
"Dokter!" seru seseorang dari arah belakang tubuh dokter Adi. Dokter Adi langsung berbalik ke arah sumber suara itu.
"Kalian!" seru dokter Adi begitu mengetahui kalau yang memanggilnya adalah Dimas, Rio, dan suster Indah.
"Bagaimana keadaan dokter?" tanya Dimas. Dokter Adi tersenyum lembut pada ketiga rekan kerjanya itu.
"Yah, seperti ini!" jawab dokter Adi.
"Kalau Lia bagaimana, dok?" tanya suster Indah.
"Kondisi Lia sudah jauh membaik, hanya saja..." Dokter Adi terlihat ragu untuk menyampaikan kondisi Lia yang saat ini kehilangan ingatannya dan tidak mengenal Dimas, Rio, serta suster Indah yang selama di rumah sakit itu merawatnya.
"Kalian ingin menemui Lia?" tanya dokter Adi.
"Ya dok!" jawab suster Indah.
"Kalian ke kamarnya saja, di sana ada orang tuaku dan orang tua Lia!" ucap dokter Adi.
"Lalu, dokter tidak kembali ke kamar Lia?" tanya Rio.
"Aku mau makan sebentar, dari tadi pagi aku belum sempat makan." terang dokter Adi.
"Atau kalian mau menemaniku makan terlebih dahulu? Nanti kita ke kamar Lia bersama-sama!" ajak dokter Adi. Dimas, Rio, dan suster Indah saling berpandangan.
"Sekalian kuberi tahu keadaan Lia agar kalian tidak terlalu terkejut." lanjut dokter Adi. Akhirnya ketiga perawat Rumah Sakit Jiwa itu mengikuti ajakan dokter Adi, mereka berjalan bersama menuju kantin rumah sakit.
Begitu tiba di kantin rumah sakit, dokter Adi memesan beberapa makanan dan minuman serta mempersilahkan ketiga rekan kerjanya itu untuk memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan.
"Memangnya kondisi Lia ee.. buruk dok?" tanya suster Indah, ia terlihat ragu menanyakan hal itu karena takut membuat dokter Adi kembali merasa sedih. Dokter Adi terdiam menatap suster Indah sejenak.
"Aku sangat bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan padaku untuk bisa bersamanya, tapi aku harus mengulang semuanya dari awal lagi!" ungkap dokter Adi pelan.
"Maksud dokter?" tanya Rio bingung. Dokter Adi menundukkan kepalanya dan menghela nafasnya perlahan, ia kembali menatap ketiga rekan kerjanya.
"Lia tidak mengingat apapun, dia tidak bisa mengenaliku, orang tuaku, bahkan kedua orang tuanya." terang dokter Adi.
"Hah?!" Dimas, Rio, dan suster Indah terkejut mendengar ucapan dokter Adi barusan.
__ADS_1
"Dia juga tidak mengenal kalian!" lanjut dokter Adi.
"Lia tidak mengenaliku, dok?" tanya suster Indah, ia terlihat sedih karena mereka sudah berteman akrab cukup lama. Dokter Adi menganggukkan kepalanya pelan.
"Kamu jangan kecewa padanya, dia bahkan tidak mengingatku yang setiap malam tidur bersamanya!" canda dokter Adi. Dokter Adi menepuk pundak suster Indah.
"Lia juga tidak ingat kalau dia pernah mengandung anak kami." ungkap dokter Adi. Suster Indah, Dimas, dan Rio terlihat lebih terkejut lagi.
"Dia baru menyadarinya ketika melihat foto dirinya yang sedang hamil di galeriku." lanjut dokter Adi.
"Lalu bagaimana reaksi Lia, dok?" tanya Dimas.
"Yang pertama dia menanyakan keberadaan bayinya." jawab dokter Adi.
"Lalu dokter memberitahukannya?" tanya suster Indah.
"Ya, aku memberitahukannya!" ucap dokter Adi.
"Awalnya kupikir aku akan merahasiakan sementara darinya, tapi kurasa akan sangat tidak adil kalau Lia tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya terjadi pada putra kami." terang dokter Adi.
"Dia ibunya, dia yang bertaruh nyawa demi anak itu!" tambahnya, suara dokter Adi terdengar berat dan bergetar. Dokter Adi kembali menahan tekanan batinnya itu.
"Dia menangis. Dia menangis dengan keras, tapi... Aku tahu dia sangat menderita!"ungkap dokter Adi.
"Dia menangis sekeras itu, tapi dia tetap tidak bisa mengingat bayinya." lanjutnya.
"Lia menyalahkan dirinya karena tidak mengingat bayinya sama sekali, dia bilang tidak ada sedikitpun kenangan serta perasaannya yang tertinggal selama dia mengandung anak kami itu." tambah dokter Adi.
"Lia..." lirih suster Indah. Ia terlihat sangat prihatin dengan kesedihan sahabatnya itu.
"Tapi..." ucap dokter Adi tiba-tiba. Dimas, Rio, dan suster Indah menatap dokter Adi dengan seksama.
"Ada satu hal yang tertinggal dalam ingatannya!" lanjut dokter Adi.
"Ada satu orang yang diingatnya, yaitu Rina!" ungkap dokter Adi.
"Hah?!" Suster Indah, Rio, dan Dimas terlihat sangat terkejut.
__ADS_1
"Dia mengingat Rina tapi tidak mengingat kami, dok?!" tanya Rio. Dokter Adi menganggukkan kepalanya.
"Dia mengingat Rina, seharusnya dia juga mengingat rumah sakit dong!" ucap Dimas.
"Seharusnya seperti itu, tapi ketika aku membicarakan kalian, dia sama sekali tidak mengingat kalian!" ungkap dokter Adi.
"Lalu, apa dia mengingat masa lalunya, dok?" tanya suster Indah tiba-tiba.
"Mungkin Lia mengingat Rina karena dia yang merawat Lia lebih dari 7 tahun, kalau Lia mengingat tentang itu apa Lia juga mengingat tentang peristiwa buruk yang menimpanya sehingga dia harus dirawat oleh Rina?" tanya suster Indah lagi. Pertanyaan suster Indah itu membuat dokter Adi tersentak. Sebelumnya ia tidak pernah memikirkan hal itu!
"Benar juga, dok! Akan sangat berbahaya kalau Lia mengingat peristiwa itu lagi!" sambung Rio.
"Apa mungkin traumanya kembali lagi?" tanya Dimas. Perasaan dokter Adi mulai tak karuan, bahkan jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya.
...
"Liaa!!" sapa suster Indah begitu masuk ke dalam kamar rawat Lia. Ia melangkah cepat menghampiri Lia dan memeluknya, Lia membalas pelukkan suster Indah dengan memeluknya juga.
"Lia!" Dimas dan Rio juga menyapa Lia sambil melambaikan tangannya. Lia berusaha tersenyum manis kepada ketiga orang yang baru dilihatnya itu, tapi karena ia merasa tidak mengenal mereka, senyumannya itu terlihat kikuk. Dokter Adi mendekati istrinya itu dan duduk di sisi ranjang tempat istrinya berada, jangankan kepada ketiga perawat yang baru saja datang menjenguknya, kepada suaminya saja Lia masih terlihat kikuk.
"Ini Indah, Rio, dan Dimas!" terang dokter Adi memperkenalkan ketiga rekan kerjanya itu pada istrinya.
"Mereka yang membantuku selama bekerja." tambahnya.
"Jadi mereka teman kerjamu?" tanya Lia dengan suara berbisik agar tidak menyinggung ketiga perawat itu karena ia tidak juga berhasil mengingat mereka. Dokter Adi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut pada istri cantiknya itu.
"Memangnya kamu bekerja di mana?" tanya Lia polos. Pertanyaan Lia itu membuat semuanya tersentak.
"Aku..." Dokter Adi terlihat ragu akan menjelaskan pekerjaannya pada Lia.
"Apa aku harus menceritakan yang sebenarnya?" tanya dokter Adi dalam hati.
"Tapi bagaimana kalau ketika aku menjelaskannya, ia teringat kembali dengan peristiwanya di masa lalu?" Dokter Adi merasa benar-benar bimbang.
"Tttrrr... ttttrrrrttt!" Tiba-tiba ponsel yang berada di saku celana panjangnya itu bergetar. Dokter Adi segera merogoh saku celananya itu untuk mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang meneleponnya. Jantungnya berdebar kencang ketika ia mengetahui siapa yang menelepon ponselnya itu.
"Bima..." gumamnya dalam hati.
__ADS_1
...