Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Tujuh Puluh


__ADS_3

"Selamat datang di rumah kami!" seru dokter Adi sambil membuka pintu utama rumahnya. Bu Elisa, Dina, suster Rina, dan terakhir Lia masuk ke dalam rumah itu secara bergiliran. Suster Rina tampak memperhatikan setiap sudut dari ruang tamu rumah itu.


"Rumahmu sudah banyak berubah!" ucap suster Rina. Ucapan sederhana suster Rina itu membuat Lia tersentak.


"Dulu rumah ini kelihatan kosong sekali!" lanjut suster Rina.


"Yah, sekarang kan sudah ada yang mengurusnya!" tukas dokter Adi.


"Itulah bedanya rumah seorang bujangan dengan rumah dari suami orang!" timpal bu Elisa. Mereka bertiga tertawa bersama, sementara itu Lia memperhatikan sikap mereka yang baginya terlalu akrab untuk memperlakukan seorang mantan kekasih anaknya, mantan pacar, dan mantan seorang narapidana.


Karena merasa tidak terima dengan hal itu, Lia menjauh dari mereka dan masuk ke dalam kamarnya. Ia benar-benar terbakar api cemburu karena kehadiran suster Rina di tengah-tengah mereka.


"Bagaimana bisa mereka memperlakukannya seperti itu!" gumam Lia ketika ia sudah berada dalam kamarnya.


"Apa hubungan mereka sangat dekat sampai harus seperti itu di hadapanku?" lanjutnya. Lia menjatuhkan dirinya di ranjang.


"Seharusnya mereka menghargai aku! Paling tidak sedikit menjaga jarak dengannya di depanku!" protes Lia pelan.


"Apa dulu juga sikap mereka seperti itu?" tanya Lia pada dirinya sendiri.


"Kalau iya, kenapa aku bisa tahan berada di antara mereka?" tambahnya. Lia bangkit dan duduk di sisi ranjangnya.

__ADS_1


"Apa seharusnya aku tidak perlu berada di dekat mereka?" gumam Lia.


"Ya! Seharusnya aku tidak di sini!" lanjutnya.


"Lebih baik aku pulang sekarang!" tambah Lia.


"Untuk apa aku menyiksa diri dengan melihat semua sikap mereka itu!" ucapnya.


Ketika Lia sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya, tiba-tiba saja dokter Adi masuk ke dalam kamar itu.


"Kenapa kamu malah di sini, sayang?" tanya dokter Adi lembut.


"Iya, aku juga tidak tahu kenapa aku malah di sini, seharusnya aku di rumah orang tuaku!" jawab Lia ketus. Dokter Adi tersentak.


"Kamu marah padaku?" lanjutnya.


"Tapi karena apa?" Dokter Adi terlihat benar-benar bingung dengan apa yang membuat istrinya itu marah padanya.


"Tidak, aku tidak marah padamu! Aku hanya kesal, seharusnya aku pulang ke rumah, di sini bukan tempatku!" terang Lia. Ketika Lia hendak membuka pintu kamarnya dan keluar, dokter Adi dengan sigap menahannya. Tangannya bergerak dengan sangat cepat untuk mengunci pintu kamar itu dan menyembunyikan kuncinya di saku celana yang ia kenakan.


"Kembalikan kuncinya! Aku mau pulang!" pinta Lia.

__ADS_1


"Kamu mau pulang ke mana? Ini kan rumahmu!" tukas dokter Adi.


"Tidak! Ini kan rumahmu dengan pujaan hatimu itu!" bantah Lia.


"Bahkan dia tahu kalau rumah ini sudah sangat berbeda dari waktu dulu!" sindir Lia.


"Jangan-jangan dulu kamu mempersiapkan rumah ini untuknya!" tuduhnya. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan, akhirnya dia tahu apa yang membuat istrinya itu mengamuk.


"Sini, serahkan kuncinya!" seru Lia sambil mengadahkan tangannya untuk meminta kunci kamar yang di sembunyikan suaminya itu.


"Cobalah tenang dulu, sayang!" ucap dokter Adi lembut.


"Kamu hanya sedang terbawa perasaan cemburumu saja!" tambahnya.


"Cemburu? Apa yang perlu kucemburui? Aku saja tidak mencintaimu!" tukas Lia.


"Aku hanya merasa berada di tempat yang salah!" tambahnya.


"Cepat serahkan kuncinya padaku!" desak Lia.


"Aku mau pulang ke rumah orang tuaku!" terangnya.

__ADS_1


...


__ADS_2