
Bima menemui dokter Adi di rumah sakit siang itu. Ia merasa sangat gelisah dengan sikap kakaknya semalam.
"Ada apa? Tidak biasanya kamu menemuiku di jam kerja seperti ini!" ucap dokter Adi yang cukup terkejut dengan kehadiran adik iparnya itu.
"Ada yang ingin kusampaikan padamu." terang Bima. Dokter Adi memperhatikan ekspresi wajah Bima yang sangat terlihat kalau ia sedang gusar.
"Apa ada masalah?" tanya dokter Adi, ia mulai merasa sedikit khawatir melihat ekspresi wajah Bima itu.
"Begini..." Bima memulai ceritanya.
"Semalam kak Lia bertanya tentang banyak hal padaku, termasuk tentang pak Felix." terangnya.
"Felix? Kenapa dengan Felix?" tanya dokter Adi. Bima menghela nafasnya perlahan.
"Kak Lia banyak menanyakan tentangnya karena kak Adi bilang kalau pak Felix pernah menyukainya." ungkap Bima.
"Oh iya, kemarin memang aku sempat menceritakannya pada Lia." ucap dokter Adi.
"Kurasa sebaiknya hal itu tidak perlu diberitahukan pada kak Lia!" tukas Bima.
"Kenapa?" tanya dokter Adi. Bima terdiam sejenak.
"Aku menceritakan padanya karena kemarin dia merasa sangat down setelah mengetahui masa lalunya. Aku hanya ingin membuatnya bersemangat kembali." terang dokter Adi. Bima menghela nafasnya kembali.
"Kurasa.." Bima terlihat ragu akan mengungkapkan pada kakak iparnya itu.
"Katakan saja, Bim!" ucap dokter Adi pelan.
__ADS_1
"Kurasa kak Lia tertarik pada pak Felix!" ucap Bima akhirnya. Seperti ada sebuah petir yang menyambar hatinya, dokter Adi sangat terkejut mendengar ucapan Bima itu, tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Dokter Adi tersenyum lembut pada Bima, tapi senyumnya itu terlihat kikuk.
"Kak Lia terus bertanya kenapa dia lebih memilihmu dibanding pak Felix." ungkap Bima.
"Lalu kamu jawab apa?" tanya dokter Adi.
"Apa kamu membelaku?" candanya.
"Tentu saja!" seru Bima.
"Aku tidak suka melihat kak Lia tertarik dengan pria lain dan menghianati pernikahannya!" lanjutnya. Dokter Adi tertawa kecil.
"Aku tidak akan pernah membiarkan Lia jatuh cinta pada pria lain!" ucap dokter Adi.
"Aku tidak akan membiarkan pria lain merebut hati Lia!" lanjutnya.
"Selamanya Lia adalah milikku!" tegas dokter Adi.
...
"Hah?!" Dokter Adi tampak terkejut dan bingung dengan pertanyaan pasiennya itu.
"Dari tadi kulihat sepertinya ada yang sedang dokter pikirkan. Apa dokter sedang ada masalah?" tanya Ardo.
"Ah tidak! Tidak ada apa-apa!" tukas dokter Adi, tapi Ardo tidak begitu saja percaya pada dokternya itu, ia menatap dokter Adi dengan tatapan curiga.
"Ada apa kamu menatapku seperti itu?" tanya dokter Adi.
__ADS_1
"Aku sudah bersama dokter sekian lama, aku tahu saat ini sedang ada yang dokter pikirkan!" ucap Ardo. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.
"Oke, kamu menang! Ya, aku memang sedang merasa galau!" aku dokter Adi akhirnya. Ardo tertawa kecil.
"Akhirnya kamu tidak bisa menyembunyikan perasaanmu dariku, dok!" goda Ardo.
"Ya.. ya.. ya!" ucap dokter Adi.
"Apa yang membuatmu galau, dok?" tanya Ardo.
"Eem.." Dokter Adi terlihat ragu akan menceritakannya pada pasiennya itu.
"Sudah, ceritakan saja padaku, dok! Aku tidak akan membocorkannya pada siapa pun!" bujuk Ardo.
"Eem.."
"Bagaimana perasaanmu kalau pasanganmu tertarik pada pria lain?" tanya dokter Adi pelan.
"Hah?!" Ardo tampak terkejut.
"Apa istri dokter sedang tertarik dengan pria lain selain dokter?" terka Ardo.
"Tidak! Bukan begitu!" bantah dokter Adi, tapi lagi-lagi Ardo tidak percaya dengan ucapan dokternya itu, ia kembali mengintimidasi dokter Adi dengan tatapan curiganya.
"Ya, oke! Kamu benar, istriku sedang tertarik pada pria lain!" aku dokter Adi.
"Hatiku benar-benar galau!" ungkapnya.
__ADS_1
"Aku tak percaya ada yang bisa mengalahkan pesonamu, dok!" ucap Ardo. Ardo dan dokter Adi tertawa bersama.
...