Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Lia, Dimas, dan Rio melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi area rumah sakit. Dimas dan Rio menceritakan semua hal baik yang terjadi di rumah sakit, tapi mereka tidak menyinggung tentang masa lalu Lia sama sekali. Lia tidak menyangka ia akan menemui banyak perawat dan karyawan di rumah sakit yang mengenalnya dan menyapanya ketika mereka berpapasan. Ia merasa sangat kikuk dan sedikit kurang nyaman karena ia tidak bisa mengenali mereka semua.


"Banyak sekali yang mengenalku di sini." ucap Lia pelan.


"Tentu saja! Kamu sangat terkenal di sini, Lia! Kamu ka..." seru Dimas memuji Lia.


"Hush!" Rio menepuk punggung Dimas untuk memperingatkan Dimas. Dimas nyaris saja kelepasan bicara kalau Lia merupakan pasien tercantik yang memiliki latar belakang sangat tragis di rumah sakit ini.


Lia menyadari sikap aneh dari kedua perawat itu. Ia menatap mereka dengan curiga.


"Ada apa?" tanya Lia.


"Sepertinya ada yang kalian sembunyikan dariku!" terka Lia.


"Ah.. eh! Tidak! Tidak ada yang kami sembunyikan darimu, Lia!" tukas Dimas.


"Aku heran dengan orang-orang yang ada di sini, mereka menyapaku karena istri dari dokter yang bekerja di tempat ini atau karena hal lain?" tanya Lia lagi.


"Itu karena ee karena..." Dimas tampak sangat kebingungan akan menjawab pertanyaan Lia seperti apa, ia memberi isyarat pada Rio untuk membantunya menjawab pertanyaan Lia tersebut tapi Rio pun kebingungan.

__ADS_1


Beruntung sekali, sebelum Lia mendesak mereka untuk menjawab pertanyaannya itu, mereka sudah tiba kembali di depan pintu kamar pasien no.208. Di dalam ruangan itu, dokter Adi sedang melakukan konsultasi dengan pasiennya.


"Dokter Adi sedang memeriksakan pasiennya, kamu tidak penasaran dengan bagaimana cara dokter Adi memeriksa pasiennya?" tanya Rio berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Ee.." Lia terlihat ragu karena ia teringat kembali dengan bayangan yang terlintas di benaknya tentang kamar itu sebelumnya.


"Ayo kita lihat, Lia!" ajak Dimas. Rio memberi isyarat melalui lubang kaca yang ada di pintu kamar kepada suster Indah yang juga berada di dalam ruang 208 itu mendampingi dokter Adi dan akhirnya suster Indah keluar dari kamar itu dan menemui kedua rekan kerjanya serta Lia.


"Ada apa?" tanya suster Indah begitu ia tiba di hadapan teman-temannya itu.


"Bisa kamu membuka sedikit pintu kamar ini agar Lia bisa melihat bagaimana suaminya melakukan pemeriksaan pada pasien?" tanya Rio pelan.


"Tidak ada orang lain di sini, hanya kami dan istri dokter Adi sendiri." ucap Dimas.


"Em.." Suster Indah terlihat ragu.


"Kalau dokter Adi memarahimu, Lia yang akan memarahi suaminya itu!" sambung Rio.


"Ya kan, Lia?!" tanya Rio.

__ADS_1


"Ah.. iya!" jawab Lia.


"Tapi, apa dia akan takut kalau aku memarahinya?" ucap Lia tak yakin.


"Dokter Adi itu sangat bucin padamu, Lia! Jadi apapun yang kamu katakan pasti dia turuti!" ucap Dimas.


"Oh ya?" ucap Lia tak percaya.


"Sudah ayo cepat kamu lihat dan dengarkan bagaimana suamimu itu mengobati pasiennya!" seru Rio sambil mendorong tubuh Lia pelan.


Suster Indah membuka sedikit pintu kamar no.208 agar Lia bisa melihat dan mendengar dokter Adi berkomunikasi dengan pasiennya, sementara itu suster Indah kembali mendampingi dokter Adi. Samar-samar Lia mulai mendengar suara suami yang tidak dikenalnya itu melakukan konsultasi dengan pasiennya.


"Kata kalian, dia menangani pasien berat, apa itu pasien berat?" tanya Lia dengan suara berbisik. Rio menganggukkan kepalanya.


"Iya! Itu salah satu pasien berat di rumah sakit ini, dia bisa mengalami gangguan kejiwaan karena melihat kedua orang tuanya dicelakai oleh maling di hadapannya dan dia nyaris mencelakai balik maling itu." terang Rio dengan suara berbisik juga agar dokter Adi tidak terganggu dengan obrolan mereka.


Mendengar cerita dari Rio itu tiba-tiba saja sebuah gambaran ingatan Lia kembali terlintas di benaknya. Lia tersentak, ia melihat dirinya berada di atas tubuh kekar seorang pria yang tergeletak di tanah, sebelah tangannya mencengkram leher pria itu dan sebelah tangannya lagi perlahan mengiris beberapa jari pria kekar itu. Darah mengalir deras dari jari-jari yang teriris itu.


"Aaaa!" teriak Lia. Teriakan Lia yang sangat tiba-tiba itu tidak mengejutkan Dimas dan Rio yang berada di sampingnya tetapi juga suster Indah bahkan dokter Adi yang berada di dalam ruangan. Seketika wajah Lia menjadi pucat, keringat mulai mengucur dari keningnya. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sangat sesak. Bayangan itu sangat menakutkan bagi Lia.

__ADS_1


...


__ADS_2