
"Maafkan aku.." ucap Lia pelan.
"Kalau bukan karena kelalaianku, kita tidak akan kehilangan putra kita." lanjutnya. Dokter Adi menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Lia! Semuanya memang sudah seharusnya terjadi seperti ini..." tukas dokter Adi.
"Hanya aku saja yang belum bisa mengikhlaskannya." lanjutnya.
"Padahal aku seorang psikiater, aku terbiasa membantu orang untuk bisa menyembuhkan lukanya tapi ketika aku terluka, aku malah bertindak kekanak-kanakan seperti ini!" sesal dokter Adi. Dokter Adi tertunduk dan akhirnya air matanya perlahan mengalir membasahi pipinya.
Lia terkejut melihat dokter Adi meneteskan air matanya, untuk pertama kalinya ia melihat suaminya seperti itu, ia bisa merasakan rasa kehilangan yang suaminya rasakan itu. Lia merangkul dan memeluk tubuh dokter Adi, dokter Adi menyandarkan kepalanya di pundak istrinya itu, air matanya pun semakin deras mengalir.
"Aku bukan ayah yang baik!" tukas dokter Adi.
"Aku bahkan tidak bisa mengalahkan perasaanku untuk bisa mengunjungi makam anakku sendiri." lanjutnya.
"Aku malah melarikan diri dari perasaan itu dan justru berusaha untuk melupakan putraku sendiri!" tambah dokter Adi.
"Aku benar-benar bukan ayah yang baik!" makinya. Lia mengusap punggung suaminya itu dengan lembut untuk menenangkannya, ia benar-benar tidak menyangka kalau sosok yang selama ini dikenalnya sebagai sosok yang kuat tapi ternyata memiliki sisi rapuhnya yang ia selalu disembunyikannya agar bisa terlihat kuat di hadapan istrinya.
"Tidak apa-apa, anak kita pasti mengerti perasaan ayahnya itu, dia pasti bisa memakluminya!" hibur Lia.
"Kamu, ayah yang sangat baik untuk Arka!" lanjutnya.
__ADS_1
"Kamu sudah mengantarkan Arka dengan baik ke tempat peristirahatannya!" Lia memeluk tubuh dokter Adi dengan lebih erat lagi.
"Maafkan aku ya..." bisik Lia dengan suara yang sangat lembut.
"Maafkan aku yang membiarkanmu menghadapi semuanya ini seorang diri." ungkapnya.
"Kamu harus merasakan kehilangan itu sendirian tanpa ada aku yang mendampingimu, dan aku malah membuat beban yang lebih berat lagi dengan hilangnya ingatanku itu." lanjut Lia. Dokter Adi menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak menyadari kalau kamu memiliki luka sedalam ini dan malah bertingkah semauku." ucap Lia lagi.
"Kamu pria yang hebat! Kamu sudah membuktikan kalau kamu bisa menjadi suami serta ayah yang baik untuk kami, keluarga kecilmu ini!" puji Lia. Ia memegang kedua pipi suaminya itu dan tersenyum lembut. Perlahan air mata harunya menetes membasahi pipinya.
"Mulai sekarang, ayo kita hadapi semua kesulitan kita bersama! Aku memang masih belum bisa mengembalikan ingatanku 100% tapi, aku berjanji akan berusaha untuk tidak merepotkanmu seperti dulu lagi!" tambah Lia.
"Sungguh?!" tanya dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
"Kamu sudah berjanji, kamu harus menepatinya!" ucap dokter Adi.
"Aku tidak akan membiarkanmu sedikit saja melanggar janjimu itu!" ancamnya. Lia tertawa kecil.
"Iya, dokter kesayanganku!" serunya sambil memegang kedua pipi suaminya itu. Dokter Adi memeluk tubuh istrinya itu dengan erat, seakan ia tidak ingin melepaskannya lagi.
"Tidak salah aku menamaimu Arka, nak!" ucap dokter Adi lembut sambil membelai batu nisan putranya itu.
__ADS_1
"Kamu memang 'penerang' di keluarga ini!" lanjutnya.
"Karenamu, kami bisa saling berdamai." tambah dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya perlahan.
"Alangkah sempurnanya kehidupan ini kalau kamu ada di sini, nak!" sambung Lia, matanya mulai tampak berkaca-kaca, dokter Adi yang menyadarinya mencoba menenangkan istrinya dengan belaian lembut di rambutnya.
"Aku memiliki suami yang mencintaiku dan putra yang sangat baik!" lanjutnya.
"Apa dia tampan?" tanya Lia tiba-tiba.
"Tentu saja! Dia persis seperti ayahnya yang tampan ini!" seru dokter Adi. Lia kembali tertawa kecil.
"Tapi kamu memang tampan, makanya aku mau menikah denganmu!" canda Lia.
"Heeiii!!" tegur dokter Adi. Mereka tampak sangat bahagia siang itu.
"Aduh!" Tiba-tiba saja Lia mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya dengan kedua tangannya.
"Ada apa sayang?" tanya dokter Adi yang terkejut melihat Lia yang tiba-tiba saja kesakitan.
"Pe.. perutku! Perutku sakit sekali!" ucap Lia sambil terus menahan rasa sakit di perutnya itu.
...
__ADS_1