
Lia duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tamunya, ia memperhatikan sekelilingnya, tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu yang berada di salah satu rak buku yang ada di ruangan itu. Ia berjalan perlahan mendekati rak buku itu dan mengambil sebuah buku yang menarik perhatiannya tadi, yang ternyata adalah sebuah album foto.
Lia membuka album foto itu perlahan dan ternyata album foto itu berisi foto pernikahannya dengan dokter Adi. Lia memperhatikan setiap foto yang ada di album itu.
"Dia tampak bahagia sekali!" gumam Lia pelan begitu ia melihat gambar dirinya di salah satu foto yang ada di album foto itu. Mata Lia terus tertuju pada foto itu. Di dalam foto itu ia terlihat sangat bahagia, wajahnya terlihat sangat cerah, dan ia merasa dirinya terlihat sangat cantik saat itu.
"Kamu sedang apa, nak?" tanya bu Tanto yang baru saja muncul dari teras rumah.
"Eh ibu!" sapa Lia.
"Aku sedang melihat-lihat ini, bu!" jawab Lia sambil menunjukkan album foto yang ada di tangannya. Bu Tanto mendekatinya dan duduk di samping Lia.
"Oh.. album pernikahanmu!" ucap bu Tanto. Lia kembali memperhatikan foto-foto di album itu.
"Kamu cantik sekali waktu itu, nak!" puji bu Tanto.
"Jadi, aku tidak cantik sekarang menurut ibu?" gerutu Lia.
"Bukan begitu! Ha.. ha.. ha.." Bu Tanto tertawa kecil mendengar gerutuan putri cantiknya itu.
__ADS_1
"Bu.." panggil Lia pelan.
"Ya?" sahut bu Tanto.
"Eemm.. apa aku sangat bahagia saat itu?" tanya Lia akhirnya. Bu Tanto tersentak mendengar pertanyaan putrinya itu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, nak?" ucap bu Tanto balik bertanya.
"Aku hanya ingin tahu, bu!" jawab Lia.
"Tentu saja kamu sangat bahagia! Lihat saja di foto itu, kamu selalu tertawa bahagia sepanjang pernikahanmu itu!" terang bu Tanto. Lia terdiam, matanya kembali tertuju pada foto-foto pernikahannya.
"Sepanjang kamu menikah dengan pak dokter, kamu tidak pernah sedikitpun mengeluh dengan pernikahanmu." lanjut bu Tanto.
"Pak dokter sangat menyayangimu, nak! Kamu juga sangat menyayangi pak dokter!" ungkap bu Tanto. Ia membelai lembut rambut putrinya itu.
"Kalau aku sangat menyayanginya, kenapa tidak ada sedikitpun perasaan sayangku padanya yang tertinggal ya bu?" tanya Lia.
"Kamu hanya belum bisa mengingatnya, nak!" tukas bu Tanto.
__ADS_1
"Kamu belum mengingatnya bukan berarti kamu tidak menyayanginya!" lanjut bu Tanto. Perlahan bu Tanto meraih tangan kiri Lia dan menggenggamnya erat.
"Perjuangan kalian untuk bisa sampai pada saat seperti sekarang ini bukan perjuangan yang mudah!" tambahnya.
"Maksud ibu?" tanya Lia.
"Bukankah hanya aku yang terlalu menyukainya dan dia tidak menyukaiku?" tukas Lia. Bu Tanto terkejut mendengar ucapan Lia.
"Aku pernah bermimpi kalau dia mencampakkanku dan kutanyakan padanya, ternyata semuanya itu benar!" ungkap Lia.
"Pak dokter bersikap seperti itu pasti ada alasannya." ucap bu Tanto. Lia menghela nafasnya dengan kasar.
"Ibu selalu saja membelanya!" gerutu Lia.
"Karena ibu tahu kalau pak dokter itu orang yang sangat baik!" ungkap bu Tanto.
"Dari tadi ibu terus memanggilnya 'pak dokter pak dokter', dia kan menantu ibu walaupun profesinya memang sebagai dokter!" protes Lia. Bu Tanto tertawa kecil.
"Ibu terbiasa memanggilnya begitu sejak kamu masih menjadi pasiennya." ungkap bu Tanto. Lia tersentak mendengar ucapan ibunya itu, jantungnya terasa seperti berhenti berdetak.
__ADS_1
"Menjadi pasiennya?" gumam Lia pelan.
...