
"Kamu bisa berjalan?" tanya dokter Adi begitu mobilnya tiba di halaman rumah sakit. Lia menggeleng pelan.
"Perutku sakit sekali!" ucapnya sambil meringis kesakitan.
"Kalau begitu kamu tunggu di sini sebentar ya, aku ambilkan kursi roda!" ucap dokter Adi. Ia bergegas menuju IGD rumah sakit tersebut untuk mengambil kursi roda yang berada di depannya dan memanggil perawat yang sedang bertugas saat itu.
Dokter Adi kembali ke mobilnya bersama dengan seorang perawat pria, ia membantu istrinya bisa duduk di kursi roda dan membawanya ke IGD. Dokter yang berjaga saat itu dengan sigap memeriksa keadaan Lia.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya dokter Adi.
"Untuk pemeriksaan luar, saya tidak menemukan indikasi penyakit apa-apa, pak, sekarang hanya tinggal menunggu hasil labnya saja." jawab dokter yang memeriksakan Lia.
"Untuk sementara, saya sudah memberikan obat pereda nyeri pada istri bapak." tambahnya.
"Baik dok, terima kasih!" ucap dokter Adi.
Dokter Adi menghampiri Lia yang masih terbaring lemah di ranjang darurat.
"Bagaimana keadaanmu, sayang? Apa perutmu masih sakit?" tanya dokter Adi pada Lia. Lia menggeleng pelan.
__ADS_1
"Sekarang sudah tidak sakit." jawabnya.
"Apa kata dokter tadi? Aku sakit apa?" ucap Lia balik bertanya.
"Dari pemeriksaan luar, dokter tidak menemukan indikasi-indikasi penyakit, dokter tinggal menunggu hasil lab-mu." terang dokter Adi. Sesaat Lia dan dokter Adi terdiam, suasana di antara mereka pun seketika menjadi hening.
"Maafkan aku, aku kembali merepotkanmu!" ucap Lia pelan, suara lembutnya itu memecah keheningan di antara mereka. Dokter Adi menatap wajah istrinya itu dengan seksama.
"Maafkan aku!" ulang Lia, kepalanya tertunduk. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.
"Akhirnya istriku benar-benar kembali!" ucapnya tiba-tiba. Lia tersentak mendengar ucapan suaminya barusan, ia tampak bingung.
"Istriku akhirnya benar-benar kembali!" ucap dokter Adi lagi.
"Lia-ku yang lama, yang selalu meminta maaf untuk hal-hal yang seharusnya tidak memerlukan permintaan maaf sudah kembali!" terangnya. Dokter Adi membelai rambut lurus Lia dengan lembut.
"Kamu adalah istriku, sudah menjadi tugasku untuk mendampingi dan menjagamu dalam kondisi apapun." ungkap dokter Adi.
"Jadi, tidak perlu ada permintaan maaf seperti ini." tambahnya.
__ADS_1
"Tapi aku..."
"Sama seperti kamu yang berjanji akan bersamaku dalam keadaan apapun, akupun sudah berjanji seperti itu di hari pernikahan kita." potong dokter Adi. Lia menatap kedua mata suaminya itu dan ia mendapatkan kesungguhan dari suaminya di sana.
...
"Jadi, bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya dokter Adi. Lia dan dokter Adi duduk di hadapan dokter yang sebelumnya mengobservasi tubuh Lia. Di hadapan dokter itu sudah ada hasil dari pemeriksaan laboratorium. Sejenak dokter itu menatap dokter Adi dan Lia bergantian.
"Saya memiliki 2 kabar untuk bapak dan ibu." ucap dokter itu pelan. Dokter Adi menangkap sebuah pertanda yang tidak menyenangkan.
"Kabar yang pertama merupakan sebuah kabar baik untuk bapak dan ibu, lalu kabar yang kedua mungkin akan menjadi kabar yang sedikit membuat bapak dan ibu khawatir tapi semuanya masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan." terang dokter itu.
"Apa itu, dok?" tanya dokter Adi, ia terlihat sudah tidak sabar untuk mendengar kedua kabar itu.
"Saya akan memulai dari kabar yang baik." ucap dokter yang merawat Lia itu.
"Saat ini ibu sedang mengandung." ungkapnya. Ucapak dokter itu sontak membuat Lia dan dokter Adi sangat terkejut.
...
__ADS_1