Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Lima


__ADS_3

"Ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya!" pinta Lia. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan, ia mengusap punggung Lia dengan lembut dan menggenggam tangan Lia dengan erat.


"Kumohon!" pinta Lia lagi dengan suara lirih. Dokter Adi menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak tahu dengan pasti bagaimana semuanya itu terjadi." ucap dokter Adi pelan.


"Pagi itu, sebelum aku berangkat kerja, kamu meminta ijin padaku untuk pergi membeli perlengkapan bayi dan aku akan menjemputmu setelah pulang kerja." jelas dokter Adi.


"Semuanya berjalan biasa sampai siang itu aku mencoba menghubungimu tapi kamu tidak pernah mengangkat teleponku. Aku meminta tolong pada Indah untuk menghubungimu..." lanjutnya.


"Indah?" gumam Lia bingung.


"Indah, perawat yang merawatmu di rumah sakit! Rekan kerja Rina!" terang dokter Adi, tapi Lia masih terlihat bingung seperti orang yang tidak mengenalinya.


"Kamu mengingat Rina tapi tidak mengenal Indah?" tanya dokter Adi. Lia menatap dokter Adi dan menggelengkan kepalanya pelan. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.


"Ketika Indah mencoba menghubungimu, seorang pria yang sampai saat ini aku tidak tahu itu siapa menerima panggilan dari ponselmu, ia memberi tahu kalau kamu mengalami kecelakaan dan sebelum kami mengetahui kalau kamu menjadi korban kecelakaan, kami menonton berita terkini di televisi yang memberitakan kecelakaan yang kamu alami itu." ungkap dokter Adi.


"Aku segera ke rumah sakit ini, aku tiba di sini ketika kamu sedang menjalani operasi dan dokter memberi tahukan kalau putra kita sudah meninggal karena benturan keras yang kamu alami." tambah dokter Adi. Mata Lia yang terus menatap dokter Adi terlihat berkaca-kaca.


Dokter Adi membelai pipi Lia dan tersenyum lembut pada Lia.


"Anak pertama kita berjenis kelamin laki-laki, wajahnya sangat mirip denganmu!" ungkap dokter Adi. Mendengar ucapan dokter Adi itu, perlahan air mata Lia mulai mengalir ke pipinya lagi dan dokter Adi menghapus air mata itu dengan tangannya.


"Aku ingin melihatnya, apa kamu memiliki fotonya?" tanya Lia.

__ADS_1


"Aku tidak sempat mengambil gambarnya karena aku belum bisa menerima keadaan ini saat itu tapi pasti mama mengambil gambarnya!" jawab dokter Adi.


"Mama?" gumam Lia pelan.


"Ibuku, kita memanggilnya mama." terang dokter Adi. Lia menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya.


"Kepalaku sakit..." ucap Lia pelan.


"Beristirahatlah!" ucap dokter Adi sambil membantu Lia merebahkan tubuhnya. Dokter Adi menyelimuti tubuh Lia dengan selimut.


"Ini semuanya tidak adil!" ucap Lia tiba-tiba. Dokter Adi tersentak, ditatapnya wajah cantik istrinya itu.


"Kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya ini? Aku tidak bisa merasakan apa yang harusnya kurasakan!" ungkap Lia. Dokter Adi membelai kepala Lia.


"Di hatiku, aku merasa sangat kehilangan bayiku itu tapi aku merasa ada perasaan yang menggantung karena aku tidak bisa mengingat bagaimana perasaanku ketika dia masih berada dalam perutku, apa yang kurasakan ketika aku mengandungnya, dan apa yang kurasakan ketika kecelakaan itu terjadi!" lanjut Lia.


"Bagaimana mungkin kamu bisa mengerti?" tukas Lia. Dokter Adi terdiam.


"Kamu bisa menyentuhnya sebelum dia benar-benar tidak bisa kamu lihat lagi! Kamu bisa menangis lepas mencurahkan semua perasaan kehilangan sesuatu yang sangat berharga di hidupmu, tapi aku? Bahkan aku tidak punya kenangan sedikitpun di pikiranku saat ini tentang anak itu!" lanjutnya. Air mata mulai mengalir lagi dari sudut mata Lia.


"Aku tidak ingat sedikitpun kalau dia pernah ada di dalam perutku dan kalau kamu mau tahu, itu adalah hal yang sangat menyakitkan untukku! Bagaimana mungkin seorang ibu bisa tidak ingat sedikitpun dengan anaknya yang pernah ada dalam perutnya?!" tambah Lia.


"Aku bukan seorang ibu yang baik!" maki Lia pada dirinya sendiri.


"Tidak! Kamu ibu yang sangat baik, kamu istri yang terbaik!" aku dokter Adi. Dokter Adi membelai lembut rambut Lia, matanya terlihat berkaca-kaca.

__ADS_1


"Maafkan aku!" bisiknya. Ia mencium kening Lia.


...


Bapak dan ibu Tanto datang menjenguk putri cantiknya bersama dengan pak Dony dan ibu Elisa.


"Lia sayang!" sapa bu Elisa pada menantu satu-satunya itu. Lia tersenyum kikuk mendengar sapaan mertuanya itu. Bu Tanto dan bu Elisa duduk di sisi Lia.


"Bagaimana keadaanmu, nak? Apa tubuhmu masih ada yang sakit?" tanya bu Tanto, ia terlihat sangat cemas dengan keadaan putrinya itu.


"Ee.. sa.. saya merasa sudah lebih baik dari sebelumnya." jawab Lia pelan. Pak Dony, bu Elisa, dan dokter Adi, serta bapak dan ibu Tanto merasa aneh dengan jawaban Lia. Dokter Adi mendekati istrinya itu.


"Kamu tidak mengenali bapak dan ibu?" tanya dokter Adi pelan. Lia terdiam menatap dokter Adi, tapi perlahan matanya terlihat berkaca-kaca.


"Tidak." jawabnya pelan sambil menggelengkan kepalanya. Lia tertunduk. Dokter Adi merangkul pundak istrinya dengan mesra.


"Ini bapak dan ibu, orang tuamu, lalu ini papa dan mama, orang tuaku, mertuamu!" Dokter Adi menjelaskan pada Lia dengan sangat lembut, tapi Lia justru terlihat murung, ia terus menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku! Bahkan aku tidak bisa mengenali orang tuaku sendiri!" ucap Lia, suaranya terdengar berat dan bergetar. Suara nafasnya mulai terdengar menderu, air matanya mulai berjatuhan satu persatu.


"Tidak apa-apa sayang! Kami mengerti keadaanmu! Kamu pasti akan mengingat kami perlahan-lahan nanti!" hibur bu Elisa sambil mengusap punggung Lia. Bu Tanto meraih salah satu tangan Lia dan menggenggamnya erat.


"Ya, nak! Tidak masalah kalau kamu tidak mengingat kami saat ini, tidak masalah kamu melupakan kenangan kita di masa lalu, kita buat kenangan baru yang lebih indah di masa depan sampai kamu tidak akan pernah bisa melupakannya lagi!" ucap bu Tanto. Matanya terlihat berkaca-kaca.


"Terima kasih!" ucap Lia sambil menatap kedua ibunya itu bergantian.

__ADS_1


...


__ADS_2