
Hari ini, Lia melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui apakah ia sudah bisa kembali ke rumah atau tidak. Meskipun masih merasa kecewa dengan ucapan Lia semalam, tapi dokter Adi terus berada di sisi Lia untuk menemani Lia melakukan serangkaian pemeriksaan.
Dokter Adi memberikan Lia sweater rajut berwarna merah muda kepada Lia dan membantunya mengenakan sweater itu. Dokter Adi melangkah cepat mendekati dokter yang memeriksa Lia karena ia sudah tidak sabar dengan hasil dari pemeriksaan Lia.
"Bagaimana, dok?" tanya dokter Adi.
"Sepertinya saya harus bicara empat mata dengan dokter!" ucap dokter itu. Seketika jantung dokter Adi berdebar dengan sangat kencang memdengar ucapan dokter yang memeriksa Lia itu.
"Bisa kita bicara di ruangan saya, dok?" tanya dokter itu. Dengan cepat dokter Adi menganggukkan kepalanya.
"Saya akan ke ruangan dokter setelah mengantarkan istri saya kembali ke kamar terlebih dahulu." ucap dokter Adi.
"Baik, saya akan menunggu dokter!" sahut dokter itu.
Dokter Adi kembali ke tempat Lia berada untuk mengantarkan Lia yang telah selesai melakukan pemeriksaan kembali ke kamarnya.
"Bagaimana kata dokter?" tanya Lia yang sepertinya sudah tidak sabar juga dengan hasil pemeriksaannya.
"Dokter akan berbicara denganku terlebih dahulu, kamu tunggu saja di kamar." ucap dokter Adi. Lia terdiam sejenak, ia menatap wajah dokter Adi.
"Apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Lia tiba-tiba. Pertanyaan Lia itu membuat dokter Adi tersentak, ditatapnya kedua mata istrinya itu.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak!" tegur dokter Adi.
__ADS_1
"Kamu akan baik-baik saja! Kamu pasti baik-baik saja!" ucap dokter Adi untuk memberi semangat pada istrinya itu, tanpa di sadarinya tangan kanannya membelai lembut kepala Lia karena ia terbiasa melakukan hal itu kepada istrinya, sedetik kemudian ia tersadar dan segera menarik tangannya itu. Jantungnya berdebar kencang karena takut Lia akan kembali merasa tidak nyaman dengan sentuhannya itu tapi kali ini Lia seperti membiarkannya dan tidak mempersalahkan sikap dokter Adi itu.
Begitu tiba di kamar Lia, dokter Adi segera membantu Lia kembali berbaring di ranjangnya, ia menyelimuti sebagian tubuh Lia dan lagi-lagi kali ini Lia pun tidak mempermasalahkan sikap manis dokter Adi itu padanya. Dokter Adi memandangi wajah cantik istrinya itu, sejenak Lia terlihat seperti Lia yang dikenal sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Lia tiba-tiba, seketika ekspresi wajah Lia berubah dan ia menjadi Lia yang berbeda lagi. Dokter Adi tampak kikuk.
"Bukankah kamu harus segera menemui dokter itu lagi?" tukas Lia. Dokter Adi menghela nafasnya pelan dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Cepat temui dokter itu! Aku sudah tidak sabar ingin keluar dari rumah sakit ini!" seru Lia antusias.
"Baiklah!" sahut dokter Adi akhirnya.
"Aku pergi dulu, ya!" pamit dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya dan terus memperhatikan dokter Adi sampai dokter Adi keluar dari kamarnya.
...
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya dokter Adi. Dokter itu menunjukkan berkas-berkas hasil pemeriksaan yang Lia lakukan siang ini kepada dokter Adi. Dokter Adi memeriksa berkas-berkas itu.
"Sejauh pemeriksaan ini, saya bisa mengatakan pada dokter kalau kondisi istri dokter 90% sudah mengalami pemulihan, hanya saja..." Dokter Adi mengangkat kepalanya dan menatap dokter itu ketika ia menghentikan ucapannya.
"Ada temuan baru lagi yang baru saja kami dapati dari pemeriksaan menyeluruh istri bapak." lanjut dokter itu.
"Apa itu dok?" tanya dokter Adi. Jantungnya mulai berdebar kencang dan tak beraturan. Dokter itu mencari sebuah berkas yang bisa menunjukkan temuan yang baru saja dijelaskannya kepada dokter Adi.
__ADS_1
"Ini, dok!" ucap dokter itu begitu menemukan laporan yang dicarinya. Dokter Adi memperhatikan laporan hasil pemeriksaan itu.
"Setelah kami melakukan pengangkatan bayi dokter beberapa waktu lalu itu, ternyata terjadi infeksi yang menyebabkan pembengkakan di salah satu indung telur milik istri dokter." terang dokter itu.
"Infeksi tersebut bisa terjadi karena istri dokter memiliki alergi terhadap salah satu kandungan obat atau bahan lainnya yang digunakan selama operasi berlangsung." lanjutnya. Dokter Adi terdiam, matanya terus menatap ke laporan pemeriksaan istrinya itu, tapi perasaannya terasa tak karuan.
"Apa bisa dilakukan sebuah tindakan untuk mengobati infeksi tersebut, dok?" tanya dokter Adi.
"Untuk sementara saya akan memberikan obat kepada istri dokter untuk mengurangi infeksinya sambil terus melakukan observasi untuk melihat apakah infeksi tersebut semakin mengecil atau justru sebaliknya." jawab dokter itu.
"Kalau seandainya pembengkakan tersebut semakin besar maka dengan terpaksa kami harus melakukan pembedahan untuk mengangkat indung telur tersebut." tambahnya. Mendengar penjelasan dokter itu, jantung dokter Adi terasa seperti berhenti berdetak sejenak, dadanya pun terasa sangat sesak.
"Saya berharap dengan meminum obat yang akan saya berikan itu, infeksinya bisa mengecil dan pembengkakannya berkurang." Dokter itu berusaha memberikan sedikit harapan untuk dokter Adi, tapi dokter Adi masih saja terdiam.
"Kalau indung telur itu di angkat, apa yang akan terjadi, dok?" tanya dokter Adi pelan.
"Kemungkinan dokter untuk memiliki keturunan akan mengecil." jawab dokter itu. Dokter Adi kembali terdiam sejenak, ia menghela nafasnya perlahan.
"Tapi, istri saya akan baik-baik saja kan, dok?" tanya dokter Adi. Dokter itu menatap dokter Adi dengan seksama dan perlahan ia menganggukkan kepalanya.
"Kalau semuanya berjapan dengan baik, istri dokter akan seperti biasanya." jawab dokter itu. Ia tersenyum lembut untuk sedikit menghibur dokter Adi.
...
__ADS_1