Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Lima Puluh Delapan


__ADS_3

"Oh iya, ada yang ingin kusampaikan padamu." ucap dokter Adi ketika Lia mulai menyantap makanan yang dipesannya. Lia mengangkat kepalanya dan menatap wajah suaminya itu.


"Minggu depan Rina keluar dari penjara." ungkap dokter Adi.


"Rina?" gumam Lia bingung.


"Iya Rina! Suster Rina!" terang dokter Adi. Mendengar nama suster Rina disebut, ekspresi wajah Lia langsung berubah, bahkan ia menghentikan makannya.


"Lalu, apa urusannya denganku?" tanya Lia, ia terlihat sedikit kesal. Dokter Adi terkejut melihat reaksi Lia itu.


"Bukankah dia orang yang ingin kamu temui dulu? Bukankah hubungan kalian sangat dekat sampai-sampai hanya dia yang tertinggal diingatanmu?" ucap dokter Adi.


"Itu dulu! Tidak dengan sekarang!" seru Lia. Dokter Adi menatap curiga pada Lia.


"Berarti benar kalau waktu itu terjadi sesuatu di antara kalian?!" terka dokter Adi.


"Tidak! Tidak terjadi apa-apa!" bantah Lia.


"Kalau tidak terjadi apa-apa, kamu mau ikut menjemput kepulangan Rina?" ajak dokter Adi.


"Menjemput? Kamu mau menjemputnya?" tanya Lia, ia terlihat sangat terkejut.

__ADS_1


"Mama dan Dina yang ingin menjemputnya, aku hanya mengantarkan mereka." terang dokter Adi.


"Kenapa harus kamu yang mengantarkan? Apa tidak ada yang bisa mengantarkan mereka?" protes Lia, ia terlihat tidak terima kalau suaminya menjemput mantan kekasihnya itu. Dokter Adi menatap Lia dengan seksama.


"Papa tidak bisa ikut mama ke sini karena ada urusan pekerjaan. Selain papa dan aku, tidak ada lagi yang bisa mengendarai mobil, Lia!" jelas dokter Adi. Lia terdiam sejenak, ia tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ah.. Bima! Bima bisa mengendarai mobil, kan?!" seru Lia.


"Jadwal keluar Rina itu di jam kerja, Bima pasti harus masuk kerja." tukas dokter Adi.


"Bima saja masuk kerja, kenapa kamu tidak masuk kerja?" protes Lia lagi.


"Aku bisa mengatur jam bekerjaku, Lia!" terang dokter Adi. Lia menatap dokter Adi dengan tatapan tajam, terlihat sekali kalau ia sedang merasa sangat kesal.


"Mama dan Dina yang ingin menjemput suster Rina atau kamu yang memang sudah menantikan waktu untuk bisa bertemu dengan mantan kekasihmu itu di luar penjara?" tuduhnya. Dokter Adi sangat terkejut mendengar ucapan Lia itu, ia tidak menyangka Lia akan menuduhnya seperti itu.


"Kalau bukan karena mama yang meminta, aku..."


"Pembohong!" potong Lia.


"Kamu memang sudah lama merindukan mantan pujaan hatimu itu, kan?!" tuduh Lia lagi.

__ADS_1


"Lagi pula, kenapa sih keluargamu begitu dekat dengan dia?" lanjutnya.


"Apa orang tuamu sangat menyayangi dia?" tanya Lia.


"Bukan begitu, Lia!" bantah dokter Adi.


"Atau yang seharusnya menikah denganmu itu dia bukan aku?!" terka Lia. Ucapan Lia kembali membuat dokter Adi benar-benar terkejut. Ia menatap kedua mata Lia dengan seksama dan perlahan dokter Adi menghela nafasnya.


"Ada apa denganmu sebenarnya, Lia?" tanya dokter Adi pelan. Lia tidak menjawab pertanyaan suaminya itu, ia hanya terus saja memberikan tatapan tajam pada dokter Adi. Nafasnya terdengar menderu dan tak beraturan.


"Kamu cemburu?" terka dokter Adi. Lia tersentak.


"Tidak!" bantahnya. Meskipun membantah tapi wajah Lia memerah.


"Katakan saja kalau memang kamu cemburu!" ucap dokter Adi dengan suara berbisik.


"Kalau aku bilang tidak ya tidak!" bantah Lia lagi. Ia memalingkan pandangannya dari wajah suaminya itu. Perlahan sebuah sentuhan lembut terasa di jemari tangan kanannya yang berada di meja. Lia menoleh kembali ke arah suaminya itu dan didapatinya dokter Adi sedang tersenyum manis sambil menatapnya. Seketika jantung Lia berdebar-debar.


"Kalau kamu cemburu, ayo temani aku menjemput Rina!" ajak dokter Adi lembut.


"Jagai aku agar tidak direbut kembali oleh mantan kekasihku itu!" tambahnya. Lia menghela nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


...


__ADS_2