Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Sembilan Belas


__ADS_3

"Kamu lama sekali!" gerutu Lia begitu dokter Adi membuka pintu mobil yang ada di sampingnya.


"Maaf!" ucap dokter Adi sambil tersenyum lembut pada Lia. Lia keluar dari mobil itu dan mulai mengikuti langkah dokter Adi memasuki kantor polisi.


"Banyak yang harus diurus sebelum melakukan kunjungan di sini!" terang dokter Adi.


Dokter Adi menemani Lia menuju ke ruang kunjungan. Lia masih terlihat sangat bingung mengapa ia harus menemui satu-satunya orang yabg tertinggal dalam ingatannya di tempat yang sangat mengerikan baginya itu. Dokter Adi membukakan pintu ruangan itu untuk istrinya tercinta, Lia terlihat sangat terkejut begitu melihat orang yang dirindukannya berada di dalam ruangan itu, namun berada di balik kaca pembatas.


"Suster!" jerit Lia histeris sambil melangkah cepat ke arah suster Rina. Suster Rina tersenyum lembut pada Lia, ia terlihat sedikit kikuk karena teringat dengan hubungan di antara mereka berdua yang sebenarnya tidak baik-baik saja.


Lia duduk di kursi yang berhadapan dengan suster Rina, sementara itu dokter Adi berdiri di samping Lia. Lia memperhatikan suster Rina dengan seksama, ia masih merasa tidak percaya karena harus bertemu satu-satunya orang yang dikenalnya di tempat menakutkan seperti ini.


"Suster mengapa bisa berada di tempat ini?" tanya Lia, suaranya terdengar bergetar.


"A.. aku.." Suster Rina merasa bingung akan menjawab pertanyaan Lia seperti apa, ia melirik ke arah dokter Adi untuk meminta dokter Adi membantunya menjawab pertanyaan Lia itu. Lia tersentak, ia menoleh ke arah dokter Adi. Ia baru tersadar kalau suami yang tidak dikenalinya itu bersamanya di ruang kunjungan.


"Bisakah kamu membiarkan kami berbicara berdua?" pinta Lia tiba-tiba. Dokter Adi dan suster Rina yang mendengar permintaan Lia itu terkejut.


"Aku ingin berbicara berdua saja dengan suster!" terang Lia.


"He eh!" Dokter Adi terlihat kikuk, ia benar-benar tidak menyangka kalau wanita kesayangannya itu akan bersikap seperti itu padanya. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.


"Baiklah! Aku menunggumu di luar!" ucapnya pelan dan tak lama kemudian ia melangkah perlahan keluar dari ruang kunjungan itu.


Lia memperhatikan dokter Adi sampai dokter Adi benar-benar keluar dari ruangan itu dan menutup pintu ruangan dengan rapat. Lia kembali memposisikan duduknya seperti sedia kala.


"Adi benar! Kamu terlihat sangat berbeda!" ucap suster Rina.


"A.. Adi?" Lia tampak bingung. Suster Rina tersentak.

__ADS_1


"Kamu juga tidak ingat nama suamimu?" tanya suster Rina.


"Oh, jadi namanya Adi!" ucap Lia pelan.


"Aku tidak bisa mengingat apa-apa, sus! Aku hanya mengingat suster!" terang Lia. Kepalanya tertunduk dan ia terlihat sedih.


"Kamu hanya mengingatku?" tanya suster Rina. Lia mengangguk pelan.


"Sejauh apa kamu mengingatku?" tanya suster Rina lagi. Lia mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata suster Rina dengan seksama, untuk beberapa saat ia hanya terdiam tanpa berkata apa-apa, ia terlihat seperti sedang mengingat apa saja tentang wanita yang ada di hadapannya itu.


"A.. aku" gumam Lia pelan. Suster Rina menatap Lia dan menantikan jawabannya.


"Aku hanya tahu kalau suster yang merawatku ketika aku sakit." ungkap Lia akhirnya.


"Ketika aku merawatmu, apa kamu ingat sakit apa yang sedang kamu derita itu?" tanya suster Rina. Lia kembali terdiam tapi sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan. Suster Rina menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menghela nafasnya perlahan.


"Bisakah suster memberi tahuku semuanya? Tentang apa yang terjadi pada hidupku di masa lalu, sakit apa yang aku derita, bagaimana caraku hidup, dan eee... apa benar pria tadi itu suamiku?" pinta Lia. Ia menatap suster Rina dengan seksama, suster Rina pun menatap Lia dengan seksama, sejenak mereka hanya saling memandang tanpa berkata apa-apa.


...


"Kamu yakin tidak ada sedikitpun perasaan untuknya?" tanya suster Rina.


"Iya, sus! Sungguh!" jawab Lia.


"Apa jantungmu tidak pernah berdebar-debar ketika bersamanya?" tanya suster Rina lagi. Lia terdiam sejenak.


"Pernah beberapa kali ketika pria itu bersikap manis padaku, tapi aku malah merasa tidak nyaman dengan sikapnya itu! Aku malah merasa risih dan ingin marah padanya!" ungkap Lia pelan.


"Loh?! Kenapa begitu?" tanya suster Rina bingung.

__ADS_1


"Bukankah semua wanita akan merasa sangat senang kalau diperlakukan manis oleh seorang pria?" tukas suster Rina.


"Itulah yang membuatku bingung, sus!" ucap Lia.


"Apa menurutmu dia kurang tampan?" tanya suster Rina. Lia terkejut mendengar pertanyaan suster Rina itu.


"Dia dokter yang paling tampan di rumah sakit tempat dia bekerja loh?!" ungkap suster Rina. Ucapan suster Rina itu membuat Lia tersentak, ia menatap suster Rina dengan seksama.


"Se.. sepertinya suster sangat mengenalnya!" ucap Lia pelan. Suster Rina tersenyum lebar, perlahan ia mencondongkan tubuhnya ke arah Lia.


"Aku mengenalnya jauh lebih dulu daripada kamu." ucapnya dengan suara berbisik. Jantung Lia seketika berdebar kencang.


"A.. apa suster adalah teman dekatnya?" tanya Lia pelan. Suster Rina menggelengkan kepalanya pelan.


"Lalu?" Lia terlihat sangat penasaran.


"Aku mantan kekasihnya selama belasan tahun..." jawab suster Rina pelan. Ucapan suster Rina itu membuat Lia sangat terkejut, debaran jantungnya terasa lebih cepat lagi, bahkan kini membuat dadanya terasa sesak.


"Lalu kamu datang dan merebutnya dariku." lanjut suster Rina. Lia tersentak, ditatapnya kedua mata suster Rina itu dengan seksama. Ia berharap kalau suster Rina sedang bercanda, tapi wajah suster Rina terlihat sangat serius.


Suster Rina kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menghela nafasnya perlahan. Sejenak ia menatap wajah Lia yang menampilkan ekspresi kikuk.


"Dalam beberapa bulan lagi aku akan menyelesaikan masa hukumanku di tempat ini." ucap suster Rina pelan.


"Kalau memang kamu tidak lagi memiliki perasaan untuknya, setelah aku bebas, bolehkah aku mengambilnya kembali?" pinta suster Rina.


"Hah?!" Lia sangat terkejut, ia tidak menyangka kalau suster Rina akan mengucapkan hal itu.


"Dulu dia milikku, tapi kamu mengambilnya, dan sekarang kamu bilang kamu sudah tidak memiliki perasaan untuknya, kalau begitu biarkan aku mengambilnya kembali!" lanjut suster Rina.

__ADS_1


"Biar aku yang akan memberikan perasaan untuknya!" tambahnya. Lia terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya terus menatap wajah suster Rina.


...


__ADS_2