
"Kamu mau ponsel yang mana?" tanya dokter Adi.
"Terserah kamu mau membelikan aku yang mana." jawab Lia.
"Pilih saja yang kamu mau!" ucap dokter Adi.
"Kalau kamu menyuruhku untuk memilih, nanti aku akan memilih yang paling mahal!" tukas Lia.
"Kamu meremehkan kemampuan suamimu?" bisik dokter Adi dengan nada bicara sombongnya.
"Oke kalau begitu, aku mau yang ini!" seru Lia sambil menunjuk sebuah ponsel terbaru yang harganya cukup mahal.
"Baik! Mas, saya mau ponsel yang ini!" seru dokter Adi kepada petugas toko ponsel itu. Lia tersentak, ia sebenarnya tidak benar-benar menginginkan ponsel mewah itu tapi suaminya sungguh-sungguh memberikannya.
"Kamu punya tabungan sebanyak itu?" tanya Lia dengan suara berbisik.
"Kamu tahu seberapa banyak tabunganku, karena kamu yang mengelola semuanya!" jawab dokter Adi dengan suara berbisik juga.
"Aku tidak tahu!" ucap Lia polos.
"Maksudku bukan sekarang tetapi dulu." terang dokter Adi.
"Aku selalu terbuka tentang apapun juga dengan istriku." jelasnya. Lia menatap kedua mata dokter Adi untuk memastikan ucapan suaminya itu sungguh-sungguh atau hanya sebuah gurauan, tapi suaminya itu tidak terlihat seperti sedang bercanda.
"Bapak mau ponsel yang warna apa?" tanya petugas toko.
"Kamu mau warna apa? pink seperti ponselmu yang dulu?" tanya dokter Adi. Lia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Saya tidak mau ponsel yang ini, mas!" ucap Lia tiba-tiba. Dokter Adi tersentak mendengar ucapan Lia itu.
"Tadi kamu bilang ingin yang ini!" ucap dokter Adi. Lia menggelengkan kepalanya sambil berlalu dari hadapan suaminya dan berkeliling toko ponsel itu untuk melihat ponsel jenis lainnya.
"Aku mau yang ini saja!" seru Lia sambil menunjuk ke arah ponsel berwarna merah muda yang diinginkannya. Dokter Adi terdiam terpaku begitu mengetahui ponsel yang diinginkan istrinya itu yang ternyata ponsel jenis yang sama dengan ponsel lama Lia sebelum kecelakaan tragis itu terjadi, padahal setelah kecelakaan itu Lia belum pernah melihat kembali ponselnya tapi ia bisa memilih ponsel yang sama dengan sebelumnya.
"Kamu sungguh ingin ponsel itu?" tanya dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya dengan kuat dan perlahan sebuah senyuman lembut merekah di bibir mungil Lia, dibarengi dengan munculnya eye smile khas milik Lia yang sudah lama sekali tidak diperlihatkan Lia kepada suaminya itu. Melihat eye smile di mata Lia itu, seketika jantung dokter Adi berdebar kencang, ia merasa seperti melihat Lia yang dulu dikenalnya dan sekali lagi ia merasa jatuh cinta pada wanita yang tidak mengakuinya sebagai suami itu.
...
Setelah menyelesaikan transaksi pembelian ponsel itu, Dokter Adi hendak mengantarkan Lia ke rumah orang tuanya. Selama di perjalanan, beberapa kali dokter Adi melirik ke arah Lia yang sedang sibuk mengutak-atik ponsel barunya, tanpa disadarinya, ia tersenyum setiap kali melirik istrinya itu. Dokter Adi terlihat seperti anak muda yang baru saja jatuh cinta.
Akhirnya dokter Adi dan Lia tiba di rumah orang tua Lia. Bapak dan ibu Tanto menyambut kedatangan mereka dengan penuh sukacita.
"Anak-anakku!" seru bu Tanto sambil memeluk dokter Adi dan Lia.
Dokter Adi membawakan semua barang-barang Lia itu ke dalam kamarnya, di dalam kamar itu rupanya Lia sudah menunggu dokter Adi untuk bisa segera membereskan barang-barangnya. Di saat Lia sedang sibuk dengan perlengkapannya, dokter Adi menutup rapat serta mengunci pintu kamar Lia. Dokter Adi melangkah perlahan mendekati Lia dan duduk tepat di samping Lia.
"Apa kita benar-benar harus tinggal terpisah seperti ini?" bisik dokter Adi. Ia membuat Lia terkejut dengan ucapannya itu.
"Kamu kan yang mengusulkan ide itu." ucap Lia.
"Tapi aku tidak benar-benar ingin kita hidup terpisah!" ungkap dokter Adi. Sejenak Lia menatap kedua mata suaminya itu dengan seksama lalu kembali membereskan barang-barangnya. Dokter Adi yang merasa diabaikan Lia itu langsung mendekap erat tubuh mungil istrinya dari belakang.
"Hei!" seru Lia yang terkejut karena perlakuan suaminya itu.
"Ayo, pulanglah denganku!" ajak dokter Adi. Lia menggelengkan kepalanya. Perlahan dokter Adi melepaskan dekapannya dari tubuh Lia dan membalikkan tubuh Lia menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Kalau begitu berikan aku semangat untuk bisa menjalani beberapa hari ke depan tanpamu!" pinta dokter Adi.
"Semangat!" seru Lia sambil menepuk pundak dokter Adi beberapa kali.
"Aku tidak bisa merasakan semangat sama sekali!" gerutu dokter Adi.
"Kamu mau bagaimana?" tanya Lia. Pertanyaan Lia itu adalah pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh dokter Adi, ia tersenyum nakal pada istrinya itu tapi Lia tidak mengerti dengan apa yang diinginkan suaminya.
Lia terkejut begitu tiba-tiba dokter Adi melingkarkan tangan kirinya di pinggang Lia dan menarik tubuhnya hingga bersentuhan dengan tubuh dokter Adi. Jantungnya mulai berdebar kencang ketika suaminya itu membelai lembut bibir mungil dan pipinya dengan ibu jari tangan kanannya dan tiba-tiba saja tanpa peringatan terlebih dahulu, dokter Adi mendaratkan sebuah kecupan di bibir mungil Lia, tapi Lia yang terkejut langsung mendorong dada suaminya itu dan melepaskan kecupannya.
"Kamu gila ya! Nanti bapak dan ibu melihat!" bisik Lia cemas.
"Tidak akan! Mereka tidak akan melihatnya!" tukas dokter Adi.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya!" terang dokter Adi sambil tersenyum genit dan memeberi isyarat pada Lia untuk melihat pintu kamarnya yang sudah terkunci.
"Dasar!" maki Lia.
"Jadi, aku boleh memintanya kan?!" tanya dokter Adi. Lia terlihat kikuk mendengar ucapan dokter Adi itu. Tanpa basa-basi lagi, akhirnya dokter Adi kembali mendaratkan kecupan di bibir mungil Lia, Lia tersentak tapi ia membiarkan suaminya itu memberikan kecupan di bibirnya. Jantungnya berdebar lebih kencang lagi hingga membuat dadanya terasa sesak, tanpa disadarinya, kedua tangannya itu meremas kaus yang dikenakan suaminya pada bagian dadanya. Lia memberanikan diri menatap wajah suaminya yang kini berada sangat dekat dengannya tapi itu malah membuat wajahnya memerah.
"Apa yang kulakukan?" tanya Lia dalam hati.
"Kenapa aku membiarkannya melakukan ini?" lanjutnya. Kecupan dokter Adi itu berubah menjadi ciuman yang panas, dokter Adi pun mempererat dekapannya di tubuh mungil istrinya itu.
"Tidak apa-apakah aku melakukan ini dengannya?" Lia merasa sedikit bimbang dengan sikapnya membiarkan dokter Adi menikmati bibir mungilnya.
"Biarlah sesekali aku membiarkannya! Dia kan suamiku!" batin Lia. Akhirnya Lia memejamkan kedua matanya dan mencoba menikmati setiap sentuhan dari bibir pria tampan yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
...