
Dokter Adi membimbing kepala Lia agar bersandar ke pundaknya dan ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Dengan lembut dokter Adi membelai rambut hitam istrinya itu.
"Kamu tahu di mana kita memulai hubungan kita?" ucap dokter Adi pelan.
"Di mana?" tanya Lia.
"Di sini! Di tempat ini!" jawabnya.
"Oh ya?!" seru Lia.
"Lalu, bagaimana caranya kita bisa memulai hubungan itu?" tanya Lia lagi. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah tampan suaminya itu. Perlahan sebuah senyuman lembut merekah di bibir dokter Adi.
"Begini caranya!" ucapnya dengan suara berbisik. Dokter Adi menempelkan bibirnya dengan lembut ke bibir istrinya itu dan perlahan kecupan-kecupan mesra ia daratkan di bibir mungil kesayangannya itu.
Lia mendorong tubuh dokter Adi dan melepaskan diri dari ciuman suaminya itu.
"Apa seperti ini cara kita menjalin hubungan?" tanya Lia.
"Emm.. bisa dikatakan seperti ini tapi bisa dikatakan juga tidak seperti ini!" jawab dokter Adi.
__ADS_1
"Maksudnya?" Lia terlihat bingung mendengar ucapan suaminya itu.
"Yah, kita memang berciuman di tempat ini di hari kita jadian, tapi tidak sampai seperti ini!" terang dokter Adi. Lia terdiam sambil terus menatap wajah suaminya itu seakan tidak percaya dengan ucapan dokter Adi. Dokter Adi kembali mencium bibir mungil istrinya.
"Saat itu aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan wanita manapun!" tegas dokter Adi.
"Sungguh?" tanya Lia tak percaya. Dokter Adi menganggukkan kepalanya.
"Dan kamu tidak menggodaku sama sekali, tapi hatiku yang tertarik padamu dan selalu ingin bersamamu!" ucapnya. Lia kembali terdiam sambil terus menatap wajah dokter Adi dan ekspresi wajahnya itu terlihat sangat menggemaskan bagi dokter Adi.
Akhirnya dokter Adi tidak bisa menahan perasaannya lagi, ia kembali menarik tubuh istrinya itu agar lebih mendekat lagi padanya dan mendekap tubuh itu dengan erat. Perlahan tangan kanannya menyusup ke tengkuk Lia dan menariknya. Dokter Adi kembali mencium mesra bibir mungil Lia dan lama kelamaan, ciuman yang diberikan dokter Adi itu memanas.
Dokter Adi memposisikan tubuhnya di atas tubuh Lia, tangan kirinya menopang kepala Lia agar kepala Lia tidak terasa pegal, sementara itu tangan kanannya menyusup ke dalam pakaian Lia, tangan itu mulai memberikan sentuhan-sentuhan nakal di tubuh.
"Emm!" Lia merasakan geli di sekujur tubuhnya. Melihat respon Lia yang seperti itu, dengan cepat tangan dokter Adi bergerak ke punggung Lia dan membuka pengait bra yang Lia kenakan. Lia memberikan perlawanan sedikit dengan melepaskan bibirnya dari tautan bibir suaminya.
"A.. apa yang kamu lakukan?" protes Lia, tapi bukannya menjawab pertanyaan Lia itu, dokter Adi malah tersenyum genit dan melanjutkan aksi nakalnya dengan menciumi leher wanita cantik yang ada dihadapannya itu. Lia mencoba untuk menahan setiap ciuman yang suaminya berikan itu, tapi ia malah kembali terbawa suasana karena tangan dokter Adi yang berada di dalam pakaiannya kembali memberikan sentuhan-sentuhan nakal di bagian sensitifnya.
"Kak Lia!" Lia tersentak. Ia membuka matanya lebar-lebar. Suara mengerikan dari pria kekar yang pernah muncul di mimpi Lia kini kembali terdengar di telinganya.
__ADS_1
"Kak Lia!" Seketika jantung Lia terasa seperti berhenti berdetak. Kembali bayangan di mimpinya itu terlintas dalam benaknya. Keringatnya mulai mengucur deras dari keningnya.
"Lepas!" ucap Lia pelan sambil mendorong tubuh dokter Adi yang berada di atasnya.
"Emm!" Dokter Adi tidak menyadari kalau istrinya itu mulai aneh, ia terus saja melanjutkan aksinya dan mempererat dekapannya pada tubuh Lia.
"Lepaskan aku!" pinta Lia dengan suara lirih.
"Biarkan aku menyelesaikannya, sayang!" ucap dokter Adi dengan suara berbisik tanpa membuka matanya dan memperhatikan keadaan istrinya itu.
"Do.. dokter!!" jerit Lia akhirnya. Dokter Adi tersentak, ini pertama kalinya setelah kecelakaan tragis itu terjadi, Lia memanggilnya dengan panggilan 'dokter', sama seperti dulu.
Dokter Adi mengangkat kepalanya dan akhirnya ia memperhatikan ekspresi wajah istrinya itu yang terlihat sedang sangat ketakutan.
"Li.. Lia!" panggilnya. Lia tidak meresponnya, pandangannya pun terlihat kosong. Lia terlihat sangat ketakutan, bahkan tubuhnya pun terasa dingin.
"Lia! Sayang!" panggil dokter Adi. Ia menyingkir dari tubuh Lia dan mengangkat tubuh mungil Lia itu lalu mendekapnya dengan erat untuk memberikan kehangatan pada tubuh istrinya itu.
"Do.. dokter..." lirih Lia.
__ADS_1
...