
"Tidak mungkin aku pernah berada di sini! Tidak mungkin aku pernah menjadi pasien di sini!" ucap Lia dalam hati. Ia terus memikirkan kenangan yang terlintas dalam pikirannya barusan.
"Aku tidak mungkin pernah menderita gangguan jiwa!" batinnya. Kepalanya masih terasa sakit tapi ia berusaha untuk menahannya agar dokter Adi tidak mengetahuinya.
"Aku harus melakukan pemeriksaan dengan pasienku, kamu berkeliling dengan Dimas dan Rio dulu ya, Lia!" ucap dokter Adi sambil mengusap punggung Lia dengan lembut. Sentuhan dari tangan dokter Adi itu membuat Lia terkejut dan ia tersadar dari lamunannya.
"Tidak apa-apa kan kalau kamu kutinggal sebentar?" tanya dokter Adi.
"Atau kamu mau menungguku di ruanganku saja?" tawarnya. Lia menggelengkan kepalanya.
"Aku mau berkeliling saja!" jawab Lia.
"Kami akan menemanimu, Lia!" seru Dimas sambil tersenyum lebar pada Lia.
"Awas kalau kalian tidak menjaga Lia dengan baik!" ancam dokter Adi pada kedua rekan kerjanya itu.
"Baik, dok!" seru Dimas dan Rio bersamaan.
__ADS_1
Dimas dan Rio mengajak Lia berkeliling area rumah sakit, mereka menceritakan beberapa pengalaman lucu mereka menangani berbagai macam pasien di tempat itu.
"Apa di sini ada pasien yang sikapnya buruk? Misalnya mengamuk atau mencelakai kalian." tanya Lia.
"Kalau kami kebetulan menangani pasien-pasien dengan gangguan yang tidak terlalu berat, hanya kadang-kadang saja kami ditugaskan untuk membantu dokter yang menangani pasien berat, seperti dokter Adi!" jawab Rio.
"Dokter Adi?" gumam Lia.
"Iya! Dokter Adi itu salah satu dokter yang selalu menangani pasien berat di rumah sakit ini!" terang Dimas. Mendengar penjelasan Dimas dan Rio itu, entah mengapa jantung Lia mulai berdebar lebih kencang dari sebelumnya lagi.
"Dokter Adi sering sekali mendapat perlakuan buruk dari pasien-pasiennya!" ungkap Dimas.
"Tapi beliau memang dokter yang hebat dan sabar, beliau selalu bisa 'menaklukan' pasiennya!" puji Dimas.
"Oh ya?" ucap Lia tak percaya.
"Suamimu itu dokter terbaik di sini, Lia!" seru Rio. Lia menatap kedua perawat itu seakan tidak percaya dengan ucapan mereka.
__ADS_1
"Biasanya dokter yang memiliki wajah tampan tidak bisa menjalankan pekerjaannya dengan baik dan penuh tanggung jawab, apalagi sebagai dokter kejiwaan seperti ini, tapi dokter Adi sangat berbeda, beliau rela melakukan apa saja demi kesembuhan pasiennya!" terang Rio.
"Iya benar, Lia! Kamu harus berbangga memiliki suami seperti dokter Adi!" dukung Dimas.
"Sudah.. sudah! Berhenti berkata seperti itu! Kalian terlalu memujinya!" ucap Lia.
"Kami hanya berkata yang sebenarnya, Lia!" tukas Rio.
"Berapa banyak dia membayar kalian untuk memuji-mujinya seperti ini?" tuduh Lia.
"Astaga Lia! Dokter Adi sama sekali tidak membayar kami untuk membicarakan kebaikannya di hadapanmu, sungguh!" ungkap Rio.
"Beliau hanya kadang-kadang mentraktir kami makanan!" candanya. Candaan Rio itu membuat Lia tertawa, untuk pertama kalinya setelah peristiwa kecelakaan itu, Lia bisa tertawa mendengar pembicaraan lucu yang berhubungan dengan suami tidak dikenalnya itu.
"Lalu..." ucap Lia pelan.
"Apa kalian mengenal suster Rina?" tanya Lia tiba-tiba. Dimas dan Rio tersentak mendengar pertanyaan Lia itu. Lia memperhatikan sikap kedua perawat itu.
__ADS_1
"Eem.. apa ada perawat di sini yang bernama suster Rina?" Lia mengulangi pertanyaannya. Dimas dan Rio saling bertukar pandang satu sama lain, mereka terlihat kikuk.
...