
Dokter Adi mengantarkan Lia pulang ke rumah keluarganya setelah seharian penuh mereka berkencan.
"Bapak pikir Lia akan pulang ke rumah!" ucap pak Tanto. Dokter Adi menggelengkan kepalanya.
"Hari ini jadwal kami hanya berkencan, pak!" terang dokter Adi.
"Mungkin minggu depan Lia akan benar-benar pulang ke rumah." tambahnya.
"Kenapa begitu?" tanya pak Tanto bingung.
"Karena ada sesuatu yang tidak di sukainya yang akan datang!" terang dokter Adi, ia tertawa kecil, sementara itu pak Tanto masih terlihat bingung.
"Sudah sana pulang, sudah malam!" ucap Lia.
"Lia, kamu tidak boleh begitu pada suamimu!" tegur pak Tanto.
"Tidak apa-apa, pak! Saya sudah terbiasa dengan putri bapak!" canda dokter Adi.
"Maafkan anak nakal ini ya, nak!" ucap pak Tanto. Dokter Adi menganggukkan kepalanya sambil tertawa.
...
Lia belum bisa tertidur malam ini, pikirannya dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran tentang masa lalunya. Tiba-tiba terdengar suara pintu utama rumah orang tuanya itu dibuka oleh seseorang. Lia melirik jam dinding yang tergantung di salah satu sisi dinding kamarnya.
"Sudah tengah malam! Siapa itu?" gumamnya pelan. Perlahan ia membuka sedikit pintu kamarnya untuk melihat siapa yang membuka pintu utama rumahnya itu.
"Bima!" ucapnya begitu ia mengetahui kalau adik laki-lakinya lah yang membuka pintu itu. Bima terkejut mendengar suara Lia.
"Kak Lia, kamu mengejutkanku!" gerutunya.
"Maaf! Aku tidak tahu kalau itu kamu." ucap Lia.
"Kamu baru pulang kerja?" tanya Lia.
__ADS_1
"Iya, kak!" jawab Bima sambil menganggukkan kepalanya.
"Kak Lia kok belum tidur?" tanya Bima.
"Aku sedang tidak bisa tidur!" ucap Lia.
"Kenapa? Apa kakak bermimpi buruk?" tanya Bima lagi. Lia menggelengkan kepalanya.
"Eem.."
"Ada yang sedang aku pikirkan, kamu mau menemaniku mengobrol sebentar?" tanya Lia.
"Boleh, kak!" jawab Bima.
Lia dan Bima duduk di kursi yang ada di ruang tamu rumah kedua orang tua mereka.
"Apa yang kakak pikirkan sampai tidak bisa tidur seperti ini?" tanya Bima.
"Aku sedang memikirkan apa yang terjadi denganku di masa lalu." jawab Lia. Bima terdiam, jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.
"Lalu Adi menceritakan semuanya padaku..." lanjut Lia.
"Kak Adi menceritakan semuanya padamu?" ucap Bima tak percaya, ia terlihat gusar. Lia menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa dia juga memberitahu siapa saja pelakunya?" tanya Bima. Lia tersentak.
"Apa dia mengetahui siapa saja pelakunya?" ucap Lia balik bertanya. Pertanyaan Lia itu membuat Bima sedikit lebih tenang, karena pertanyaan itu membuktikan kalau dokter Adi tidak memberitahu Lia siapa yang melakukannya.
"Ee.. mungkin dia tidak tahu!" tukas Bima.
"Kalau kamu?" tanya Lia. Bima tersentak.
"Apa kamu tahu siapa pelakunya?" Lia memperjelas pertanyaannya.
__ADS_1
"Ee.. pelakunya tetangga kita, kak!" jawab Bima.
"Hah?!" Lia tampak sangat terkejut.
"Maksudku tetangga di rumah lama kita, bukan di sini!" terang Bima.
"Makanya kita pindah ke rumah ini karena bapak dan ibu tidak mau kak Lia bertemu dengan mereka lagi." lanjutnya.
"Kenapa mereka tega melakukan hal sejahat itu padaku?" tanya Lia. Ekspresi wajahnya mulai terlihat murung.
"Karena kakak sangat cantik dan baik, mereka menyukai kak Lia." jawab Bima pelan. Sejenak ia menatap kedua mata kakaknya yang tampak berkaca-kaca itu, seketika perasaan bersalahnya yang dulu kembali muncul. Bima tertunduk.
"Bagaimana keadaanku saat itu?" tanya Lia.
"Apa aku sangat depresi saat itu sehingga aku harus di rawat di rumah sakit jiwa?" lanjutnya. Bima menganggukkan kepalanya pelan.
"Kak Lia sering mengalami kejang dan..." Kata-kata Bima terhenti, ia merasa ragu akan melanjutkannya.
"Apa yang terjadi?" desak Lia. Lia menatap Bima dengan seksama, ia sangat menantikan jawaban Bima.
"Kakak pernah melukai para pelakunya." ungkap Bima akhirnya. Lia tampak sangat terkejut mendengar ucapan Bima itu, seketika ia mengingat bayangan ketika ia ke rumah sakit bersama suaminya beberapa waktu lalu, saat itu terlintas di benaknya bayangan ketika tangannya penuh dengan darah dari seorang pria yang ternyata adalah pelaku pelecehannya.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Lia. Bima menghela nafasnya perlahan.
"Semua pelakunya mendapat hukuman penjara, kak." jawab Bima.
"Syukurlah!" ucap Lia pelan sambil menghela nafasnya. Bima menatap kedua mata kakaknya itu dengan seksama, ia benar-benar merasa bersalah kembali pada Lia.
"Emm.. kamu tahu Felix?" tanya Lia tiba-tiba. Bima tersentak.
"Fe.. Felix?" Bima terlihat bingung, ia bingung bukan karena tidak mengenal Felix tetapi ia bingung mengapa Lia tiba-tiba saja menanyakan tentang Felix.
"Felix mantan atasan kak Lia itu?" ucap Bima balik bertanya. Lia menganggukkan kepalanya. Entah mengapa Bima merasa ada sesuatu yang aneh dengan pertanyaan Lia.
__ADS_1
"Seperti apa orangnya?" tanya Lia.
...