Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Tujuh


__ADS_3

"Tttrrr... ttttrrrrttt!" Tiba-tiba ponsel yang berada di saku celana panjang dokter Adi itu bergetar. Dokter Adi segera merogoh saku celananya itu untuk mengeluarkan ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Jantungnya berdebar kencang ketika ia mengetahui siapa yang menelepon ponselnya itu.


"Bima..." gumamnya dalam hati.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Lia. Suara lembut Lia itu menyadarkan dokter Adi dari lamunan singkatnya.


"Ah iya!" ucap dokter Adi.


"Halo!" sapanya pelan.


"Halo, kak!" sahut Bima dari seberang sana.


"Aku sudah berada di rumah sakit, kamarnya kak Lia di mana ya?" tanya Bima. Dokter Adi tersiam sejenak, jantungnya berdebar tak karuan.


"Apa aku harus memberi tahunya?" tanya dokter Adi di dalam hatinya.


"Bagaimana kalau dia bertemu dengan Lia?" lanjutnya. Dokter Adi menatap Lia.


"Lia mengingatnya atau tidak ya?" tanyanya lagi.


"Bagaimana kalau Lia mengenalinya dan mengingat semua kenangan buruk bersama Bima itu?" tambahnya.


"Halo! Halo kak!" seru Bima dari seberang sana.


"Eh iya!" ucap dokter Adi kikuk.


"Ada apa kak?" tanya Bima.


"Ti.. tidak! Tidak apa-apa!" jawab dokter Adi.


"Kami di kamar VIP yang ada di lantai 2 kamar nomor 3!" ucap dokter Adi. Akhirnya dengan terpaksa ia memberi tahukan kamar Lia kepada Bima.


"Ok, thanks!" seru Bima. Perasaan dokter Adi semakin tak karuan, ia takut kalau Lia bertemu dengan Bima nanti Lia akan mengingat tentang peristiwa 7 tahun lalu itu.

__ADS_1


Tak lama setelah dokter Adi menutup telepon dari Bima tersebut, Bima muncul dari balik pintu dengan membawa sekantung buah-buahan dan sekantung makanan ringan.


"Kak Lia!" sapanya begitu masuk ke dalam kamar Lia. Dokter Adi memperhatikan reaksi Lia ketika bertu dengan Bima. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang.


"Ha.. hai!" sahut Lia kikuk. Lia terus memperhatikan Bima yang sedang sibuk menata bawaannya itu.


"Dia siapa?" tanya Lia dengan suara berbisik. Seketika jantung dokter Adi seperti berhenti berdetak, apa yang di takutkannya akhirnya tidak terjadi. Ia merasa sangat lega.


"Dia adikmu!" jawab dokter Adi pelan. Lia terlihat sangat terkejut begitu mengetahui kalau pria tinggi itu adalah adiknya.


"Namanya Bima!" tambah dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya pelan sambil terus memperhatikan adiknya itu.


Bima menghidangkan makanan dan buah-buahan yang dibawanya itu kepada para orang tua yang sedang berbincang-bincang di sofa yang ada di sudut ruangan, ia juga menghidangkannya untuk ketiga rekan kerja dokter Adi itu, lalu terakhir ia memberikan sepiring apel yang sudah dikupas dan dipotong kepada Lia.


"Ini, kak!" ucap Bima sambil memberikan piring berisi potongan-potongan apel itu kepada kakaknya. Lia mengambil piring itu dengan kikuk.


"Ada apa kak?" tanya Bima yang bingung melihat sikap Lia yang terlihat seperti orang asing.


"Ee..." Lia terlihat ragu dan bingung ingin menjelaskannya pada Bima. Ia menoleh ke arah dokter Adi dan berharap dokter Adi yang akan menjelaskannya pada Bima. Dokter Adi mengerti maksud Lia itu, ia berjalan mendekati Bima.


"Hah?!" Bima terkejut mendengar ucapan kakak iparnya itu.


"Lia belum bisa mengingat siapapun yang ada di sini karena kecelakaan itu." terang dokter Adi.


"Maafkan aku!" sambung Lia. Bima menganggukkan kepalanya pelan.


"Tidak apa-apa, kak! Aku yakin, ingatan kak Lia akan kembali perlahan!" hibur Bima.


Semuanya yang menjenguk Lia saat itu membuat Lia merasa nyaman berada di sekitar mereka, bahkan mereka semua mampu membuat Lia tersenyum meskipun ia masih belum bisa mengingat semua kenangan bersama mereka. Lia menarik lengan baju yang dikenakan dokter Adi. Dokter Adi menoleh ke arah istrinya itu.


"Ada apa?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.


"Kenapa banyak sekali orang-orang yang menjengukku?" tanya Lia dengan suara berbisik.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu tidak suka dengan kehadiran mereka?" tanya dokter Adi. Lia menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa aku orang yang baik? Kenapa banyak sekali orang yang memperhatikanku dan menyayangiku? Bahkan memaklumi keadaanku saat ini?" ungkap Lia masih dengan suara berbisik. Suaranya terdengar sedikit bergetar. Dokter Adi menatap kedua mata cantik istrinya itu yang kini tampak berkaca-kaca dan perlahan ia tersenyum lembut pada istrinya itu.


"Kamu orang yang sangat baik!" bisik dokter Adi.


"Mengapa mereka sangat menyayangimu? Karena kamu lebih dulu menyayangi mereka!" terang dokter Adi. Ia membelai rambut lurus istrinya itu dan perlahan Lia meneteskan air matanya. Dokter Adi dengan lembut mengusap pipi Lia untuk menghapus air matanya.


"Kamu harus bisa berjuang untuk bisa kembali mengingat kenangan-kenangan indah bersama mereka!" Dokter Adi memberikan semangat pada istri cantiknya itu. Lia pun menganggukkan kepalanya.


...


Dokter Adi mengantarkan ketiga rekan kerjanya ke pintu utama rumah sakit karena mereka akan pulang, ia meminta Bima untuk menemaninya. Setelah selesai mengantarkan Dimas, Rio, dan suster Indah, dokter Adi mengajak Bima untuk berbincang-bincang sejenak di taman rumah sakit.


"Kamu terlihat sedikit gusar dari tadi, ada apa?" tanya Bima akhirnya.


"Ada 1 yang dari tadi kupikirkan dan kutakutkan!" ungkap dokter Adi.


"Apa itu?" tanya Bima.


"Aku sangat berharap ingatan Lia bisa kembali secepatnya tapi..."


"Tapi kenapa?" tanya Bima penasaran.


"Aku takut kalau Lia teringat kembali dengan peristiwa 7 tahun lalu!" jawab dokter Adi akhirnya. Bima tersentak mendengar ucapan dokter Adi itu.


"Aku takut Lia terluka kembali karena hal itu dan aku takut kalau penyakitnya itu kambuh." ungkap dokter Adi.


"Jadi karena itu makanya kamu terlihat seperti tidak menginginkan kehadiranku?" tanya Bima tiba-tiba. Dokter Adi terkejut dengan pertanyaan Bima itu.


"Wajarkan kalau aku memikirkan kondisiwanita yang kusayangi?" ucap dokter Adi. Bima menatap dokter Adi dengan raut wajah serius.


"Apa kamu ingin aku menjauhi kak Lia?" tanya Bima. Dokter Adi terdiam, ia hanya terus menatap Bima, begitu juga dengan Bima. Sejenak mereka hanya saling memandang tanpa berkata apa-apa.

__ADS_1


...


__ADS_2