
"Trrrttt.. ttrrrttt!!" Ponsel dokter Adi bergetar panjang sebagai tanda bahwa ada panggilan masuk, dokter Adi segera merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya itu dan melihat siapa yang meneleponnya.
"Rina!" gumamnya dalam hati begitu mengetahui kalau yang menelepon ponselnya itu adalah suster Rina.
"Siapa yang menelepon?" Dokter Adi tersentak, tiba-tiba terdengar suara Lia dari belakang tubuhnya. Dengan cepat ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Siapa yang meneleponmu sepagi ini?" ulang Lia.
"Dari rumah sakit." jawab dokter Adi, ia tidak bisa memberi tahu Lia kalau suster Rina-lah yang meneleponnya karena Lia pasti akan murka.
"Kalau dari rumah sakit kenapa tidak kamu terima?" tanya Lia lagi, ia menatap suaminya itu dengan curiga.
"Tidak apa-apa, tidak terlalu penting!" jawab dokter Adi.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau telepon itu tidak terlalu penting, kamu kan belum berbicara dengan orang yang meneleponmu itu?!" tukas Lia. Dokter Adi mulai gelagapan, ia mulai bingung akan menjawab apa.
"Aku kan akan segera berangkat ke rumah sakit, jadi lebih baik nanti berbicara langsung saja ketika kami bertemu di rumah sakit." terang dokter Adi.
"Oh!" sahut Lia.
"Kalau begitu aku berangkat dulu ya!" pamit dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya, tapi di wajahnya ia masih memasang raut wajah curiga.
"Hash!" Dokter Adi menghela nafasnya dengan kasar begitu ia sudah berada di dalam mobilnya, dengan cepat ia melajukan mobilnya itu.
Ponsel dokter Adi kembali bergetar panjang dan ternyata ada sebuah panggilan masuk lagi dari mantan kekasihnya itu. Sejenak dokter Adi hanya menatap layar ponselnya yang menampilkan nama suster Rina, tapi akhirnya ia memutuskan untuk menerima panggikan masuk itu.
__ADS_1
"Halo?" sapanya pelan sambil terus mengemudikan mobilnya dengan cepat.
"Akhirnya kamu mau menerima telepon dariku juga!" seru suster Rina dari seberang sana.
"He.. he.." Dokter Adi tertawa kikuk.
"Kalian baik-baik saja, kan?!" tanya suster Rina.
"Ya, kami baik-baik saja!" jawab dokter Adi.
"Sudah hampir sebulan aku tidak ada kabar dari kalian." tukas suster Rina.
"Ya, kami sedang sedikit sibuk jadi tidak bisa menghubungimu." ucap dokter Adi beralasan.
"Kalian sibuk?" gumam suster Rina pelan.
"Hah? Eh.." Dokter Adi kembali kikuk karena terkaan suster Rina itu sangat tepat.
"Aku ingin mengabarkan kalau rumah sakit menerimaku kembali bekerja." terang suster Rina.
"Hah?!" Dokter Adi tersentak mendengar ucapan mantan kekasihnya itu.
"Ya! Aku sudah memberitahumu kan kalau aku kembali melamar di rumah sakit?!" ucap suster Rina.
"Ya!"
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu pihak rumah sakit mengajakku melakukan interview dan ternyata mereka mau menerimaku kembali bekerja di sana." ungkap suster Rina.
"Oh begitu." respon dokter Adi.
"Oh begitu? Hanya seperti itu tanggapanmu?" protes suster Rina.
"Eee.."
"Kamu tidak mau memberiku ucapan selamat?" tanya wanita bertubuh semampai itu.
"Ah iya, selamat ya!" ucap dokter Adi.
"Terdengar sangat terpaksa!" tukas suster Rina.
"Tidak! Aku tidak mengucapkannya dengan terpaksa! Sungguh!" seru dokter Adi meyakinkan suster Rina.
"Oh oke, baiklah! Terima kasih!" sahut suster Rina.
"Jadi, kapan kamu mulai bekerja lagi di rumah sakit?" tanya dokter Adi.
"Minggu depan!" jawab suster Rina.
"Hmm.. oke!" sahut dokter Adi.
Dokter Adi memutus panggilan dengan suster Rina setelah pembicaraannya selesai dan ia pun sudah sampai di rumah sakit. Setelah menempatkan mobilnya di pelataran parkir rumah sakit, dokter Adi tidak langsung keluar dari mobilnya, ia tampak termenung sejenak.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" gumamnya pelan.
"Lia memintaku menjauhi wanita itu tapi sekarang wanita itu justru berada semakin dekat." lanjutnya. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan