Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Dua Puluh


__ADS_3

Dokter Adi duduk di salah satu kursi yang ada di luar ruang kunjungan. Perlahan ia merogoh saku celana panjangnya untuk mengeluarkan ponselnya dan sesaat kemudian ia mulai mengutak-atik ponselnya itu.


"Ttrrrrrtt.. tttrrrttt...!" Tiba-tiba saja ponselnya bergetar panjang, sebuah panggilan yang ternyata berasal dari suster Indah masuk ke ponselnya.


"Ya Ndah!" sapa dokter Adi pelan.


"Dokter!" seru suster Indah dari seberang sana.


"Kapan dokter kembali bekerja lagi?" tanyanya.


"Besok! Aku akan mulai masuk kerja kembali besok!" jawab dokter Adi.


"Syukurlah!" sahut suster Indah.


"Apa ada masalah?" tanya dokter Adi.


"Ee.." Suara suster Indah terdengar ragu.


"Katakan saja!" perintah dokter Adi.


"Begini dok, dari beberapa hari yang lalu, Ardo sering mengamuk karena dokter tidak melakukan pemeriksaan padanya dan malah digantikan oleh dokter lain." ungkap suster Indah.


"Sebenarnya para dokter di sini menyuruh kami semua untuk merahasiakannya dari dokter tapi baru saja Ardo membuat dokter Rico terluka, makanya aku berinisiatif untuk menelepon dokter karena hanya dokter yang bisa mengendalikannya!" lanjutnya.


"Maafkan saya, dok!" tambah suster Indah.


"Tidak apa-apa, Ndah! Dia pasien saya dan dia tanggung jawab saya, saya wajib mengetahui semuanya tentang dia!" ucap dokter Adi.


"Ya, dok!" sahut suster Indah.


"Kalau kamu ada kesempatan untuk menemui Ardo, sampaikan padanya kalau aku akan menemuinya besok!" pesan dokter Adi.


"Baik dok, saya akan menyampaikanya!" ucap suster Indah.

__ADS_1


"Berhati-hatilah kalau kamu sedang berada di dekatnya... " ucap dokter Adi. Belum sempat dokter Adi menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja Lia keluar dari ruang kunjungan dengan terburu-buru.


"Ayo pulang!" seru Lia. Dokter Adi terkejut melihat ekspresi wajah Lia yang tampak seperti sedang kesal.


"Kita lanjutkan lagi nanti ya, Ndah!" ucap dokter Adi dan setelah itu ia memutuskan panggilan teleponnya dengan suster Indah.


Lia menoleh ke arah dokter Adi dan menatapnya dengan tatapan yang sinis.


"Kamu sedang menelepon siapa?" tanya Lia ketus.


"A.. aku... tadi telepon dari Indah!" jawab dokter Adi. Ia terlihat kikuk menjawab pertanyaan Lia itu karena Lia terlihat aneh setelah keluar dari ruang kunjungan.


"Berapa banyak wanita yang ada di sekitarmu?" ucap Lia sinis dan kemudian berlalu dari hadapan dokter Adi.


"Apa maksudmu, Lia?" tanya dokter Adi bingung.


"Hei, Lia!" seru dokter Adi sambil berjalan cepat mengejar pujaan hatinya itu.


Dokter Adi dan Lia masuk ke dalam mobil dengan cepat, di dalam mobil, Lia masih saja terlihat kesal.


...


Lia menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia kembali teringat dengan setiap ucapan yang suster Rina katakan padanya, kata-kata yang membuatnya sangat terkejut dan kesal.


"Biar aku yang akan memberikan perasaan untuknya!" Ucapan itu memenuhi seluruh pikiran Lia.


"Kami bisa mengembalikan perasaan kami yang sempat hilang dahulu karena kamu..." lanjut suster Rina.


"Perasaan kalian?" ucap Lia tak percaya dengan kata-kata yang baru saja diucapkan suster Rina itu. Lia mulai merasa kesal mendengar ucapan-ucapan suster Rina.


"Bagaimana bisa suster membicarakan perasaan cinta dengan seorang pria yang sudah menikah?!" protes Lia.


"Wah! Sekarang kamu sudah menganggapnya sebagai suamimu?" sindir suster Rina. Lia tersentak.

__ADS_1


"Sebelumnya kamu bersikeras kalau kamu sudah tidak memiliki perasaan lagi untuk pria itu bahkan kamu meragukan kalau pria itu adalah suamimu, tapi ketika ada orang lain yang akan memberikannya perasaan yang seharusnya dia dapatkan darimu, seketika kamu langsung emosi dan mengklaim kalau pria itu sudah menikah denganmu. Aneh!" ejek suster Rina. Ia memberikan senyum sinisnya pada Lia.


Jantung Lia berdebar dengan sangat kencang, seketika amarahnya pun meluap-luap pada satu-satunya orang yang tersisa dalam ingatannya itu. Ia tidak menduga kalau suster Rina yang sangat ingin ditemuinya itu malah mengatakan hal-hal seperti itu.


"Apa kamu takut kehilangan pria itu?" celetuk suster Rina tiba-tiba. Pertanyaan suster Rina itu membuat Lia tersentak.


"Apa kamu takut kalau pria yang menolongmu dal berbagai hal itu meninghilang dari hidupmu?" lanjut suster Rina. Ucapannya itu benar-benar memancing emosi Lia.


Lia bangkit dari tempat duduknya sambil menghentakkan tangannya di meja. Ia menatap suster Rina dengan tatapan tajam.


"Memangnya suster yakin kalau dia akan mencintai suster lagi?" seru Lia. Suster Rina kembali tersenyum sinis ada Lia.


"Aku yakin!" jawab suster Rina. Lia terkejut dengan jawaban suster Rina itu.


"Karena dulu kamu merebutnya dariku dengan cara menggodanya, tapi sekarang kulihat kamu sudah tidak bisa melakukan hal itu lagi!" ungkap suster Rina. Lia terdiam mendengar ucapan suster Rina yang benar-benar tidak terduga itu.


"Apa benar kalau aku merebut pria itu darinya?" tanya Lia dalam hati.


"Mau kuingatkan bagaimana kamu menggoda Adi?" tanya suster Rina. Lia terdiam dan hanya terus menatap suster Rina.


"Kamu menggodanya dengan bibirmu!" ungkap suster Rina. Lia terlihat sangat terkejut.


"Kamu pergi ke rumahnya dan menciumi bibirnya hingga membuatnya terpikat denganmu, padahal saat itu aku dan Adi akan segera bertunangan." lanjut suster Rina.


"Ti.. tidak mungkin!" ucap Lia tidak percaya, ia kembali menjatuhkan tubuhnya ke kursi.


"Kamu bisa mengkonfirmasinya secara langsung pada Adi!" tukas suster Rina. Lia terdiam, ia tampak tidak bisa menerima semua perkataan suster Rina itu.


"A.. apa mungkin aku melakukan perbuatan serendah itu?" tanya Lia dalak hatinya.


"Kamu tidak lupa siapa dirimu kan, Lia?" tanya suster Rina lagi. Lia terlihat bingung, ia tidak mengerti dengan pertanyaan suster Rina.


"Kamu hanyalah seorang gadis yang berasal dari perkampungan kumuh, bagaimana mungkin pria dari kasta yang tinggi seperti Adi bisa jatuh cinta dengan mudahnya pada wanita sepertimu kalau tidak dengan cara curang seperti itu!" ucap suster Rina dengan suara berbisik. Lia merasa sangat shock dengan ucapan suster Rina itu, ia menatap kedua mata suster Rina dengan seksama seakan berharap kalau suster Rina hanya sedang bercanda padanya, tapi ekspresi wajah suster Rina terlihat sangat serius.

__ADS_1


...


__ADS_2