
Suasana di meja makan terasa sedikit mencekam, terutama bagi dokter Adi dan Dina yang tahu tentang perseteruan antara Lia dan suster Rina. Dokter Adi dan Dina saling bertukar pandang.
"Kenapa kalian diam saja? Apa kalian belum lapar?" tanya bu Elisa.
"Sudah ma! Sudah sangat lapar!" sahut dokter Adi. Ia mulai mengambil nasi beserta sayur dan lauknya, di lanjutkan oleh bu Elisa dan seterusnya.
"Seharusnya kita juga mengundang keluargamu ya Lia!" ucap bu Elisa.
"He he he.. iya ma!" sahut Lia.
Suasana makan bersama itu terasa sangat canggung, meskipun duduk bersama tapi Lia dan suster Rina masih dalam suasana yang siaga untuk berperang.
"Setelah bebas, apa yang mau kamu lakukan sekarang, Rin?" tanya bu Elisa pada suster Rina.
"Aku akan secepatnya mencari pekerjaan agar Dina tidak merepotkan keluarga tante lagi!" jawab suster Rina.
"Dina sama sekali tidak merepotkan kami, Rin!" tukas bu Elisa.
"Dina itu juga cucu kami, Rin!" lanjutnya. Lia tersentak mendengar ucapan ibu mertuanya itu.
"Bagaimana bisa kami merasa direpotkan oleh cucu sendiri!" tambah bu Elisa.
"Cucu kami?" gumam Lia. Dokter Adi menyadari sikap Lia, ia takut Lia akan salah paham dengan ucapan ibunya itu.
__ADS_1
"Sebentar! Sebentar ma!" potong dokter Adi. Semuanya menoleh ke arah dokter Adi.
"Aku minta maaf sebelumnya, tapi bisa mama memperjelas ucapan mama?" pinta dokter Adi.
"Ucapan yang mana?" tanya bu Elisa.
"Yang menyebutkan kalau Dina itu cucu mama." terang dokter Adi.
"Dina memang cucu mama!" seru bu Elisa. Lia melirik tajam ke arah suaminya itu.
"Ee.. begini ma" Dokter Adi terlihat kikuk. Ia menghela nafasnya perlahan.
"Ucapan mama itu bisa memicu perang dunia ke-tiga." ungkap dokter Adi dengan suara berbisik.
"Maaf ya Din!" ucap dokter Adi pada Dina sambil menepuk pundaknya pelan. Dina tersenyum lembut pada dokter Adi sebagai tanda dia memaklumi dokter Adi.
"Semuanya yanga ada di sini kan tahu kalau Lia saat ini masih kehilangan ingatannya, Lia tidak tahu kenapa mama menyebut Dina sebagai cucu mama, sedangkan aku adalah anak satu-satunya dari mama dan papa." ungkap dokter Adi.
"Aku tidak mau Lia salah paham dengan hal itu." lanjutnya.
"Dampaknya bisa sangat luar biasa, ma!" tambah dokter Adi.
"Oh begitu!" sahut bu Elisa. Perlahan ia membelai lembut rambut menantunya itu.
__ADS_1
"Apa tidak apa-apa kalau mama mengungkapkan yang sebenarnya di sini?" tanya bu Elisa pelan.
"Tidak apa-apa tante!" sahut suster Rina. Dina tertunduk.
"Maafkan aku ya, Din!" ucap dokter Adi dengan suara berbisik. Sejenak suasana di ruang makan itu menjadi sangat hening, bu Elisa pun terlihat bingung bagaimana akan menceritakannya pada Lia.
"Bagaimana ya menceritakannya..." Bu Elisa masih terlihat bimbang.
"Ee.. begini saja, intinya Dina bukan anak dari Adi. Karena Rina dan Adi sangat dekat makanya mama juga menganggap Dina sebagai cucu mama." terang bu Elisa.
"Lagipula Dina anak yang sangat baik dan pintar, jadi mama juga sangat menyukainya!" tambahnya.
...
Setelah selesai acara makan bersama, Lia membereskan meja makan dan mencuci perlengkapan makan yang sudah mereka pakai tadi di dapur, ia di bantu oleh suster Rina. Karena di dapur hanya ada mereka berdua, suasana di dapur kembali terasa sangat suram. Dina pun yang tadinya berniat membantu mereka, seketika membatalkan niat baiknya itu dan memilih menyingkir dari sekitar mereka.
"Kamu sudah lihat sendiri kan?!" ucap suster Rina tiba-tiba.
"Bahkan hubungan kami sangat dekat!" lanjutnya. Lia tersentak mendengar ucapan suster Rina itu.
"Kamu mau tahu bagaimana kami bisa saling mengenal dulu?" tanya suster Rina. Lia menatap suster Rina dengan tajam.
...
__ADS_1