Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Sepuluh


__ADS_3

"Sudah malam, aku harus kembali ke rumah!" ucap Bima. Dokter Adi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada adik iparnya itu.


"Kak Lia, aku pulang dulu ya!" pamit Bima. Lia menganggukkan kepalanya sambil melambaikan tangannya pada adiknya itu.


"Kak, aku pamit ya!" ucap Bima pada dokter Adi.


"Terima kasih sudah menjenguk kami di sini! Hati-hati di jalan!" pesan dokter Adi sambil menepuk pundak Bima. Dokter Adi mengantarkan Bima hingga keluar dari kamar Lia.


"Kamu harus kuat dan tabah ya kak!" ucap Bima dengan suara berbisik. Dokter Adi tersenyum lembut pada Bima, mereka berpelukan dan Bima menepuk punggung dokter Adi beberapa kali untuk memberikan dorongan semangat pada kakak iparnya itu.


Dokter Adi kembali ke dalam kamar Lia begitu Bima sudah masuk ke dalam lift rumah sakit itu. Kini hanya tinggal ia dan Lia yang berada di dalam kamar itu, perasaan dokter Adi kembali terasa tak karuan karena teringat dengan pembicaraan Lia dengan Bima tadi, suasana di kamar itupun menjadi sangat canggung.


"Kamu sudah berbicara dengan dokter?" tanya Lia tiba-tiba. Suaranya itu memecah keheningan di dalam kamar. Dokter Adi menganggukkan kepalanya.


"Lalu, apa kata dokter? Kapan aku boleh keluar dari rumah sakit?" cecar Lia. Dokter Adi terdiam sejenak sambil menatap wajah cantik istrinya itu.


"Dokter akan mencoba memeriksamu lagi besok, kalau keadanmu benar-benar sudah pulih, lusa kamu sudah bisa meninggalkan rumah sakit ini!" terang dokter Adi. Seketika wajah Lia terlihat sedikit lebih ceria dari sebelumnya.

__ADS_1


"Lalu, kapan aku bisa menemui suster Rina?" tanya Lia lagi. Dokter Adi tersentak mendengar pertanyaan Lia itu, Lia terlihat sangat antusias untuk bertemu dengan suster Rina.


"Aku akan membawamu menemuinya saat kita keluar dari rumah sakit!" jawab dokter Adi pelan.


"Baiklah, terima kasih!" ucap Lia, ia mencoba untuk merebahkan tubuhnya di ranjang, dokter Adi beranjak dari tempat duduknya untuk membantu istrinya itu, tapi Lia memberi isyarat pada suaminya itu untuk tidak membantunya karena ia tidak ingin tubuhnya disentuh oleh dokter Adi. Akhirnya dokter Adi membatalkan niatnya itu dan hanya memandangi istri cantiknya yang semakin lama semakin seperti orang lain untuknya.


Dokter Adi kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang Lia, kepalanya tertunduk, perasaannya semakin kacau. Ia tidak pernah menyangka kalau hubungan di antara ia dan istrinya bisa seperti saat ini.


"Kalau aku keluar dari rumah sakit ini, aku akan tinggal di mana?" tanya Lia. Dokter Adi mengangkat kepalanya dan menatap Lia.


"Mengapa kamu bicara seperti itu? Sudah pasti kamu akan tinggal di rumahku! Di rumah kita!" jawab dokter Adi.


"Ee.. aku tidak bermaksud apa-apa!" ucap Lia pelan.


"Aku hanya berpikir kalau suami-istri akan tidur di kamar yang sama, tapi karena aku belum mengingat semuanya, bisakah kita tidur secara terpisah atau kalau tidak ada kamar lain di rumah itu, setidaknya di ranjang yang berbeda?" pinta Lia. Dokter Adi sangat terkejut mendengar permintaan Lia itu, ia benar-benar tidak menyangka kalau istrinya akan meminta hal yang sangat aneh baginya itu. Dokter Adi tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya mampu terus memandangi wajah istrinya itu.


"Kumohon!" bujuk Lia.

__ADS_1


"Apa kamu benar-benar membenciku?" tanya dokter Adi tiba-tiba. Lia tersentak mendengar pertanyaan dokter Adi. Dokter Adi mulai terbawa emosinya, ia menatap Lia dengan tatapan yang dingin.


"Apa kamu benar-benar merasa sangat tidak nyaman bersamaku?" tanya dokter Adi lagi. Lia terdiam sejenak sambil menatap kedua mata dokter Adi dengan seksama. Jantung dokter Adi berdebar dengan sangat kencang begitu seketika ekspresi wajah Lia beruba, Lia terlihat sangat serius.


"Ya! Aku saat ini aku merasa sangat tidak nyaman denganmu!" aku Lia tegas.


"Aku tidak suka kamu terus berada sangat dekat denganku, aku tidak suka setiap kali kamu menyentuhku, dan aku juga tidak suka kamu bersikap seperti seorang suami yang baik!" lanjutnya.


"Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padamu saat ini!" tambah Lia. Serangkaian ucapan Lia itu membuat dada dokter Adi terasa sangat sesak.


"Baiklah kalau begitu! Aku akan menuruti semua kemauanmu itu!" ucap dokter Adi akhirnya.


"Tetaplah tinggal di rumah kita seperti biasanya agar tidak ada yang tahu kalau hubungan kita berubah seperti saat ini, aku tidak ingin mengecewakan keluarga kita. Aku berjanji akan menjaga jarak denganmu!" lanjutnya. Jantungnya seperti akan meledak karena berdebar dengan sangat kencang.


"Deal?" tanya dokter Adi sambil mengajak Lia berjabat tangan. Sejenak Lia hanya terdiam sambil menatap wajah suami yang tidak dikenalnya itu, jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya, tapi kemudian ia meraih tangan dokter Adi dan menjabatnya.


"Oke!" ucapnya menyetujui perjanjian di antara mereka itu. Dokter Adi memandangi wajah istri yang sangat disayanginya itu, ia merasa sangat kecewa dengan apa yang terjadi pada hubungannya dengan istrinya saat ini tapi tidak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu sampai ingatan istrinya itu kembali dan berharap semuanya akan kembali seperti semula.

__ADS_1


"Tidurlah, sudah malam!" ucap dokter Adi lembut. Lia menganggukkan kepalanya pelan. Tangan dokter Adi tergerak untuk membenarkan posisi selimut yang menutupi tubuh Lia tapi seketika ia teringat dengan ucapan Lia yang mengatakan kalau ia tidak nyaman dengan sentuhannya, maka ia mengurungkan niatnya itu dan kembali duduk di kursinya.


...


__ADS_2