
Bu Tanto memperhatikan sikap putrinya yang tampak sangat ceria pagi ini, padahal kemarin putrinya itu masih mengurung diri di kamar seharian, tapi pagi ini ia sudah mandi dan mengenakan pakaian bagusnya.
"Kamu mau ke mana, nak?" tanya bu Tanto akhirnya.
"Aku mau pergi bu!" jawab Lia singkat sambil memoleskan make up tipis di wajahnya.
"Mau pergi ke mana? Dengan siapa?" tanya bu Tanto cemas, ia takut putrinya pergi dari rumah sendiri ataupun bersama orang tidak dikenal dan tidak kembali ke rumah.
"Dengan Adi, bu!" jawab Lia.
"Adi?" gumam bu Tanto.
"Maksudmu pak dokter?" tanya bu Tanto. Lia menganggukkan kepalanya.
"Ibu canggung mendengarmu memanggil nama pak dokter seperti itu." ungkap bu Tanto. Lia menatap ibunya itu.
"Lalu aku harus memanggilnya 'pak dokter' juga seperti ibu?" tukas Lia.
"Bu.. bukan begitu, tapi biasanya kamu tidak memanggilnya dengan namanya saja seperti itu, nak!" terang bu Tanto.
"Lalu aku memanggilnya dengan sebutan apa?" tanya Lia.
"Kamu biasanya memanggilnya dengan sebutan 'suamiku' atau 'dokter kesayanganku'" jawab bu Tanto. Lia tertawa kecil.
"Menggelikan!" seru Lia.
__ADS_1
"Apa aku sebucin itu padanya?" ucap Lia tak percaya.
"Mulai sekarang aku hanya akan memanggil namanya saja, bu!" tegas Lia. Bu Tanto menghela nafasnya perlahan.
"Baiklah, nak!" ucap bu Tanto pasrah, ia menyadari putrinya itu sudah sangat berubah.
...
Dokter Adi akhirnya tiba di rumah keluarga Lia, kedatangannya di sambut oleh kedua mertuanya.
"Pagi, pak, bu!" sapa dokter Adi.
"Pagi, nak!" sahut pak Tanto.
"Lia sedang di toilet sebentar!" terangnya.
"Iya, bu! Tidak apa-apa!" ucap dokter Adi sambil mengambil posisi di salah satu kursi yang ada di ruang tamu rumah itu. Bu Tanto beranjak dari tempatnya dan duduk di samping menantu tampannya itu.
"Nak..." panggil bu Tanto pelan.
"Ya bu?" sahut dokter Adi.
"Ibu mau bicara sedikit denganmu." ucap bu Tanto dengan suara berbisik.
"Ada apa, bu? Apa terjadi sesuatu lagi dengan Lia?" tanya dokter Adi. Bu Tanto menghela nafasnya perlahan.
__ADS_1
"Ibu baru saja menyadari kalau putri ibu banyak berubah belakangan ini. Apa semuanya karena kecelakaan itu?" tanya bu Tanto. Dokter Adi menganggukkan kepalanya.
"Ya bu. Sejak pertama kali dia siuman, karakternya sudah berubah seperti itu." jawab dokter Adi. Bu Tanto menatap kedua mata dokter Adi dengan seksama.
"Kamu pasti sangat menderita dengan semuanya itu!" ucap bu Tanto. Dokter Adi tersenyum lembut.
"Tidak bu! Aku hanya sedikit terkejut dengan semua perubahannya tapi aku tidak pernah merasa menderita hidup bersama Lia meskipun saat ini karakternya berubah menjadi seperti itu." ungkap dokter Adi.
"Apa Lia bisa berubah seperti dulu lagi, nak?" tanya bu Tanto.
"Mungkin kalau ingatannya kembali, karakternya bisa saja kembali seperti dulu, bu! Tapi bisa saja karakternya yang sekarang akan berubah menjadi karakter permanennya." jawab dokter Adi.
"Semuanya tergantung kepada Lia, bu." tambahnya. Bu Tanto menghela nafasnya kembali, lalu perlahan ia meraih tangan menantunya itu dan menggenggamnya erat.
"Ibu tahu, kamu pasti lelah dengan semua ujian ini tapi ibu mohon kamu jangan pernah menyerah ya, nak!" ucap bu Tanto lembut.
"Ibu mohon, jangan pernah menyerah pada putri ibu!" pintanya. Dokter Adi membalas genggaman tangan bu Tanto di tangannya dengan menggenggam balik tangan yang sudah mulai keriput itu.
"Aku tidak akan menyerah, bu! Aku hanya mencoba untuk memulai semuanya dari awal lagi, tapi bagiku selamanya Lia adalah istriku dan aku adalah suami Lia." tegas dokter Adi.
"Sama seperti dulu, aku tidak akan pernah menyerah dengan Lia!" tambahnya.
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tiba-tiba terdengar suara Lia yang baru saja masuk ke ruang tamu, kehadirannya itu membuat semuq yang ada di ruangan itu terkejut.
...
__ADS_1