
"Baiklah! Kalau suster memang merasa bisa merebutnya kembali dariku, coba saja!" ucap Lia. Suster Rina menatap Lia dengan seksama, ia mencoba untuk tenang walaupun sebenarnya ia sedikit terkejut dengan ucapan Lia itu.
"Kita lihat saja, apa memang masih ada perasaan di hatinya untuk suster!" lanjut Lia.
"Oke! Aku yakin, aku pasti bisa merebutnya kembali darimu!" seru suster Rina menyetujui ucapan Lia itu. Sejenak Lia dan suster Rina hanya saling menatap tanpa berkata apa pun, tapi sesaat kemudian Lia bangkit dari tempat duduknya dan hendak meninggalkan ruangan itu.
"Jangan pernah menyesal kalau nanti kamu sudah kehilangannya karena semuanya ini sesuai dengan keputusan dan kemauanmu!" ucap suster Rina sesaat sebelum tangan Lia menyentuh handle pintu ruangan itu. Lia terdiam sejenak tapi sesaat kemudian ia perlahan membalikkan tubuhnya menghadap suster Rina.
"Aku akan mempertahankan apa yang menjadi milikku!" tegas Lia dan kemudian ia segera meninggalkan ruang kunjungan itu dengan perasaan kesal yang masih memenuhi hatinya.
...
"Hei, Lia!" panggil dokter Adi sambil menepuk pundak Lia dengan lembut. Lia tersentak, akhirnya ia tersadar dari lamunannya. Ia menghela nafasnya perlahan sebelum akhirnya ia menoleh ke arah suaminya itu.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
"Dari tadi kamu diam saja, apa terjadi sesuatu dengan kalian?" tanya dokter Adi, ia berusaha untuk berhati-hati agar Lia tidak tersinggung dan kembali menjadi emosional. Lia menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak!" jawab Lia.
"Lalu, apa saja yang kalian bicarakan di dalam?" tanya dokter Adi lagi. Lia kembali terdiam. Melihat sikap Lia, membuat dokter Adi merasa curiga.
"Kapan suster keluar dari penjara?" tanya Lia tiba-tiba.
__ADS_1
"Ee.. mungkin sekitar 2 atau 3 bulan lagi!" jawab dokter Adi.
"Oh!"
"Ada apa?" tanya dokter Adi penasaran.
"Tidak! Tidak ada apa-apa!" jawab Lia.
"Ternyata ingatanku benar-benar banyak yang hilang!" lanjut Lia.
"Maksudmu?" Dokter Adi terlihat bingung mendengar ucapan Lia. Lia menatap kedua mata dokter Adi dengan seksama.
"Aku hanya mengingat sedikit tentang suster." jawab Lia.
"Memangnya apa saja yang Rina ceritakan padamu?" Dokter Adi semakin penasaran. Lia terdiam sejenak sambil menatap dokter Adi.
"Sepertinya hari ini kamu terlalu banyak bertanya!" tukas Lia. Ucapan Lia itu membuat dokter Adi sangat terkejut. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.
"Banyak sekali yang harus kuketahui agar ingatanku bisa kembali." ucap Lia pelan. Dokter Adi kembali menatap wajah istrinya itu.
"Aku harus bisa mengembalikan semua ingatanku!" lanjut Lia.
"Pelan-pelan saja! Tidak perlu terburu-buru, kamu pasti bisa mengingat semuanya nanti!" ucap dokter Adi lembut. Lia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku berharap ingatanku dapat kembali dengan cepat karena aku ingin mengetahui semua yang terjadi secepatnya!" tegas Lia. Dokter Adi menatap wajah istrinya dengan seksama, ia menjadi sangat penasaran dengan apa yang Lia dan suster Rina bicarakan hingga bisa membuat Lia ingin ingatannya kembali dengan cepat.
...
"Tit.. tiit.. tiiiit.." Alarm dari ponsel dokter Adi mulai berdering hingga akhirnya membuat dokter Adi terbangun. Ia segera bangkit dari tidurnya karena hari ini ia harus pergi bekerja pagi-pagi sekali, tapi dokter Adi teringat sesuatu, sejenak ia melamun di atas ranjangnya, tak lama kemudian ia meraih ponselnya dan mulai mengutak-atik.
"Halo, Dina!" sapanya lembut, ternyata dokter Adi menghubungi Dina, putri suster Rina.
"Maaf mengganggumu pagi-pagi sekali, aku mau meminta bantuanmu..." lanjut dokter Adi.
Dokter Adi mengutarakan permintaannya pada Dina dan Dina pun menyanggupi untuk bisa membantu dokter Adi. Tak lama kemudian, dokter Adi memutuskan panggilan teleponnya dan bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Ketika dokter Adi melangkah keluar dari kamarnya, matanya tidak sengaja terpaku pada dapur rumahnya yang terlihat di kejauhan. Melihat dapur itu dalam keadaan gelap membuat hatinya terasa sedikit sesak.
"Biasanya Lia sudah bangun dan sedang mempersiapkan sarapan untukku." batin dokter Adi. Sejenak ia terlihat larut dalam lamunanya yang menyedihkan itu tapi ia segera menyadarkan dirinya dan kembali melanjutkan persiapannya untuk berangkat kerja.
Dokter Adi masuk ke kamar utama rumahnya, kamar yang seharusnya menjadi tempatnya beristirahat bersama Lia tapi sementara ini hanya Lia yang menempatinya. Ia membuka dan menutup pintu kamar itu dengan hati-hati agar Lia tidak terbangun. Dokter Adi bergegas mengambil pakaiannya dari dalam lemari dan membawanya ke dalam kamar mandi pribadinya untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, dokter Adi membereskan tas kerjanya, ketika sedang sibuk mempersiapkan peralatan kerjanya, tiba-tiba pandangan matanya tertarik pada sosok Lia yang masih tertidur. Wajah polos dan bibir mungilnya yang terbuka sedikit menarik perhatian dokter Adi.
Dokter Adi berjalan perlahan mendekati Lia yang masih terlelap itu, sejenak ia hanya memandangi wajah wanita yang sangat dicintainya itu dari jarak dekat. Ia tersenyum lembut pada istrinya yang masih terlelap itu. Tangannya tergerak seperti hendak membelai rambut Lia tapi ia membatalkan niatnya itu sesaat sebelum tangannya benar-benar menyentuh rambut Lia. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan, seketika raut wajahnya berubah, ia terlihat seperti orang yang sedang merasakan kesedihan mendalam, bahkan matanya pun tampak berkaca-kaca.
Dengan perasaan yang sudah tidak bisa dibendung lagi, dokter Adi mendekatkan wajahnya ke wajah Lia, ia memposisikan bibir tipisnya tepat di hadapan bibir mungil Lia. Jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Kedua bibir itu perlahan semakin mendekat hingga akhirnya bersentuhan dengan lembut, tapi... tunggu dulu! Akibat dari sentuhan lembut di bibir mungilnya itu, Lia terbangun. Matanya membuka dengan lebar karena sangat terkejut dengan apa yang terjadi padanya.
...
__ADS_1