
Lia membuka matanya dengan cepat karena merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibir mungilnya, dan ia sangat terkejut begitu mengetahui kalau dokter Adi berada di hadapannya dengan jarak yang sangat dekat dan bibir yang menempel pada bibirnya. Sejenak otaknya seperti memproses apa yang sedang terjadi di hadapannya dan begitu ia tersadar, tangannya dengan cepat bergerak seperti hendak mendorong tubuh suaminya itu tapi dengan sigap dokter Adi menahan kedua tangan itu dengan kedua tangannya, ia membuat kedua tangan Lia tidak dapat bergerak dari ranjangnya. Lia memalingkan wajahnya agar bibirnya terlepas dari sentuhan bibir dokter Adi.
"Apa yang kamu lakukan?!" seru Lia marah.
"Aku akan berangkat kerja, aku butuh semangat darimu!" jawab dokter Adi.
"Tidak ma... emmph!" Belum selesai Lia mengucapkan kata-kata penolakan itu, dokter Adi sudah lebih dulu menautkan bibir tipisnya ke bibir mungil Lia dan mulai ********** dengan penuh gairah.
Lia berusaha meronta dan melepaskan tangannya dari cengkraman dokter Adi tapi tenaga yang dimiliki dokter Adi jauh lebih kuat darinya sehingga usahanya sia-sia saja. Perlahan dokter Adi melepaskan bibirnya dari bibir Lia itu. Lia menatapnya dengan tajam, tapi dokter Adi malah tersenyum lebar padanya.
"Sekarang aku sudah bersemangat untuk berangkat kerja!" bisiknya lembut.
"Terima kasih sayang!" Dokter Adi mengecup lembut kening Lia sambil melepaskan cengkramannya di kedua tangan Lia.
Dokter Adi beranjak dari tempatnya dan hendak keluar dari ruangan itu tapi Lia melemparkan bantalnya hingga mengenai kepala dokter Adi hingga membuat langkah dokter Adi terhenti dan ia membalikkan tubuhnya kembali menghadap Lia.
"Kamu tidak boleh melakukan hal seperti itu!!" jerit Lia.
"Aku berhak mendapatkan yang lebih dari itu, Lia! Aku suamimu yang sah secara hukum dan agama!" sahut dokter Adi sambil tersenyum lebar dan sesaat kemudian berlalu dari tempat itu, meninggalkan Lia yang masih sangat kesal.
"Aaaarrrggghh!!!" jerit Lia.
...
Dokter Adi akhirnya tiba di ruang kerjanya, ia meletakkan tas kerjanya dan segera mengenakan jas putihnya untuk segera bisa melakukan pekerjaannya. Ia berjalan perlahan menuju ruang perawat untuk menemui asistennya, suster Indah.
"Selamat pagi semuanya!" sapa dokter Adi begitu memasuki ruang perawat.
"Dokter!!" seru suster Indah dan Dimas bersamaan. Mereka bergegas menghampiri dokter Adi.
"Bagaimana kabar dokter?" tanya Dimas.
"Seperti yang kalian lihat saat ini!" jawab dokter Adi sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Lia, dok?" tanya suster Indah.
"Dia sehat! Sangat sehat!" jawab dokter Adi.
"Apa dia sudah bisa mengingat sesuatu dok?" tanya suster Indah lagi. Dokter Adi menggelengkan kepalanya.
"Dia bahkan tidak mau tidur seranjang lagi!" terang dokter Adi pelan.
"Hah?!" Dimas dan suster Indah terkejut.
"Waaah dokter pasti kesepian!" ledek Dimas. Dokter Adi menatap tajam ke arah Dimas. Dimas dan suster Indah tertawa kecil.
"Kalau begitu, jangan sampai Lia bertemu dengan atasannya terlebih dahulu, dok!" ucap suster Indah.
"Kenapa?" tanya dokter Adi, ia terlihat kebingungan.
"Takutnya Lia akan jatuh cinta pada atasannya yang tampan itu!" sambung Dimas.
"HEI!!" seru dokter Adi kesal. Dimas dan suster Indah tertawa keras, mereka terlihat sangat puas karena berhasil menggoda dokter Adi.
...
"Apa yang dikeluhkan Ardo?" tanya dokter Adi pada suster Indah sambil mereka berjalan bersama-sama menuju kamar pasien bernama Ardo itu.
"Di hari pertama dokter tidak bekerja itu semuanya masih stabil, tapi lewat dari hari kedua dan dokter Rico mulai menggantikan dokter, dia mulai emosional. Dia sering berteriak dan bilang kalau dokter meninggalkannya dan tidak menepati janji." terang suster Indah.
"Dia juga tidak mau meminum semua obat yang sebelumnya dokter resepkan ataupun obat baru yang diresepkan dokter Rico." lanjutnya.
"Puncaknya kemarin, dok!" ucap suster Indah. Dokter Adi menatap wajah suster Indah dengan seksama.
"Ardo mengamuk pada semua orang yang ada di ruangan kamarnya saat itu dan melukai dokter Rico dengan tiang penyangga infusnya hingga membuat kening dokter Rico berdarah cukup banyak." ungkap suster Indah.
"Jadi kami terpaksa mengikat kedua tangan Ardo, dok!" tambahnya. Dokter Adi menganggukkan kepalanya perlahan.
__ADS_1
Akhirnya mereka menghentikan langkah mereka tepat di depan pintu kamar pasien bernama Ardo itu. Dokter Adi melangkah pelan mendekati pintu itu, ia mencoba memantau situasi di dalam kamar melalui kotak kaca yang ada di pintu itu.
"Aku akan mencoba untuk melakukan pendekatan lagi padanya, kamu tunggu saja di luar!" ucap dokter Adi.
"Ta.. tapi dok.."
"Kalau terjadi sesuatu pada saya tapi saya belum menyuruhmu untuk meminta bantuan, biarkan saja dulu ya! Saya akan menyuruhmu meminta bantuan kalau saya sudah benar-benar tidak bisa menanganinya!" pesan dokter Adi.
"Baik dok!" ucap suster Indah pasrah.
Dokter Adi menghela nafasnya perlahan dan mencoba masuk ke dalam kamar itu.
"Hati-hati dok!" ucap suster Indah pelan sesaat sebelum dokter Adi menutup pintu kamar itu. Dokter Adi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut.
"Hai Ardo!" sapanya ramah. Ardo yang sedang duduk di atas ranjangnya menoleh ke arah dokter Adi yang baru saja masuk ke kamarnya. Ardo menatap dokter Adi dengan tatapan tajam.
Dokter Adi melangkah perlahan mendekati Ardo dan duduk tepat di sampingnya. Ardo memalingkan pandangannya ke jendela kamarnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya dokter Adi. Ardo tidak menjawab pertanyaan dokter Adi itu.
"Maafkan saya karena tidak bisa menemuimu beberapa hari ini karena ada hal yang harus saya lakukan di luar sana." ungkap dokter Adi pelan. Ardo tidak merespon sedikitpun perkataan dokter Adi.
"Emm.. kamu pasti tidak nyaman dengan tangan terikat seperti ini, kan?!" tanya dokter Adi. Ardo menoleh ke arah dokter Adi, ia menatap kedua mata dokter Adi, masih dengan tatapan tajamnya.
"Mau saya bukakan pengikatnya?" tanya dokter Adi lagi. Ardo menganggukkan kepalanya pelan. Dokter Adi mulai melepaskan pakaian yang membuat kedua tangan Ardo terikat itu, dan...
Dengan cepat kedua tangan Ardo mencengkram kerah pakaian dokter Adi dan dengan tubuh besarnya ia menyeret tubuh dokter Adi hingga membentur salah satu dinding kamarnya. Suster Indah yang melihat kejadian itu mulai panik tapi dokter Adi memberi isyarat dengan tangannya agar suster Indah tetap tenang dan tidak memanggil bantuan.
Ardo mencengkram kerah pakaian dokter Adi itu dengan lebih kuat lagi hingga membuat dokter Adi sedikit kesulitan bernafas.
"Anda pikir, anda saja yang punya masalah di hidup ini?" ucap Ardo.
"Anda seorang dokter, tidak sepatutnya anda meninggalkan pasien anda hanya untuk masalah pribadi anda!" tambahnya. Ia menatap dokter Adi dengan tajam seakan mencoba untuk mengintimidasi dokter Adi.
__ADS_1
...