke atas kursi di samping brankar Juna. Anak itu menatap Juna yang masih tertidur dengan perasaan sendu. Saat Bundanya dan yang lain sedang tertidur, itulah saatnya dia mengeluh di samping Juna.


"Bang..." Panggil Jeno lirih dengan pandangan yang berkaca-kaca.


"Eno kesepian.."


Mungkin jika ada yang bertanya siapa yang paling terpukul atas kejadian ini, Jeno adalah orangnya. Dia kehilangan sosok Kakak yang selalu menemaninya dari awal dia hidup di dunia. Rasanya tidak ada hari dia tidak bersama Juna, Mereka adalah sepasang adik kakak yang tidak bisa di pisahkan. Dan semenjak kejadian itu, Jeno harus berusaha tegar dan membiasakan diri tanpa kehadiran Juna di sisinya.


Jeno menunduk dengan air mata yang perlahan membasahi wajahnya. "Hiks.. Hiks..Kapan Abang mau bangun.."


"Please jangan tinggalin Eno hiks.."


"Eno janji nggak bakal gangguin Abang kalo lagi baca buku.. Eno janji.."


"Bang.. Cepetan bangun.. Kasihan Bunda ngeluarin banyak uang.. Bang... Eno rindu...."


Jeno merebahkan kepalanya ke kasur dengan kaki yang di ayun-ayunkan. "Eno nggak punya banyak uang buat bayar rumah sakit ini.. Banyak sih tapi buat beli mainan bukan buat bayar rumah sakit.. Atau buat beli miniatur doraemon yang lucu-lucu.."


"Dih itungan banget.. Dasar pelit.." Timpal seseorang dengan suara yang serak.


Jeno tersenyum simpul. "Bukannya pelit.. Tapi realistis.."


"Tenang.. Tabungan Abang masih banyak.. Cukup buat beli Doraemon sama keturunannya.."


Jeno membeku saat menyadari jika ada orang yang membalas ucapannya. "Bang Juna!!!" Teriak Jeno dengan pandangan berkaca-kaca.


Juna terkekeh dengan susah payah dia melambaikan tangannya ke arah Jeno. "Hhaiii..." Sapa Juna dengan suara parau.


******


Dukung karya ini dengan memberikan Like, Vite, Komen dan Share ke temen-temen kalian. Agar karya ini bisa dinikmati oleh orang banyak yupp.. :)

__ADS_1


__ADS_2