
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau telepon itu tidak terlalu penting, kamu kan belum berbicara dengan orang yang meneleponmu itu?!" tukas Lia. Dokter Adi mu
lai gelagapan, ia mulai bingung akan menjawab apa.
"Aku kan akan segera berangkat ke rumah sakit, jadi lebih baik nanti berbicara langsung saja ketika kami bertemu di rumah sakit." terang dokter Adi.
"Oh!" sahut Lia.
"Kalau begitu aku berangkat dulu ya!" pamit dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya, tapi di wajahnya ia masih memasang raut wajah curiga.
Lia berdiri di depan pintu rumahnya sampai mobil suaminya itu melaju dan meninggalkan rumah. Ketika hendak masuk ke dalam rumahnya, Lia menghela nafasnya dengan kasar.
"Pasti dari wanita itu!" gumamnya.
"Dia mencoba menipuku seperti anak kecil! Dasar bodoh!" gerutu Lia sambil menutup pintu rumahnya dan ketika ia berbalik badan, tiba-tiba saja perut bagian bawahnya terasa sangat sakit.
"Aargghh!" erang Lia sambil memegangi perutnya. Karena rasa sakit yang amat kuat hingga membuat Lia terduduk di lantai rumahnya, air matanya pun mengalir ke pipinya menunjukkan betapa menyakitkan rasa sakit di perutnya itu.
Lia mencoba mengusap-usap perutnya untuk mengurangi rasa sakit di perutnya, ketika ia mengusap bagian dari perutnya yang terasa sakit itu, tiba-tiba saja sebuah bayangan terlintas di benaknya. Dalam bayangan itu, ia melihat dirinya yang sedang tergeletak di sebuah jalan beraspal sambil memegangi perutnya. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang ketika ia melihat pakaiannya dipenuhi darah, terutama pada bagian bawahnya, dan tangisnya pun meledak ketika ia menyaksikan dalam bayangannya itu bahwa dirinya dengan suara lirih memohon-mohon pada orang yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
"Tolong.. tolong selamatkan bayiku!"
...
"Dok, apa dokter sudah mendengar kabar terbaru?" tanya suster Indah sesaat setelah dirinya dan dokter Adi keluar dari kamar 208.
"Kabar tentang apa?" tanya dokter Adi sambil membereskan berkas pemeriksaan milik pasiennya itu dan menyerahkan kepada suster Indah.
"Suster Rina." jawab suster Indah.
"Oh!" sahut dokter Adi.
"Apa dia benar-benar akan kembali ke rumah sakit ini, dok?" tanya suster Indah penasaran, lagi-lagi dokter Adi hanya menjawab pertanyaan suster Indah dengan sebuah anggukkan.
"Bagaimana mungkin rumah sakit bisa menerima kembali orang bermasalah sepertinya?!" protes suster Indah.
"Pihak rumah sakit tidak tahu apa yang terjadi dan yang dilakukannya." tukas dokter Adi.
"Pantas saja! Seharusnya rumah sakit tidak perlu menerimanya lagi bekerja di sini!" gerutu suster Indah.
__ADS_1
"Bagaimana kalau dia bertindak jahat lagi pada pasien di sini?" lanjutnya.
"Apa kita perlu melakukan protes pada pihak rumah sakit dok?" tambah suster Indah.
"Biarkan saja, mungkin ini kesempatan kedua untuk Rina bisa memperbaiki kesalahannya dulu." ucap dokter Adi. Suster Indah tersentak mendengar respon dari atasannya itu.
"Lagipula sebenarnya dia kan bekerja dengan baik sebelumnya, hanya saja saat itu ada kesalah pahaman yang membuat dia bertindak jahat seperti itu." lanjut dokter Adi. Suster Indah terdiam sejenak, ia tidak menyangka kalau dokter Adi memberikan respon yang positif seperti itu padahal ia yang merasakan perbuatan jahat dari suster Rina.
"Kalau Rina kembali ke sini, apa dokter akan mengangkatnya menjadi anggota tim dokter lagi dan menyingkirkan saya?" tanya suster Indah tiba-tiba. Suster Indah tampak murung menantikan jawaban dokter Adi itu.
"Anggota tim? Menggantikanmu?" ucap dokter Adi.
"Saya memang mengatakan kalau kinerjanya bagus dan tidak masalah kalau dia harus bekerja di sini kembali tqpi bukan berarti dia harus kembali ke tim yang sama dengan saya!" tukas dokter Adi.
"Saya benci dengan orang yang tidak melakukan pekerjaannya hingga akhir, jadi tidak mungkin saya mau bekerja dengan orang seperti itu!" lanjutnya.
"Saya pikir dokter mau memberikan kesempatan kedua juga padanya karena dulu kalian berdua adalah tim yang solid." ucap suster Indah pelan.
"Kita sudah menyelesaikan banyak pekerjaan bersama dan kita juga sudah menjadi tim yang solid jadi saya merasa belum saatnya saya mengubah anggota tim saya!" tegas dokter Adi.
__ADS_1
...