
Lia membantu dokter Adi bersiap untuk berangkat kerja dengan membereskan perlengkapan kerja suaminya itu dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah dokter Adi selesai mengenakan pakaiannya, ia menyerahkan tas itu pada pria tampan yang menjadi suaminya itu.
"Ini!" ucapnya pelan. Dokter Adi meraih tas dari tangan istrinya itu dan tersenyum lembut padanya. Perlahan dokter Adi memeluk tubuh mungil istrinya itu dengan mesra.
"Aku ingin seharian bersamamu lagi!" bisiknya manja.
"Kalau begitu tidak usah bekerja!" sahut Lia.
"Sudah lepaskan pakaian kerjamu dan ganti dengan kaus butut lagi!" tambahnya.
"Sungguh? Aku boleh tidak bekerja hari ini?" tanya dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya kuat.
"Dan besok ketika kamu mau bekerja, rumah sakit itu sudah tidak mau menerimamu lagi!" tukas Lia.
"Kamu akan jadi pengangguran seumur hidupmu!" tambahnya, ia tersenyum sinis pada suaminya itu.
"Kamu menakut-nakutiku!" gerutu dokter Adi manja.
"Sudahlah, berangkat kerja sana!" perintah Lia. Dokter Adi menghela nafasnya, ia benar-benar terlihat masih ingin bersama istrinya dan bermanja-manja bersama, terlebih lagi, hari ini Lia bersikap lembut padanya.
"Kamu harus bekerja keras dan menghasilkan banyak uang karena kamu harus membayar semua biaya pengobatanku itu." ucap Lia pelan.
"Aku tahu semua biaya itu tidak murah tapi aku tidak bisa membantumu apa-apa karena sekarang aku tidak memiliki kemampuan sama sekali." lanjutnya.
__ADS_1
"Jadi... pergilah bekerja sekarang!" seru Lia sambil menepuk-nepuk pundak suaminya itu. Dokter Adi tersenyum lembut pada Lia, sekali lagi ia memeluk tubuh mungil Lia dan mencium keningnya sebelum akhirnya mereka berdua keluar dari kamar.
...
"Dokter terlihat sangat ceria hari ini." ucap suster Indah yang sedari tadi ternyata memperhatikan sikap dan ekspresi dokter Adi.
"Oh ya?!" sahut dokter Adi. Suster Indah menganggukkan kepalanya.
"Apa terjadi sesuatu, dok?" tanya suster Indah penasaran.
"Kamu pasti ingin menggosip kan?!" terka dokter Adi.
"Tidak! Tidak dok! Aku hanya penasaran saja!" bantah suster Indah. Dokter Adi tersenyum lembut.
"Pasti terjadi sesuatu kan dok?! Apa Lia sudah berhasil mengembalikan ingatannya?" terka suster Indah lagi. Dokter Adi menggelengkan kepalanya.
"Memang ya kamu ini! Dari dulu sampai sekarang selalu saja penasaran dengan kehidupan orang lain!" tukas dokter Adi.
"Biar saja! Biar saya bisa belajar dari kehidupan orang lain dok!" terang suster Indah.
"Alasan!" seru dokter Adi.
"Lalu??" tanya suster Indah.
__ADS_1
"Astaga, kamu masih saja penasaran?!" gerutu dokter Adi. Suster Indah menganggukkan kepalanya dengan kuat.
"Makanya cepatlah menikah!" seru dokter Adi.
"Kamu akan merasa bahagia karena hal-hal sepele yang terjadi pada hidup pasanganmu!" ungkapnya.
"Dan kamu akan merasa sangat bahagia ketika mendapatkan 'sesuatu' dari pasanganmu!" lanjut dokter Adi.
"Sepanjang hari duniamu akan terasa sangat menyenangkan!" tambahnya sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Waah, pengaruh Lia memang benar-benar menakjubkan!" puji suster Indah.
"Padahal beberapa hari yang lalu dokter telihat sangat menyedihkan!" tambahnya.
"Hei!" protes dokter Adi.
"Lalu, 'sesuatu' yang dokter sebutkan tadi itu apa?" tanya suster Indah, ia kembali terlihat penasaran.
"Kamu belum cukup umur untuk mengetahui detailnya!" tukas dokter Adi.
"Saya sudah berumur lebih dari 25 tahun, dok!" gerutu suster Indah.
"Kalau begitu cepatlah menikah!" saran dokter Adi.
__ADS_1
"Nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya apa 'sesuatu' yang saya maksud itu!" lanjut dokter Adi sambil terbahak-bahak. Dokter Adi memang terlihat sangat ceria dan bahagia sekali sepanjang hari ini.
...