
"Apa semua orang di rumah sakit itu tahu penyebab aku bisa mengalami gangguan jiwa?" tanya Lia.
"Emm..." Dokter Adi kembali ragu.
"Tidak semua!" jawabnya.
"Mungkin perawat dan dokter yang sudah lama bekerja di sana tahu, tapi banyak juga yang baru dan mereka tidak mengetahuinya!" terang dokter Adi. Lia menatap wajah dokter Adi dengan tatapan sendu.
"Apa kamu tidak malu?" tanya Lia pelan. Dokter Adi tersentak.
"Malu? Untuk apa aku malu?" ucapnya balik bertanya. Air mata Lia mengalir kembali ke pipinya.
Dokter Adi meraih kedua tangan Lia dan menggenggamnya erat, lalu ia menciumi tangan halus itu beberapa kali.
"Aku sudah berkali-kali bilang padamu kalau kamu wanita terbaik yang pernah kutemui. Aku bersungguh-sungguh mengatakannya!" ungkap dokter Adi.
"Aku memang yang merawat dan bertanggung jawab pada pengobatanmu, tapi untuk bisa sembuh, kamu berjuang dengan dirimu sendiri. Kamu hebat bisa menghadapi trauma besarmu itu hingga bisa sembuh!" lanjutnya.
__ADS_1
"Bahkan setelah sembuh pun kamu berjuang sendiri untuk memperbaiki kehidupanmu dan keluargamu!" tambah dokter Adi.
"Bukankah itu sangat keren?!" pujinya. Dokter Adi mengusap kedua pipi Lia untuk menghapus sisa-sisa air mata yang ada di pipinya itu.
"Kamu tidak perlu merasa rendah diri karena masa lalumu, semua orang yang tahu dengan perjuanganmu untuk sembuh merasa kagum dengan dirimu!" ungkap dokter Adi.
"Kamu lihat ketiga perawat di rumah sakit itu! Indah, Dimas, dan Rio, mereka sangat mengagumimu! Bahkan Dimas dan Rio juga sempat jatuh cinta padamu!" lanjutnya. Lia masih terdiam sambil terus menatap wajah suaminya, ia masih terlihat murung meskipun dokter Adi sudah berusaha untuk menghiburnya.
"Cup!" Dokter Adi mengecup bibir Lia tiba-tiba hingga membuat Lia terkejut.
"Daripada kamu bersedih terus, lebih baik kita sekarang pergi ke tempat kenangan kita!" ajak dokter Adi.
Dokter Adi mengajak Lia ke restoran tempat mereka makan bersama pertama kali waktu itu.
"Ayo turun!" ajak dokter Adi. Lia turun dari mobil masih dengan lesu. Dokter Adi menghampirinya dan menggandeng tangannya dengan mesra. Lia menahan tangan dokter Adi.
"Aku malu!" ucap Lia pelan.
__ADS_1
"Tidak ada yang tahu masa lalumu di sini, sayang!" tukas dokter Adi.
"Ada aku di sampingmu, kamu tidak perlu merasa takut atau bahkan malu!" ucapnya. Lia menghela nafasnya perlahan.
Dokter Adi memilihkan tempat duduk yang berada di sudut ruangan, tepat di samping jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari kejauhan dengan sangat cantik.
"Ini tempat pertama kali kita makan bersama!" terang dokter Adi. Lia mulai terlihat lebih baik setelah melihat pemandangan yang terhampar di hadapannya itu.
"Dulu, kamu sangat menyukai tempat ini!" ungkap dokter Adi.
"Cantik!" ucap Lia pelan.
"Tidak ada yang lebih cantik darimu!" goda dokter Adi. Lia tersenyum lembut mendengar candaan suaminya itu dan senyumannya itu membuat dokter Adi sangat bahagia serta merasa lega.
"Dokter! Lia!" seru seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada di samping meja mereka. Spontan dokter Adi dan Lia menoleh ke arah orang yang memanggil mereka itu.
"Kita bertemu lagi!" ucap orang itu.
__ADS_1
"Felix!" seru dokter Adi. Dokter Adi beranjak dari tempat duduknya dan menjabat tangan tangan pemilik perusahaan tempat istrinya bekerja dulu itu, sementara itu mata Lia terus memperhatikan gerak-gerik kedua pria tampan yang ada di hadapannya itu.
...