Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

"Carilah orang yang bisa kamu percaya dan tanyakan tentang foto itu padanya!" lanjutnya. Lia tertunduk, ia memikirkan semua ucapan dokter Adi itu. Dokter Adi benar, ia mungkin tidak akan begitu saja mempercayai ucapan dokter Adi tentang cerita di balik foto itu, terlebih lagi kalau ucapan dokter Adi itu membenarkan dirinya.


"Lalu aku harus bertanya pada siapa?" tanya Lia di dalam hatinya.


"Aku sangat lelah hari ini, aku akan membersihkan diri dan pergi tidur." ucap dokter Adi tiba-tiba. Suara dokter Adi itu memecah lamunan Lia. Dokter Adi tersenyum lembut pada Lia, lalu perlahan ia membalikan badannya dan hendak meninggalkan Lia yang masih terpaku. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, dokter Adi kembali membalikkan tubuhnya menghadap Lia. Sejenak ia hanya menatap wajah Lia lalu menghela nafasnya perlahan.


"Apa aku boleh tidur bersamamu malam ini?" tanya dokter Adi pelan. Meskipun ia menyampaikannya dengan suara yang pelan tapi ucapannya itu berhasil membuat Lia tersentak, ia sangat terkejut mendengarnya.


"Aku tidak akan berbuat hal-hal aneh padamu..." lanjut dokter Adi.


"Aku hanya ingin tidur di sampingmu malam ini." ungkapnya.


Dokter Adi terus menatap kedua mata Lia, ia berharap Lia akan memberikannya kesempatan untuk bisa beristirahat bersamanya malam ini karena ia merasa sangat membutuhkan semangat dari Lia. Ia tidak pernah merasa selemah ini sebelumnya karena Lia selalu memberikan dukungan dan menjadi penyemangatnya tapi semuanya sudah berubah dan ia benar-benar kehilangan sosok istrinya yang selalu menjadi penolongnya di saat lemah.


"Baiklah!" ucap Lia tiba-tiba. Ucapan Lia itu membuat dokter Adi sangat terkejut, ia memang berharap kalau Lia memberikan kesempatan padanya untuk bisa bersama malam ini, tapi ia tidak menyangka kalau Lia benar-benar memberikan kesempatan itu!


"Kamu boleh tidur denganku malam ini, tapi..." Ucapan Lia terhenti, dipandanginya kedua mata suaminya itu dengan seksama.


"Kamu harus menceritakan semua tentang foto itu padaku!" ucap Lia. Dokter Adi menghela nafasnya.


"Kamu tidak akan percaya dengan ceritaku..."


"Masalah percaya atau tidak, itu urusanku! Aku hanya ingin kamu menceritakannya menurut versimu!" tukas Lia. Dokter Adi terdiam dan hanya bisa memandangi wajah cantik istrinya itu.


"Kalau kamu tidak mau menceritakannya, kamu tidak boleh tidur bersamaku malam ini!" seru Lia sambil berlalu dari hadapan dokter Adi dan berjalan menuju kamarnya.


"Baiklah! Aku akan menceritakannya!" seru dokter Adi sambil mengejar Lia.


...


Lia selesai menggosok giginya, ia keluar dari kamar mandi yang ada di kamarnya itu dan... pandangannya langsung tertuju pada dokter Adi yang sudah berada di ranjangnya, seketika jantung Lia berdebar dengan sangat kencang, ia merasa ini seperti pertama kalinya ia tidur dengan seorang pria dalam satu ranjang yang sama.


Lia menaiki ranjangnya dengan kikuk, ia merasa sangat gugup dan malu berada dalam satu ranjang dengan dokter Adi. Dengan cepat Lia menyembunyikan tubuhnya dalam selimut tebal miliknya. Jantung Lia berdebar lebih kencang lagi begitu dokter Adi membalikkan tubuh ke arahnya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan tentang foto itu?" tanya dokter Adi pelan.

__ADS_1


"Ee.." Lia masih terlihat sangat gugup untuk menatap wajah suaminya itu.


"Lia.." panggil dokter Adi lembut. Lia berusaha keras untuk menolehkan wajahnya ke arah dokter Adi yang tidur di sampingnya dan jantungnya semakin kuat berdebar begitu melihat wajah tampan suaminya itu.


"Si.. siapa pria yang bersamaku di foto itu?" Akhirnya Lia bisa mengucapkan pertanyaan yang sudah tersimpan dalam hatinya sedari tadi itu. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.


"Dia adalah mantan calon tunanganmu!" ungkap dokter Adi.


"HAH?!" Lia terlihat sangat terkejut.


"Dulu aku mengambil foto itu dari dompetmu yang ada di lemari pakaianmu dan menyembunyikannya sampai kita menikah." jelas dokter Adi.


"Aku malu mengatakan ini sebenarnya, tapi aku benar-benar tidak ingin kamu mengingat lagi tentang pria itu!" lanjutnya.


"Pantas saja aku menangis sampai seperti itu..." gumam Lia pelan.


"Hah? Apa?" tanya dokter Adi karena ia tidak terlalu jelas mendengar ucapan Lia itu.


"Tidak! Tidak apa-apa!" tukas Lia.


"Pria itu menghianati hubungan kalian!" jawab dokter Adi.


"Dan akhirnya dia menikah dengan teman dekatmu saat itu." lanjutnya. Lia kembali terlihat terkejut.


"Ee.. apa kamu juga menemukan kotak cincin yang kusimpan bersama dengan foto itu?" tanya dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya.


"Itu cincin yang akan kalian gunakan untuk bertunangan waktu itu tapi semuanya gagal dan kamu masih menyimpannya jadi aku mengambilnya agar kamu tidak terus-terusan mengingatnya." jelas dokter Adi.


"Apa aku begitu mencintai pria itu sampai-sampai aku terus menyimpan fotonya dan cincin tunangan itu meskipun dia sudah menghianatiku?" tanya Lia penasaran. Dokter Adi terdiam sejenak, ia menatap wajah istrinya itu dengan seksama.


"Aku tidak tahu dengan pasti bagaimana perasaanmu." jawab dokter Adi.


"Mungkin kamu memang masih menyimpan perasaan untuknya sebelum bertemu denganku!" lanjutnya.


"Sebelum bertemu denganmu? Maksudmu?" tanya Lia bingung. Dokter Adi menghela nafasnya pelan.

__ADS_1


"Kalau kamu masih memiliki perasaan untuk pria breng... ee.. maksudku pria itu, bagaimana mungkin kita bisa menikah, Lia?!" terang dokter Adi.


"Mungkin saja kan kita..."


"Apa kamu pikir kamu menikah denganku karena terpaksa?" potong dokter Adi.


"Ee.." Lia terlihat kikuk.


"Kita saling mencintai, Lia! Dari sebelum kita menikah, kita sudah sangat saling mencintai!" seru dokter Adi.


"Kita sama-sama sangat bahagia dengan pernikahan ini!" lanjutnya. Dokter Adi mulai terlihat emosional karena Lia tidak mempercayai kalau mereka saling mencintai sebelumnya.


"Sudahlah!" serunya kesal sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Lia.


"Hei! Kenapa kamu marah seperti itu?" protes Lia sambil menarik-narik lengan dokter Adi agar ia mau kembali membalikkan tubuh menghadapnya.


"Aku kecewa padamu!" gerutu dokter Adi tanpa membalikkan tubuhmu.


"Aku kan hanya bertanya!" tukas Lia. Ia kembali menarik-narik lengan dokter Adi untuk membujuk dokter Adi agar mau kembali menghadap ke arahnya.


"Aku bertanya karena aku tidak tahu!" lanjutnya. Lia menghela nafasnya perlahan.


"Kamu lupa kalau aku masih kehilangan ingatanku?" ucap Lia pelan. Ucapan Lia itu membuat dokter Adi tersentak.


"Kalau benar kamu sangat mencintaiku, seharusnya kamu bersabar dengan semua ini!" lanjut Lia. Suaranya terdengar sedikit bergetar.


"Aku juga tidak ingin terus terjebak pada 'dunia' yang tidak aku kenal ini!" ungkapnya.


"Makanya aku berusaha untuk mengembalikan ingatanku semuanya!" tambah Lia. Suaranya semakin terdengar bergetar. Dokter Adi tersentuh dengan ucapan Lia itu, perlahan ia membalikkan tubuhnya kembali menghadap Lia dan memandangi kedua mata indah milik istrinya itu yang tampak berkaca-kaca.


Dokter Adi menyadari kesalahannya, belakangan ini ia memang terlalu emosional dalam menghadapi semua permasalahan yang menimpa hidupnya, padahal dulu ia sangat sabar menghadapi Lia yang bahkan tidak segan-segan untuk mencelakainya.


"Maafkan aku." ucap dokter Adi pelan. Sejenak mereka hanya saling menatap tanpa mengatakan apa-apa, tapi sesaat kemudian...


"Ada satu lagi yang ingin kutanyakan!" ucap Lia. Dokter Adi tersentak, seketika ekspresi wajah Lia berubah, ia kembali tampak sangat antusias untuk menanyakan hal-hal yang ada dalam pikirannya, tapi kali ini dokter Adi tidak mengerti apa lagi yang akan Lia tanyakan padanya.

__ADS_1


...


__ADS_2