
"Ibu terbiasa memanggilnya begitu sejak kamu masih menjadi pasiennya." ungkap bu Tanto. Lia tersentak mendengar ucapan ibunya itu, jantungnya terasa seperti berhenti berdetak.
"Menjadi pasiennya?" gumam Lia pelan.
"A.. aku pernah menjadi pasiennya, bu?" tanya Lia tak percaya. Seketika jantungnya berdebar kencang hingga membuat dadanya terasa sesak. Bu Tanto tersentak, ia teringat kalau putrinya itu belum mengingat semuanya dan kini ia bingung akan seperti apa menjelaskannya pada Lia.
"Apa aku benar-benar pernah menjadi pasiennya, bu?" ulang Lia. Ia menatap kedua mata ibunya itu, ia menantikan jawaban dari ibunya, tapi ia merasa sangat takut mendengar jawaban ibunya.
"Itu tidak benar kan, bu?" ucap Lia. Bu Tanto terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan putrinya itu.
"Kenapa aku harus menjadi pasiennya, bu?" tanya Lia lagi. Lia mulai terlihat histeris dan tidak terima dengan kenyataan bahwa ia pernah menjadi pasien suaminya yang seorang psikiater.
"Tidak! Semuanya itu pasti tidak benar kan bu!" seru Lia sambil beranjak dari tempatnya duduk.
"Lia.." ucap bu Tanto lirih.
"Aku kan sehat, bu! Untuk apa aku menjadi pasien seorang psikiater?!" bantah Lia.
"Ibu pasti sedang berbohong!" tukas Lia. Sejenak ia menatap ibunya itu tapi sesaat kemudian ia melemparkan album foto pernikahannya itu ke lantai dan berlalu dari hadapan ibunya. Lia mengunci dirinya di kamar.
...
"Kalau keadaanmu terus membaik seperti ini, mungkin bulan depan aku sudah bisa mengurus kepulanganmu, Do!" ucap dokter Adi.
"Sungguh, dok?!" seru Ardo tak percaya. Dokter Adi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar pada Ardo.
"Tttrrrrttt... tttrrrttt!" Dokter Adi tersentak ketika ponsel yang ada di saku jasnya itu bergetar panjang. Ia merogoh saku jasnya itu untuk melihat siapa yang meneleponnya.
"Emm.."
__ADS_1
"Terima saja panggilan itu, dok!" ucap Ardo tiba-tiba.
"Tidak, ini masalah pribadi!" tukas dokter Adi.
"Tidak apa-apa, dok! Mungkin saja itu telepon penting, lagipula konsultasi kita kan sudah selesai!" ucap Ardo. Dokter Adi menatap Ardo sejenak.
"Baiklah!" ucap dokter Adi sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Terima kasih ya!" serunya sambil berlalu dari hadapan Ardo.
Dokter Adi bergegas keluar dari kamar 208 itu untuk menerima panggilan masuk yang ternyata berasal dari ponsel ibu mertuanya, bu Tanto.
"Halo, bu!" sapa dokter Adi lembut.
"Pak dokter!" seru bu Tanto dari seberang sana. Dokter Adi mulai merasa cemas begitu mendengar suara bu Tanto yang terdengar tidak sedang baik-baik saja. Suara bu Tanto bergetar seperti sedang menahan tangisnya.
"Ada apa, bu?" tanya dokter Adi, ia berusaha untuk terdengar tenang agar tidak membuat ibu mertuanya itu bertambah galau.
"Bersalah bagaimana, bu? Coba ceritakan padaku!" ucap dokter Adi lembut. Bu Tanto mulai menceritakan apa yang batru saja terjadi padanya dan Lia.
"Sekarang Lia mengurung dirinya di kamar dan tidak mau ibu ajak bicara lagi, pak dokter!" jelas bu Tanto, terdengar tangis bu Tanto mulai pecah.
"Kalau Lia masih di dalam kamar, biarkan saja dulu bu! Biarkan Lia menenangkan hati dan pikirannya sejenak!" ucap dokter Adi, ia berusaha menenangkan ibu mertuanya itu.
"Nanti aku akan mencoba untuk menghubungi Lia dan memberi pengertian pada Lia." tambahnya.
"Apa putri ibu akan baik-baik saja, pak dokter?" tanya bu Tanto.
"Lia akan baik-baik saja, bu! Aku jamin!" seru dokter Adi. Tak lama kemudian mereka mengakhiri percakapan mereka di telepon. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.
__ADS_1
...
"Apa mungkin aku pernah menjadi pasien gangguan jiwa?" gumam Lia. Ia terlihat sangat gusar, berjalan bolak-balik di kamarnya. Langkah kakinya berhenti tepat di depan cermin besar yang tergantung di dinding.
"Tidak mungkin!" bantahnya.
"Aku tidak terlihat sama sekali seperti orang yang pernah mengalami gangguan jiwa!" tukasnya.
"Aku orang normal! Aku baik-baik saja!" seru Lia kesal. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, matanya menatap langit-langit kamar, dan pikirannya terus berputar memikirkan alasan apa yang menjadikannya pasien gangguan jiwa.
Lia mengalihkan pandangannya menyusuri setiap sisi ruang kamarnya dan akhirnya matanya tertuju pada kalender yang berada di meja kamarnya. Ia memperhatikan kalender itu.
"Sudah seminggu..." gumamnya pelan.
"Sudah seminggu dan dia sama sekali tidak menghubungiku?" tanya Lia pada dirinya sendiri. Lia bangkit dan duduk di tepi ranjangnya, ia meraih ponselnya dan memeriksa ponselnya itu untuk memastikan kalau benar tidak ada pesan atau panggilan dari suaminya.
"Dia bilang dia mencintaiku, tidak bisa berpisah dariku tapi sudah lewat 1 minggu dan dia sama sekali tidak menghubungiku!" gerutu Lia.
"Apa semudah itu dia kehilangan perasaannya padaku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Apa semudah itu dia melupakan aku?" Suara Lia mulai terdengar bergetar, dadanya pun mulai terasa sesak.
"Dulu juga semudah itu dia mencampakkan aku!" ucapnya.
"Apa sekarang juga dia mau mencampakkan aku?" tanya Lia lagi. Air mata Lia mulai berkumpul di pelupuk matanya dan siap mengalir keluar.
"Apa karena aku mantan pasiennya, makanya aku mudah dicampakkan olehnya?" ucap Lia. Air matanya mulai menetes satu persatu ke pipinya.
"Apa karena aku mantan seorang pasien gangguan jiwa?" lirihnya. Tangis Lia mulai pecah, ia sangat kecewa dengan sikap dokter Adi yang tidak menghubunginya sama sekali selama seminggu, ia juga masih belum bisa menerima kalau dirinya pernah menjadi pasien gangguan jiwa, dan ia mulai merasa ketakutan kalau suaminya akan meninggalkannya.
__ADS_1
...