
"Aku menangis?" ucapnya tak percaya.
"Kenapa aku menangis?" tanyanya lagi.
"Apa karena foto ini?" lanjutnya. Perasaannya menjadi semakin tak karuan.
"Apa pria ini sangat berharga untukku sampai melihat foto ini bisa membuatku menangis seperti ini?" batin Lia.
Air matanya semakin deras mengalir hingga membuat Lia kewalahan untuk menghentikannya, dadanya pun terasa semakin sesak. Lia menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan dan sejenak ia membiarkan dirinya yang tanpa bisa dikontrol itu meluapkan semua emosi yang ada dalam hatinya, meskipun ia merasa sangat bingung mengapa ia bisa menangis hingga seperti itu hanya karena melihat selembar foto lama dirinya dengan pria yang tidak dikenalnya.
"Tante..." Tiba-tiba terdengar suara Dina memanggil Lia dari belakang tubuhnya. Lia tersentak, ia segera menghapus air matanya tapi Dina sudah terlanjur menyadari kalau Lia sedang terisak saat itu.
"A.. ada apa?" tanya Lia pelan setelah ia berhasil menghentikan dan menghapus sisa-sisa tangisnya itu.
"Tante kenapa?" tanya Dina pelan, ia hendak masuk ke kamar tempat Lia berada untuk mendekati Lia tapi ia terlihat ragu karena harus memasuki kamar pribadi orang lain.
"Aku tidak apa-apa!" jawab Lia sambil berusaha tersenyum pada Dina.
"Ada yang membuat tante sedih?" tanya Dina lagi. Lia menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja! Kamu tidak perlu khawatir!" ucap Lia menenangkan Dina.
"Baiklah!" sahut Dina.
"Ee.. kalau ada sesuatu, tante bisa menceritakannya padaku. Aku, orang yang bisa tante percaya kok!" lanjutnya. Lia tertawa kecil, ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Dina.
"Ee.. Dina!" panggil Lia sesaat sebelum Dina meninggalkan kamarnya. Dina segera berbalik kembali menghadap Lia, ia kembali berdiri di pintu kamar Lia.
"Masuklah sebentar!" perintah Lia. Dina masuk ke dalam kamar itu dan duduk di samping Lia.
"Ada apa tante?" tanya Dina. Sejenak Lia hanya memperhatikan Dina.
"Kamu sudah lama mengenal keluarga ini kan?" tanya Lia pelan.
"Kamu sudah lama mengenalku kan?" ucap Lia lagi. Dina terdiam, ia ragu untuk menjawab pertanyaan Lia itu.
__ADS_1
"Apa kamu mengenal siapa orang di foto ini?" tanya Lia lagi sambil memperlihatkan foto dirinya dengan seorang pria yang tidak dikenalnya.
Dina memperhatikan foto itu dengan seksama dan ia tersentak begitu menyadari siapa saja yang ada dalam foto tersebut. Dina mengenali pria yang bersama Lia dalam foto itu tapi ia terlalu takut untuk mengungkapkannya pada Lia.
"Apa kamu mengenal pria ini?" tanya Lia. Dina terdiam, kepalanya tertunduk dan matanya terus memandangi foto itu.
"Pria ini bukan Adi kan?!" ucap Lia. Dina menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa kamu mengetahui sesuatu tentang pria ini? Atau kamu pernah melihat orang ini?" Lia mulai mencecar Dina dengan pertanyaan-pertanyaan. Dina menghela nafasnya dan mengangkat kepalanya lalu menatap Lia.
"Jangankan mengenalnya, aku bahkan tidak pernah bertemu dengan orang ini, tan!" ungkap Dina. Dina akhirnya memutuskan untuk menyembunyikan fakta bahwa ia mengetahui pria itu dari Lia. Jantungnya berdebar dengan tak karuan ketika Lia terus menatapnya seakan tak percaya dengan ucapannya barusan.
"Kamu yakin?" tanya Lia sekali lagi. Dina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Lia agar Lia bisa percaya pada ucapannya. Lia terlihat sedikit kecewa karena Dina tidak mengenali orang itu dan tidak bisa memberitahukan informasi sedikitpun tentangnya.
...
Lia membukakan pintu utama rumahnya agar dokter Adi bisa masuk ke dalam rumah. Ia terkejut melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat sangat kelelahan malam itu.
"Dina mana?" tanya dokter Adi.
Dokter Adi bergegas menemui Dina yang ada di ruang keluarga, Lia mengikutinya dari belakang.
"Dina!" panggil dokter Adi. Dina yang mendengar namanya dipanggil itu segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri dokter Adi.
"Maaf ya aku baru bisa pulang jam segini!" ucap dokter Adi. Dina tersenyum lembut.
"Tidak apa-apa, om!" tukas Dina.
"Ayo, kuantar kamu pulang!" ajak dokter Adi. Dina menganggukkan kepalanya dan segera mengambil tas sekolahnya. Perasaan Lia bertambah tak karuan melihat kedekatan dokter Adi dengan Dina, anak dari suster Rina yang sekarang menjadi rivalnya.
"Mereka seperti ayah dan anak!" batin Lia kesal.
"Tunggu! Apa mereka benar-benar ayah dan anak?" terka Lia dalam hatinya. Pikiran negatifnya mulai menguasai dirinya.
"Kamu mau ikut mengantar Dina pulang?" tanya dokter Adi. Suara dokter Adi itu memecahkan lamunan Lia dan menyadarkannya. Lia menggeleng pelan.
__ADS_1
"Baiklah!" ucap dokter Adi pelan sambil berlalu dari hadapan Lia, masih dengan ekspresi lesunya.
"Tante, aku pulang dulu ya!" pamit Dina. Lia hanya menjawab ucapan Dina itu dengan sebuah anggukkan.
...
"Om..." panggil Dina pelan.
"Ya, ada apa Din?" tanya dokter Adi.
"Tadi tante Lia menanyakan sesuatu padaku." ucap Dina. Dokter Adi terdiam sejenak, ia menatap wajah Dina yang terlihat sangat serius.
"Apa yang ditanyakannya?" tanya dokter Adi lagi. Dina menghela nafasnya.
"Tadi siang, ketika aku sedang mengerjakan tugas sekolahku, aku mendengar suara yang aneh dari kamar tante." ungkap Dina.
"Aku mendekati kamar itu dan ternyata tante Lia sedang menangis sambil menggenggam selembar foto." lanjutnya.
"Foto?" gumam dokter Adi. Dina menganggukkan kepalanya.
"Foto tante Lia bersama dengan seorang pria..." terang Dina.
"Pria di foto itu mirip dengan pria yang bekerja sama dengan mama pada saat melakukan kejahatan kepada tante Lia." ungkap Dina. Dokter Adi tersentak.
"Dari mana kamu tahu kalau pria itu mirip dengan pria yang bersama mamamu?" tanya dokter Adi.
"Tante menunjukkan fotonya padaku, om! Tante juga menanyakan apa aku mengenal pria itu." ungkap Dina. Dokter Adi terdiam.
"Tapi aku bilang kalau aku tidak mengenalnya..." lanjut Dina.
"Apa aku salah, om?" tanya Dina.
"Tidak! Kamu tidak salah!" tukas dokter Adi. Ia membelai lembut rambut ikal Dina.
"Memang lebih baik kamu menjawab seperti itu! Selanjutnya biar aku yang akan menjelaskan padanya!" tambah dokter Adi.
__ADS_1
...