Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Sembilan


__ADS_3

Dokter Adi keluar dari kamar Lia untuk bertemu dengan dokter yang bertanggung jawab pada Lia dan untuk menenangkan sedikit perasaannya yang saat ini sedang cukup kacau. Sementara itu, Bima yang menemani Lia di kamar berjalan perlahan mendekati Lia dan duduk di kursi yang berada di samping ranjang Lia.


"Seharusnya kamu lebih mempercayai suamimu daripada orang lain, kak!" ucap Bima pelan. Lia terdiam sejenak.


"Aku bukan tidak percaya padanya, aku hanya belum sepenuhnya yakin dengan ucaoannya!" ungkap Lia.


"Dia sudah banyak berkorban untukmu, kak!" terang Bima


"Tapi sungguh aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya saat ini!" tukas Lia.


"Kalian sangat saling mencintai dulu, sebelum ingatanmu hilang." lanjut Bima.


"Dia pasti sangat sedih saat ini!" tambahnya.


"Kalau memang kami saling mencintai seharusnya ada sedikit perasaan yang tertinggal dalam ingatanku!" ucap Lia pelan.

__ADS_1


"Pertama kali melihat bapak dan ibu, hatiku saja bereaksi, ada sebuah perasaan hanya saja aku belum bisa mengingatnya, sekarang bertemu denganmu, ada sesuatu yang kurasakan juga bahkan perasaannya lebih kuat dari ketika bertemu bapak dan ibu, tapi padanya..." Lia menghentikan ucapannya sejenak. Ia menghela nafas perlahan.


"Aku hanya terus merasakan kecanggungan, aku kikuk berada di dekatnya bahkan kekikukan itu membuatku merasa sangat tidak nyaman!" aku Lia. Ia menundukkan kepalanya.


"Kalau aku sangat mencintainya dulu, kenapa tidak ada sedikitpun perasaan yang tertinggal diingatanku?" ucap Lia galau. Bima terdiam sambil terus menatap kakak satu-satunya itu.


"Seharusnya ada sedikit saja getaran dihatiku untuk menandakan kalau memang ada sebuah hubungan di antara kami, tapi aku malah merasa tidak nyaman berada di dekatnya." lanjut Lia.


"Aku yakin, kalau ingatanmu kembali, kamu akan menyesali ucapanmu saat ini, kak!" tukas Bima. Lia terdiam sejenak, tapi tak lama kemudian ia memgangkat kepalanya dan menatap Bima dengan seksama.


"Apa terjadi sesuatu di antara kami sebelum aku mengalami kecelakaan? Apa pernikahan kami tidak bahagia?" tanya Lia tiba-tiba. Pertanyaan Lia itu membuat Bima sangat terkejut.


...


Dokter Adi keluar dari kamar Lia bukan sekedar ingin menemui dokter yang bertanggung jawab dengan Lia untuk menanyakan kapan kiranya Lia bisa keluar dari rumah sakit tapi juga untuk sedikit menghirup udara segar di luar agar bisa menenangkan perasaannya. Dokter Adi merogoh saku celana panjangnya untuk mengambil ponselnya tapi ternyata ponselnya tidak berada di sakunya itu, ia mencoba mencari di saku yang satunya tapi tetap saja ponselnya itu tidak ada.

__ADS_1


"Di mana ponselku?" gumamnya pelan sambil mencoba mengingat di mana terakhir kali ia meletakkan ponselnya.


"Ah iya! Aku meletakannya di meja ketika aku akan memakan buah yang di bawa Bima tadi!" batin dokter Adi. Ia membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan cepat kembali menuju kamar Lia.


Dokter Adi memperlambat langkahnya ketika hampir tiba di depan pintu kamar Lia. Perlahan tangannya bergerak menyentuh handle pintu kamar itu untuk membukanya, tapi ia mengurungkan niatnya. Ketika pintu kamar itu baru terbuka sedikit, samar-samar terdengar pembicaraan Lia dengan adiknya, Bima.


"Dia pasti sangat sedih saat ini!" Terdengar suara Bima di balik pintu.


"Kalau memang kami saling mencintai seharusnya ada sedikit perasaan yang tertinggal dalam ingatanku!" Jantung dokter Adi mulai berdebar dengan cepat mendengar ucapan Lia barusan.


"Pertama kali melihat bapak dan ibu, hatiku saja bereaksi, ada sebuah perasaan hanya saja aku belum bisa mengingatnya, sekarang bertemu denganmu, ada sesuatu yang kurasakan juga bahkan perasaannya lebih kuat dari ketika bertemu bapak dan ibu, tapi padanya..." ucap Lia. Ucapannya itu membuat debaran jantung dokter Adi semakin kencang hingga membuat dadanya terasa sangat sesak.


"Aku hanya terus merasakan kecanggungan, aku kikuk berada di dekatnya bahkan kekikukan itu membuatku merasa sangat tidak nyaman!" Seketika jantung dokter Adi terasa seperti berhenti berdetak mendengar pengakuan Lia itu. Sakit yang tidak pernah bisa dijelaskan bagaimana rasanya adalah ketika orang yang sangat dicintainya dan yang menjadi istrinya berkata kalau ia merasa sangat tidak nyaman berada di sisinya. Nafas dokter Adi mulai terdengar menderu, dadanyapun terasa sangat sesak.


"Aku yakin, kalau ingatanmu kembali, kamu akan menyesali ucapanmu saat ini, kak!" Dokter Adi kembali mendengar suara Bima itu. Ia mengkhawatirkan kalau Lia akan membenci Bima dan mengingat masa lalunya yang buruk tetapi yang terjadi malah ia-lah yang akhirnya dibenci oleh istrinya sendiri.

__ADS_1


Dokter Adi terdiam terpaku di balik pintu itu, ia meremas dadanya yang masih terasa sangat sesak dan perlahan ia membalikkan tubuhnya lalu melangkah menjauhi pintu kamar Lia itu. Langkahnya terlihat sangat berat dan ia pun tidak bisa menutupi rasa sedihnya yang terlukis jelas pada wajahnya.


...


__ADS_2