Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)

Cinta Dokter (Dokter Cinta Season 2)
#Enam Belas


__ADS_3

"Kamu mau ke mana?" tanya dokter Adi tepat sebelum tangan Lia menyentuh handle pintu itu. Lia membalikkan badannya menghadap dokter Adi.


"Aku mau melihat ke balik pintu ini." jawab Lia polos. Dokter Adi tersentak, ia menatap kedua mata Lia dengan seksama hingga membuat Lia bingung.


"Ada apa?" tanya Lia penasaran.


"Apa kamu mengingat sesuatu?" tanya dokter Adi, ia terlihat seperti mengharapkan sesuatu.


"Mengingat apa?" ucap Lia balik bertanya. Sejenak mereka hanya saling menatap tanpa berkata apa-apa.


"Kamu membuatku penasaran!" seru Lia sambil membalikkan tubuhnya kembali dan membuka pintu itu dengan cepat. Seketika jantung Lia berdebar kencang, matanya terbuka lebar.


Dokter Adi melangkah perlahan mendekati istrinya yang tampak terdiam terpaku setelah membuka pintu itu. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang.


"Apa sesuatu muncul dipikiranmu?" tanya dokter Adi pelan. Ia berharap sedikit ingatan Lia muncul setelah melihat apa yang ada di balik pintu itu.


"Woah!" seru Lia takjub. Dokter Adi tersentak mendengar ucapan Lia itu, ia bingung dengan reaksi Lia.


"Bagus sekali pekarangan belakang rumahmu!" puji Lia. Dokter Adi terkejut.


"Apa kamu tidak mengingat sesuatu dengan tempat ini?" tanya dokter Adi. Lia menggelengkan kepalanya sambil melangkah ke pekarangan belakang rumah yang dulu menjadi tempat favoritnya. Dokter Adi menghela nafasnya pelan.


"Tapi jantungku berdebar-debar berada di sini!" seru Lia.


"Aku suka tempat ini!" ungkapnya. Lia terlihat senang sekali.


"Apa kamu tidak mengingat sesuatu dari tempat ini?" tanya dokter Adi.


"Apa pernah terjadi sesuatu di antara kita di tempat ini?" ucap Lia balik bertanya. Ia menatap dokter Adi dengan seksama. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.

__ADS_1


"Sama seperti saat ini!" ucapnya pelan.


"Dulu, kamu juga sangat menyukai tempat ini!" ungkap dokter Adi.


"Tempat ini adalah tempat favoritmu!" tambahnya. Lia memperhatikan setiap sudut pekarangan belakang itu.


"Aku tidak tahu bagaimana perasaanku dulu, tapi jantungku berdebar-debar ketika pertama kali melihat tempat ini!" ungkap Lia.


"Aku sungguh menyukai tempat ini!" akunya.


"Tempat ini tidak terlalu istimewa sebenarnya untukku, tapi kamu yang membuat tempat ini menjadi sangat istimewa!" ucap dokter Adi pelan.


"Kamu bisa menghabiskan waktu seharian untuk membenahi tempat ini, membersihkan, menanaminya dengan bunga-bunga dan menghiasnya dengan berbagai perabotan!" lanjutnya.


"Oh ya?!" ucap Lia tak percaya. Dokter Adi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut pada istrinya itu.


Lia dan dokter Adi menikmati sarapan mereka di pekarangan belakang rumahnya itu. Lia terlihat begitu menikmati acara sarapannya di pekarangan belakang rumah dan hal itu membuat dokter Adi sangat bahagia.


"Oh iya!" seru dokter Adi tiba-tiba, ia teringat sesuatu.


"Ada apa?" tanya Lia yang terkejut dengan ucapan dokter Adi barusan.


"Sepertinya besok aku harus mulai bekerja kembali karena pekerjaanku sudah banyak yang tertunda..." ungkap dokter Adi pelan. Lia menganggukkan kepalanya.


"Bekerja saja seperti sebelumnya!" ucap Lia.


"Tapi..."


"Aku akan baik-baik saja di rumah, kamu tidak perlu terlalu khawatir!" potong Lia.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi jauh-jauh dari rumah ini karena aku belum ingat jalan-jalan di sini, jadi kamu tidak perlu khawatir!" tambahnya. Dokter Adi menghela nafasnya perlahan.


"Kalau ada apa-apa, kamu harus segera menghubungiku!" pinta dokter Adi. Lia menganggukkan kepalanya.


"Tapi..." Lia menatap dokter Adi, ia terlihat seperti akan mengucapkan sesuatu tapi ragu.


"Ada apa?" tanya dokter Adi.


"Aku belum tahu apa pekerjaanmu." ucap Lia pelan.


"Oh! Aku seorang dokter, lebih tepatnya psikiater!" jawab dokter Adi.


"Dokter? Psikiater?" gumam Lia pelan. Tiba-tiba ia teringat dengan mimpi anehnya semalam. Mimpi yang membawanya ke sebuah ruangan berwarna putih seperti ruangan seorang dokter.


"Ee..."


"Ayo kita bersiap-siap! Sebentar lagi waktu kunjungannya!" ucap dokter Adi sambil mengulurkan tangannya hendak mengambil piring kotor yang ada di tangan Lia, bukannya memberikan piringnya, Lia malah balik mengulurkan tangannya dan merebut piring kotor yang berada di tangan dokter Adi.


"Kamu bersiap-siap saja terlebih dahulu, biar aku yang membereskan peralatan makannya!" ucap Lia. Dokter Adi dan Lia beranjak dari tempat mereka dan mulai melakukan aktivitas mereka masing-masing.


Lia membersihkan semua peralatan yang digunakan untuk makanan mereka tadi. Meskipun ia terlihat sibuk dengan acara mencucinya, tapi pikiran Lia masih dipenuhi dengan pertanyaan 'apakah dokter Adi-lah pria yang ada dalam mimpinya semalam?'Lia ingin sekali memastikannya pada dokter Adi tapi ia bingung bagaimana harus mengkonfirmasikan mimpinya itu pada suami yang belum berhasil diingatnya itu.


Lia mengeringkan kedua tangannya yang basah itu dengan sebuah lap yang tergantung di samping wastafel, lalu kemudian bergegas menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi mengunjungi satu-satunya orang yang tertinggal dalam ingatannya, yaitu suster Rina.


Lia melangkah dengan langkah yang cepat, ia terlihat sangat riang karena akan mengunjungi sahabatnya. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamarnya yang tertutup lalu ia bergegas membuka pintu itu dan...


"Aaaaa!!!!" Lia menjerit dengan keras begitu melihat sesuatu yang ada di balik pintu kamarnya itu.


...

__ADS_1


__ADS_2