Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Empat Puluh


__ADS_3

"Ah.. aku senang sekali bisa melihatmu di sini, Lia!" seru suster Indah. Mendengar seruan suster Indah itu, Lia hanya bisa tertawa kikuk. Ia masih merasa canggung dengan keadaannya saat ini.


"Sepertinya kita harus mengatur jadwal untuk berpergian bersama lagi!" ucap suster Indah.


"He.. he.. he iya!" sahut Lia kikuk.


"Emm.. maaf, aku mau bertanya." ucap Lia pelan.


"Ya Lia!" sahut suster Indah.


"Apa dulu hubungan kita sangat dekat?" tanya Lia. Suster Indah tersentak mendengar pertanyaan Lia itu.


"Maaf, aku bertanya seperti ini karena aku belum berhasil mengingat semuanya! Kumohon jangan tersinggung!" ungkap Lia. Suster Indah tersenyum lembut pada Lia, ia merah tangan Lia dan menggenggamnya erat.


"Aku tidak tahu kamu menganggapku sebagai apa, tapi bagiku kamu adalah sahabatku!" ungkap suster Indah.


"Kamu adalah wanita yang terbaik yang pernah kukenal!" puji suster Indah.

__ADS_1


"Aah.. eem.." Lia tampak tidak yakin dengan pujian suster Indah itu.


"Sebaik apa aku?" tanya Lia.


"Kamu, orang yang mampu memaafkan orang-orang yang melukaimu bahkan membuat hidupmu menderita!" jawab suster Indah. Lia menatap kedua mata suster Indah seakan mencari kebenaran dari ucapannya barusan.


"A.. apa aku sebaik itu?" gumam Lia pelan. Ia masih saja tidak yakin dengan ucapan suster Indah.


"Lalu, siapa orang yang membuatku menderita?" tanya Lia. Suster Indah tersentak dengan pertanyaan Lia itu.


"Ee.. ituu.." Sejenak Lia menatap kedua mata suster Indah dengan seksama, lalu pandangannya tak sengaja beralih ke sebuah nomor yang tertempel di atas pintu yang ada di hadapannya.


Jantung Lia berdebar kencang hingga membuat dadanya terasa sesak. Seketika pandangannya menjadi kabur dan kepalanya terasa sakit.


"Aduh!" erangnya.


"Kamu kenapa Lia?" tanya suster Indah yang terkejut melihat Lia memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Ada apa, Lia?" tanya suster Indah cemas. Lia menggelengkan kepalanya pelan sambil terus memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Kepalamu sakit?" terka suster Indah. Lia tidak menjawab pertanyaan suster Indah itu, ia malah mengalihkan pandangannya ke arah dokter Adi beserta 2 rekan kerjanya yang terlihat dari kejauhan mulai berjalan mendekatinya. Lia segera menjauhkan tangannya dari kepala.


"Kamu sahabatku, kan?!" ucap Lia pada suster Indah tiba-tiba. Suster Indah terkejut mendengar ucapan Lia barusan.


"Kamu masih menganggapku sahabatmu kan?!" Lia mengulangi pertanyaannya. Suster Indah yang masih bingung dengan pertanyaan Lia yang mendadak itu, menganggukkan kepalanya pelan.


"Kalau begitu jangan katakan pada Adi kalau baru saja aku mengalami sakit kepala!" ucap Lia.


"A.. Adi?" gumam suster Indah.


"Iya! Tolong jangan katakan apa yang baru terjadi ini pada suamiku!" pinta Lia. Suster Indah terdiam.


"Kumohon!" bujuk Lia.


"Ba.. baiklah!" ucap suster Indah akhirnya, ia terlihat ragu tapi akhirnya memenuhi keinginan Lia. Tak lama kemudian dokter Adi, Dimas, dan Rio kembali ke tempat Lia dan suster Indah berada. Suster Indah memperhatikan sikap Lia yang berusaha untuk bersikap seperti sebelumnya, seakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.

__ADS_1


...


__ADS_2